Penggunaan Bahasa Sederhana dalam Menulis Siaran Pers

RAKSASA mesin pencari google sangat mengerti pentingnya sebuah kesederhanaan. Ini bisa dilihat dari tampilan depan yang hanya memuat kolom search engine dengan tulisan “google” di atasnya serta beberapa fitur lain dari google di sudut kanan atas. Sisanya hanya layar berwarna putih yang kosong. Bandingkan dengan pesaing terdekatnya yahoo yang tampilan depannya sangat “ramai”. Mulai dari search engine, deretan headline berita online, messenger, photo sharing, hingga prakiraan cuaca pun ada di halaman depan.

 Ibaratnya, yahoo mencoba menyajikan semua yang dibutuhkan manusia di halaman depan. Namun yang terjadi, dengan kesederhanaannya, saat ini google adalah mesin pencari nomor satu di dunia, jauh meninggalkan pesaing terdekatnya yahoo. Logo google pun sangat sederhana, hanya tulisan “google” yang diberi warna di beberapa hurufnya, itu saja. Jeff Jarvis dalam bukunya What Would Google Do? Menulis bahwa kesuksesan google adalah karena prinsip Simple is good.

Pada awal tahun 2008, media sosial facebook mulai terkenal di Indonesia dan banyak yang mengaksesnya hingga saat ini. Sudah banyak media sosial lain yang mencoba untuk menyaingi facebook namun tetap tidak mampu menahan pesatnya perkembangan platform buatan Mark Zuckerberg ini. Namun ada satu situs microblogging yang mampu menyaingi facebook yaitu twitter.com.

Apa senjata utama dari twitter? Jawabannya adalah sederhana. Ya, twitter juga sangat menyadari pentingnya kesederhanaan untuk bersaing dengan facebook yang lebih dulu terkenal. Dalam postingan di twitter, pengguna hanya bisa menulis sebanyak 140 karakter. Apakah kemudian twitter ditinggalkan dengan keterbatasan seperti itu, ternyata tidak. Justru menjadi senjata ampuh untuk menjadi salah satu media sosial dengan trend jumlah user yang terus meningkat.

Dalam konteks dunia kehumasan atau public relation, paham kesederhaan sangat penting. Misalnya dalam membuat Siaran Pers atau press release. Press Release atau siaran pers menurut Soemirat dan Ardianto (2004) adalah informasi dalam bentuk berita yang dibuat oleh Public Relations(PR) suatu organisasi/ perusahaan yang disampaikan kepada pengelola pers/ redaksi media massa (tv, radio, media cetak, media online) untuk dipublikasikan dalam media massa tersebut.

Membuat siaran pers adalah salah satu tugas humas dalam fungsi kehumasan sebagai fungsi eksternal. Dalam membuat Siaran Pers, seorang Humas harus mampu membuatnya dengan bahasa sederhana agar mudah dimengerti oleh bagian redaksi media massa misalnya sebuah surat kabar harian.

Sebelum kita membahas pentingnya penggunaan bahasa sederhana dalam menulis siaran pers, mari kita lihat dulu pengertian bahasa sederhana. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian sederhana adalah bersahaja, tidak berlebih-lebihan, sedang (dalam arti pertengahan : tidak tinggi, tidak rendah), tidak banyak seluk-beluknya, lugas. Sedangkan bahasa adalah sistem lambang bunyi yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.

Dari dua pengertian di atas, Bahasa sederhana bisa kita artikan sebagai alat untuk berkomunikasi menyampaikan gagasan, pikiran atau konsep dengan lugas dan efektif. Kuncinya ada pada kata efektif. Pesan yang ingin kita sampaikan dapat dipahami dengan baik sesuai dengan tujuan kita dan mendapatkan feedback atau umpan balik sesuai dengan yang diharapkan.

Salah satu faktor mengapa Siaran pers harus menggunakan bahasa sederhana adalah faktor Sudut Pandang.  Perspektif Humas yang ingin beritanya dimuat dan sudut pandang media yang memuat berita tentu berbeda. Humas menginginkan apa yang ditulisnya dimuat seluruhnya, sedangkan media memiliki gaya bahasa tersendiri dan ruang yang terbatas.

Apalagi jika press release yang dikirim hanya menyangkut seremonial sebuah acara saja tanpa mencantumkan detail isi acaranya. Belum lagi poin penting yang humas anggap perlu dimuat sebagai judul, bisa jadi menurut bagian redaksi bukan angle berita yang menarik minat pembaca. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi seorang humas atau public relation officer. Dengan bahasa sederhana, siaran pers menjadi mudah dimengerti.

Lalu bagaimana membuat siaran pers dengan bahasa yang sederhana?. Setidaknya ada dua poin utama. Poin yang pertama dengan membuat siaran pers yang efektif. Humas harus mampu menyuguhkan bahasa sederhana dengan panjang paragraf yang terukur. Paragraf yang terlalu panjang akan membuat redaksi sulit untuk mencari poin-poin penting untuk dimuat.

Walaupun poin penting didapat oleh redaksi tapi belum tentu itu menjadi poin utama yang humas ingin sampaikan ke masyarakat melalui media. Paragraf yang terlalu pendek juga membuat redaksi kesulitan dalam mengembangkan berita sesuai dengan standar 5W + 1H (What, When, Why, Who, Where + How).

Secara sederhana prinsip 5W + 1H dalam sebuah berita dapat dijelaskan sebagai berikut : (What: apa yang terjadi? Where: dimana terjadinya? When: kapan peristiwa tersebut terjad? Who: siapa yang terlibat dalam peristiwa tersebut? Why: mengapa peristiwa tersebut terjadi? How: bagaimana berlangsungnya peristiwa tersebut?.

Poin yang kedua adalah dengan memuat unsur menarik dalam berita pada paragraf awal. Dari perspektif kehumasan khususnya dalam membuat siaran pers, maka beberapa unsur menarik dalam berita adalah informasi baru, unik, unsur komunitas, proksimitas, human interest, peristiwa, dan laporan bencana. Unsur menarik dalam berita penting dimuat di paragraf awal siaran pers karena hal tersebut akan memudahkan redaktur untuk mengedit jika ada paragraph yang ingin dibuang mengingat ruang yang terbatas.

Austin (1996) menjelaskan beberapa kaidah dasar yang biasa digunakan wartawan untuk menarik perhatian pembaca.  Kaidah tersebut juga berlaku ketika menulis siaran pers, beberapa di antaranya adalah memilih judul yang positif (aktif) dan bukannya pasif, paragraf pertama (lead) harus tajam dan ringkas antara 12 sampai 20 kata, usahakan agar kalimat dan paragraf pendek-pendek, hindari kata-kata panjang, serta tulislah berita berdasarkan fakta dan bukan pandangan atau opini pribadi.

Yang penting untuk diperhatikan juga adalah mengenai Kebijakan Editorial sebuah media massa. Terkait hal tersebut, Jefkins (2003) mengatakan bahwa Kebijakan Editorial termasuk salah satu hal terpenting yang harus diketahui oleh seorang praktisi humas dalam membuat siaran pers. Menurutnya Kebijakan Editorial mengungkapkan pandangan dasar dari suatu media yang dengan sendirinya akan melandasi pemilihan subjek-subjek yang akan dicetak atau yang akan diterbitkannya.

Dengan mengikuti dua poin di atas, siaran pers yang dikirimkan akan menjadi pertimbangan bagian redaksi untuk dimuat. Cantumkan identitas penulis siaran pers dan nomor kontak yang bisa dihubungi untuk memudahkan pihak redaksi berkomunikasi dengan kita jika press release yang kita kirim ingin dikembangkan . Kalau siaran pers kita dinilai sangat menarik, tidak tertutup kemungkinan beritanya akan masuk di halaman satu atau paling tidak menjadi headline halaman dalam.(*) - 05

Penulis :

Muhammad Anshor

Saat ini bertugas di RSUD Provinsi Di Sumbawa

sebagai Staf Humas

sumber gambar : funlava.com

 

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru