PMII Teropong Peluang dan Tantangan AEC

Pada pertemuan puncak ASEAN di Bali tahun 2003 para pemimpin ASEAN mendeklarasikan langkah-langkah awal menuju ASEAN Economic Community (AEC) yang direncanakan akn tercapai pada tahun 2020. AEC adalah satu dari tiga pilar utama ASEAN Community (terdiri dari ASEAN Security Community, ASEAN Economic Community, dan ASEAN Socio-Cultural Community). AEC diharapkan akan menjadi dasar bagi perdagangan barang, jasa, investasi, teknologi, dan sumber daya manusia antarnegara ASEAN.

AEC dibentuk sebagai reaksi ASEAN terhadap agresifitas Cina dan India yang sangat efektif dalam menarik investasi asing langsung (FDI). Di samping itu, Cina dan India yang berpenduduk lebih dari satu setengah milyar manusia jelas jauh lebih menarik investor Barat daripada ASEAN. AEC sangat diharapkan akan membuat ASEAN mampu menarik kembali arus investasi asing langsung yang mulai mengarah ke kedua negara raksasa tersebut.  

PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) sebagai organisasi eksternal di tataran mahasiswa yang mengusung nilai-nilai pergerakan, ke islaman, dan ke Indonesiaan, sudah saatnya menunjukkan kontribusi nyata atau sumbangsih nyata kepada negara tercinta Indonesia didalam ASEAN Economic Community 2015-2020 sebagai manifesto perwujudan nilai-nilai ke Indonesiaannya. PMII perlu melakukan analisis sektor-sektor mana yang strategis bagi PMII yang perlu untuk dimaksimalkan di ASEAN Economic Community yang sudah berada didepan mata agar organisasi gerakan yang berisikan orang-orang cendikia dari berbagai latar belakang pendidikan ini tidak hanya stagnan pada tataran diskusi, dan aksi, namun bisa bermetamorfosa pada tataran kontribusi secara internasional.

Adapun beberapa sektor yang menjadi peluang di dalam ASEAN Economic Community yaitu perdagangan barang, jasa, investasi, teknologi, dan sumber daya manusia. Dari kelima sektor tersebut sektor mana yang paling memumpuni bagi PMII harus dipetakan dari sekarang, agar ketika arus besar liberalisasi menjalar di Indonesia sebagi sumber peluang pasar terbesar di Asia Tenggara tidak hanya memposisikan PMII sebagai korban liberalisasi seperti menjadi konsumen dan penonton namun mampu menjadi aktor yang memiliki peran dan andil yang besar. Hal tersebut akan memberikan dampak yang positif bagi PMII untuk menunjukkan keseimbangan (ekuilibrium) bahwa organisasi nasional seperti PMII tidak hanya mandiri secara organisatoris namun juga mandiri secara financial.

PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) melalui PB (Pengurus Besar) harus segera memetakan sektor mana yang akan menjadi fokus PMII yang bisa menjadi peluang besar bagi PMII ketika mengadapi ASEAN Economic Community. Untuk mengimplementasikan hasil pemetaan PMII bisa menggunakan strategi sederhana dan lama yang mungkin selama ini sudah ditinggalkan dan dianggap remeh padahal tidak dapat dipungkiri ketika dilakukan dengan sistematis dan ada kontrol maka akan berdampak signifikan yaitu strategi top-down yang diteruskan ke bawah dari PKC (pengurus coordinator cabang) sampai tataran PR (Pengurus Rayon), maka secara otomatis akan ada respon dari bottom-up. Sudah saatnya PMII melakukan aksi serentak dan massif secara nasional untuk menghadapi ASEAN Economic Community, tidak hanya aksi demonstrasi yang serempak dan masiff di jalanan.

 

Mari Pangestu, “Southeast Asian Reginal And International Economic Cooperation”, dalam weatherbee, International Relations In Southeast Asia, p. 193

Denis Hew, “Southeast Asian Economies: Toward Recovery And Deeper Integratin”, Southeast Asian Affairs 2005, ISEAS, Singapore, 2005, p. 55

Cipto, Bambang, Hubungan International Di Asia Tenggara: Teropong Terhadap Dinamika, Realitas, dan Masa Depan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, p. 247.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru