Sarjana atau Besar Jana


Menjadi Sarjana adalah dambaan bagi setiap mahasiswa yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Belajar dengan kurun waktu hampir 5 tahun tentunya membuat lelah dan jenuh setiap mahasiswa. Maka dambaan yang selalu di inginkan adalah untuk secepatnya keluar dari kampus.

Memperoleh gelar seorang sarjana tentunya memiliki kebanggan tersendiri bagi setiap orang. Legitimasi dan pegakuan terhadap masyarakatnya tentu menjadi keinginan dari setiap orang termasuk mahasiswa.

Tetapi menjadi sarjana juga adalah momok yang sangat menakutkan, pasalnya banyak dari sarjanawan dan sarjanawati yang ketika mendapat gelarnya tidak tahu akan kemana selanjutnya. Jikalau kita terlahir dari background keluarga menengah ke atas tentunya tidak akan sussah untuk berfikir mau kemana dengan mengandalkan link dan jaringan keluarga mampu untuk langsung mendapatkan pekerjaan. Tetapi pemuda dan sarjanawan yang lahir dari desa terpencil akan banting tulang untuk mendapatkan pekerjaan.

Bermodalkan hanya selembar kertas bertuliskan “IJAZAH” sarjanawan dan sarjanawati ini keliling kesetiap instansi untuk mendapatkan pekerjaan yang layak yang di sandang oeh seorang sarjana. Pertanyaannya adalah apa yang salah dari sarjana?

Pertanyaan ini tentu harus kita jawab dengan melihat berbagai faktor baik internal mapun eksternal. Dari segi internal misalnya, harus kita selidiki apakah ketika masih menjadi mahasiswa hal apa yang kemudian di kerjakan? Apakah hanya duduk datang kemudian pulang tanpa memperhatikan mata kuliahnya. Ataukah ketika ujian hanya mengandalkan teman sebelahnya. Bukan itu saja faktor konsumtif ini yang membuat mahasiswa hari ini tidak pernah memikirkan hal-hal yang bisa menunjang dalam bidangnya. Mahasiswa hanya terpaku pada disiplin ilmu yang di ambil dan acuh tak acuh dengan disiplin ilmu yang lain. Sebenarnya harus kita pikirkan bahwa belum tentu tujuan itu adalah hal terakhir dalam hidup ini.

Dari segi eksternal juga dapat sangat mempengaruhi seperti banyaknya jaringan dan teman bergaul di kampus. Kenyataan yang ada adaah mahasiswa selalu menuup diri dengan semua itu dan enggan mau tahu tentang permasalahan orang lain yang dipikirkan hanya dirinya sendiri. Keberadaan jaringan dan link sangat membantu ketika menjadi seorang sarjana karena dapat menerima informasi. Hal yang dapat di lakukan adalah dengan belajar dalam organisasi.

Hari ini yang kita temukan para sarjana hanya mampu besar jana saja yakni besar omongan, tapi tidak memiliki konsep untuk melakukan. Teori yang diperoleh sangat banyak dengan didukung oleh IPK 4,00 tetapi jika tidak pernah mampu mengaplikasikannya dalam masyarakat, kesannya hanya omong kosong.

Jika mahasiswa sebagai calon sarjanawan mengisi diri dari sekarang maka sudah sangat tentu ketakutan menjadi sarjana akan tidak ada lagi dan berfikir terbalik yakni mereka yang menyiapkan lapangan kerjaan untuk masyarakatnya. 02

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru