Andai Hanya KMP dan KIH

Menonton “pertandingan” anggota DPRRI yang terhormat itu seperti menonton orang sedang balapan di sirkuit. Sekian banyak partai terbelah menjadi hanya dua partai yaitu partai Koalisi Merah Putih (KMP) dan Partai Koalisi Indonesia Hebat (kalau teman saya Astar Hadi menyebutnya “Koalisi Indonesia Hebad” pake huruf “d” di akhir kata hebat. Membaca kata Hebad saya kok jadi ingat Sinbad salah satu tokoh cerita anak-anak atau cerita seribu satu malam, saya lupa). saya tidak tahu mengapa kemudian begitu banyak partai ini berubah mengerucut macam jaje cerorot (cerorot itu kue basah yang khas Lombok, yang susah dibuka bagi mereka yang baru pertama kali mencoba memakannya. Cerorot harus mengikuti petunjuk orang yang biasa memakannya agar lebih efektif dan bisa dinikmati lebih cepat) menjadi dua kekuatan. Saya lalu berandai andai- kalo saja partai yang jumlahnya kalo tidak salah sepuluh ini berubah menjadi dua partai. Ini sangat ideal. tidak terlalu banyak orang yan gontok-gontokan.

Setidaknya jumlah partai yang sedikit, akan mengurangi biaya pencetakan kertas pada saat pemilihan umum. Biaya akan berkurang karena gambar partai hanya dua dan tentu ukuran kertas akan menjadi lebih kecil. Ukuran kertas yang menjadi lebih kecil, membuat negara menjadi lebih ringan mengeluarkan biaya cetak kertas surat suara. Bisa dipastikan uang hasil efesiensi tersebut jumlahnya bermilyar-milyar. Uang tersebut bisa dimanfaatkan untuk mengurangi dampak kemiskinan, atau subsidi bagi rakyat tidak mampu.

Dampak kedua dari berkurangnya jumlah partai adalah burkurangnya jumlah penebangan kayu hutan. Lho kok kayu ?, ya karena kertas yang digunakan untuk mencoblos tersebut bahan bakunya saat diproduksi berasal dari kayu. Hal ini bertentangan dengan prinsip-prinsip pelestarian lingkungan hidup dan pengurangan dampak pemanasan global. Produksi kerttas dalam jumlah besar merupakan salah satu penyebab dari berkurangnya jumlah ozon dan memanasnya bumi. Rantai produksi kertas, telah menyedot fosil bumi dalam jumlah berlebih mulai dari penebangan, pengangkutan, dan produksi. Jarak pengangkutan kayu dari hutan ke pabrik serta jarak pabrik dengan lokasi konsumen yang berada diberbagai tempat, telah menghabiskan energi minyak bumi yang begiu besar (laa ko jadi serius sekali). Saat ini penggunaan kertas memang sedang dikurangi.

Dampak ke tiga dari berkurangnya jumlah partai politik adalah efesiensi waktu. Waktu yang digunakan mulai dari saat verifikasi partai, hingga pengitungan suara tentu akan lebih efesien. Dengan efesiensi waktu, angaran yang digunakan bisa dikurangi. Honor-honor akan bisa ditekan. Bayangkan saja. saat perivikasi partai akan berlangsung jauh lebih cepat jika hanya dua partai. Dari dua hari bisa menjadi hanya hitungan jam. Begitu pula saat melipat kertas. Kertas yang tadinya selebar koran akan menadi setengah ukuran kertas HVS yang cukup dilipat dua kali. Para pelipat kertas akan lebih mudah dan cepat bekerja. Honor mereka bisa ditekan. Sampai pada pengitungan suara. Waktu yang digunakan oleh para pemilih untuk mencoblos, dan para anggota PPS akan berlagsung lebih cepat.  Hasilnya pun bisa diinformasikan lebih cepat.

Dampak ke empat adalah berkurangnya jumlah daa pembinaan yang diberikan kepada kelompok atau partai. Kalau pemerintah memberikan dan pembinaan satu milyar kepada satu partai, maka akan terkucur sepuluh milyar dana bagi pembinaan sepuluh partai. Kalau kita hanya memilik dua partai maka dan sepuluh milyar bisa ditekan menjadi hanya dua milyar. Yang delapan milyar jika digunakan untuk membeli kerupuk, dan dibagi-bagi kepada rakyat miskin atau panti-panti asuhan, maka mereka bisa makan kerupuk berminggu-minggu. Sekaligus melakukan pemberdayaan ekonomi dengan meningkatkan produksi para pedagang kerupuk.

Selain keempat dampak positif berkurangnya jumlah partai sebetulnya masih ada dampak positif lainnya. Tapi mungkin itu masih jauh. Rakyat kita masih “merasa” lebih butuh banyak partai. Padahal negara demokrasi terbesar pun, memilih dengan tidak banyak partai. (wan) - 05

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru