Raperda Nyongkolan, Benturkan Seniman Lokal dengan Pemerintah

Musik pengiring menggunakan musik tradisi yang berlaku secara adat, diperuntukkan untuk mengiringi prosesi Nyongkolan, ....... (BAB.III Pasal 3. Point. 4 Draft Pergub Tentang Nyongkolan)

Kasihan sekali nasib kesenian lokal kreasi baru, sebagai sebuah kesenian lokal hasil inovasi anyar seniman tradisional, jangankan menadapat apreasiasi, keberadaannya justru dibuat seakan-akan menjadi terdakwa yang harus dihukum atau dieksekusi mati agar tidak bisa hidup dan berbuat apa-apa lagi. Orang-orang yang mengaku sebagai penjaga tradisi justru berupaya memusnahkannya lewat aturan atau Perda bernama Perda Nyongkolan.

Banyak orang merasa aneh dengan Draft peraturan daerah yang kalau tak salah bertujuan menghentikan kemacetan jalan raya dan aksi tawuran tersebut. Koran ini sempat memuat pernyataan salah seorang anggota dewan dari partai pemenang pemilu, yang menyebut pemerintah Provinis NTB kurang kerjaan mengurus Nyongkolan. Belum lagi kicauan di media sosial yang menunjukkan rasa keberatan akan kemunculan peraturan tersebut.

Ale-ale, Kecimol, Esot-esot atau apapun namanya, adalah karya tradisi baru yang lahir dari sebuah proses kreatif berkesenian. Kelahiran sebuah karya seni, bukan perkara mudah. Hanya dari pengalaman bekerja senilah, orang lalu bisa melahirkan karya. Entah itu kesenian modern atau tradisi, atau campuran antara kedua-duanya. Dengan pengalaman tersebut mereka bisa mereferensi pada bermacam bentuk rasa yang terolah secara mendalam, lalu tergerak untuk melahirkan sesuatu yang baru.

Tidak sampai disitu, untuk sebuah karya mereka harus memeras otak  memikirkan banyak hal terkait karya yang dibuat. Ale-ale misalnya, sang kreator harus berfikir tentang lirik lagu, aransemen musik, peralatan yang digunakan, kostum penyanyi, kostum pemain, tata rias, serta banyak hal lain yang kemudia membuat orang akan tertarik mendengarnya.

Mereka para kreator adalah maestro penemu sebuah kesenian jenis baru. Selain menambah khasanah kekayan seni tradisional, mereka juga menjadi “pahlawan” bagi pengembangan industri kreatif.  Mestinya mereka diapresiasi, dihargai, dibina  dan dijaga hasil kreasinya agar bisa memberi manfaat bagi kesejahteraan masyarakat. (termasuk memberikan masukan pernyempurnaan jika sebuah karya memiliki kekurangan).

Sebagai karya seni yang lahir dari akal budi, sudah pasti ia dicipta untuk memperindah,  bukan membuat kerusakan. Karya seni lazimnya memperindah rasa dan suasana. Karya seni, didefinisikan sebagai sebuah bentuk karya yang melembutkan persaan dan meningkatkan rasa keindahan bagi para penikmatnya.

Kalaupun terjadi hal-hal buruk karena karya seni itu dipentaskan, bukanlah kesalahan seniman atau para pekerja seni, namun itu akibat prilaku orang di luar kesnian itu sendiri, yang menjadi penikmat kesenian itu dengan cara yang salah. Untuk hal ini, prilaku negatif sebetulnya tidak hanya terjadi pada kesenian tradisi kreasi baru. Pembaca pasti punya catatan bagaimana kesenian yang katanya berlaku menurut adat pun sebetulnya tidak lepas dari unsur negatif dari penikmatnya.  

Secara ekonomi, kesenian kreasi baru tersebut telah memberi dampak positif paling tidak bagi para pemainnya. Dengan adanya job untuk manggung atau pentas, mereka bisa menambah penghasilan. Artinya seni kreasi menjadi semacam penyumbang denyut ekonomi kerakyatan, sesuai tujuan pembangunan daerah, menuju masyarakat yang berbudaya dan sejahtera. Secara khusus saya hanya mengkritik point BAB. III Pasal 3. Point. 4 yang tercantum di awal tulisan ini.

Point ini saya maknai (mudah-mudahan saya salah) akan memberangus seni kreasi baru. Seni kreasi baru harus diganti dengan “musik yang beraku secara adat”.  Mengapa hanya seni kreasi baru harus yang “diharamkan” dan dikambinghitamkan sebagai penyebab utama kemacetan jalan raya. Jika Perda Nyongkolan ini nanti diberlakukan, saya membayangkan ratusan kesenian tradisi seperti Ale-ale dan Kecimol, yang dengan susah payah dirintis oleh seniman kampung, dengan tanpa bantuan dan kepedulian pemerintah, harus mati dan diharamkan untuk tampil. Mereka membangun sebuah kelompok kesenian dengan cara mengumpulkan uang seadanya dengan penuh semangat kebersamaan dan kegotong-royongan. Perda ini sudah pasti bakal bakal membenturkan para seniman lokal dengan pemerintah..

Saya sepakat soal kemacetan jalanan yang memang harus diatasi. Kemacetan telah menjadi musuh banyak orang. Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar, dan kota-kota lain yang sedang tumbuh, juga “menderita” karena kemacetan. Di Kota Mataram, manakala anak-anak sekolah akan pulang deretan parkir para penjemputnya akan memacetkan jalan. Karnaval Maulid, Pawai Ogoh-ogoh, Pawai Takbiran, atau acara-acara resmi pemerintah yang menggunakan badan jalan juga menjadi penyumbang kemacetan. Di dekat kampung saya, ada Hypermart, pertokoan baru yang kalau sedang ramai, bisa memacetkan jalanan hingga satu kilometer lebih.

Tak ada yang peduli, padahal pertokoan tersebut berada dijalur BIL yang konon harus steril dari kemacetan. Itu artinya nyongkolan bukan satu-satunya penyebab kemacetan jalan raya. Sialnya hanya nyongkolan yang harus diatur dengan Perda. Mengatasi kemacetan yang konon diakibatkan oleh Ale-ale atau kecimol dengan cara membuat sebuah peraturan daerah agaknya terlalu berlebihan. Ibarat penjagaan terhadap kegiatan demonstarsi mahasiswa, yang harus menurunkan pasukan serbu dengan kekuatan tank dan pesawat tempur.

Mencontohkan bagaimana nyongkolan yang sebenarnya, adalah cara yang efektif. Tidak semua persoalan kemasyarakatan harus diselesaikan dengan peraturan pemerintah, sebab aturan adat sesungguhnya lebih “sakti” dan mengikat masyarakat. Menjadi lucu jika adat diatur oleh aturan pemerintah. Selain karena menurunnya tingkat moral generasi baru, tauladan dari para tetua sesungguhnya sudah jarang dilihat dan dirasakan getarannya dalam pergaulan kemasyarakatan. Yang ada justru sebaliknya. Wallahualam.(wan) - 05

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru