Ada Anak Bertanya Pada Bapaknya

Hanya dalam hitungan hari saja semakin dekat waktunya Ramadhan meninggalkan kita dan saya mulai berpikir, apa dampak yang sudah kita dapatkan dari 20 hari puasa ramadhan yang sudah kita lalui? ehmmmm..apa yah?

Oke, kiranya dalam memahaminya saya lebih memilih referensi dari sebuah lagu Qasidah bernada pop saja, jadi bolehlah saya meminjam syair karya Taufiq Ismail dalam lagunya Bimbo yang berjudul “Anak bertanya pada bapaknya”, dalam lagu itu dikatakan :

Ada anak bertanya pada bapaknya:

Buat apa berlapar-lapar puasa

Ada anak bertanya pada bapaknya

Tadarus tarawih apalah gunanya

Lapar mengajarmu rendah hati selalu

Tadarus artinya memahami kitab suci

Tarawih mendekatkan diri pada Illahi

Nah, Karena memang saya bukan ahlinya, saya merenungkan makna dalam hal apa yang saya mengerti saja, untuk pembahasan yang lebih religius insya Allah nanti bisa didapatkan dari para Ustad dan Tuan Guru Saja. Dan mungkin ada baiknya tidak perlu meletakkan harapan terlalu tinggi untuk mendapatkan penyegaran rohani dari tulisan ini. Coba kita lihat baris kelima “Lapar mengajarmu rendah hati selalu”,

Artinya, diyakini bahwa oleh sebab lapar maka akibatnya kita akan belajar menjadi rendah hati. Jadi luar biasa sekali bahwa melatih rendah hati dapat dengan cara menstimulasi diri masuk dalam state of mind yang namanya lapar.  

Saya tidak tahu bagaimana persisnya kondisi lapar bisa membuat seseorang belajar jadi rendah hati. Mudah-mudahan nanti akan ketemu jawaban apakah rendah hati bisa diwujudkan dari suatu kondisi lapar karena ketiadaan makanan dan minuman.

Kita lanjukan dulu lagunya di akhir  syair kelima ada kata "selalu" yg kalau diartikan dalam bahasa arab sama dengan istiqomah. Jadinya lapar yang dapat membentuk sifat rendah hati adalah lapar yg di implementasikan dengan berpuasa yang tidak cukup dilakukan hanya dalam sehari saja melainkan satu bulan penuh.

Masih terngiang saat dulu pernah dijelaskan oleh guru diPesantren, bahwa rendah hati bolehlah disamakan artinya dengan kata tawadhu’ dan merupakan lawan kata dari takkabur (sombong). Tawadhu’ berasal dari lafadz Adl-Dla’ah yang berarti kerelaan manusia terhadap kedudukan yang lebih rendah, atau rendah hati terhadap orang yang beriman, atau mau menerima kebenaran apapun bentuknya dan dari siapapun asalnya.

Rendah hati tentunya berbeda dengan mengesankan diri rendah hati, secara keseluruhan benar-benar merupakan dua hal yang berbeda. Sesungguhnya mengesankan diri rendah hati justru merupakan bentuk dari sebuah kesombongan diri. Misalnya seseorang yang dipercayakan untuk memegang suatu amanat dan tanggung jawab yang kiranya mampu utk dia laksanakan tapi dia tidak mau dengan alasan ingin merendahkan diri maka sekali lagi itu merupakan sebuah kesombongan.

Sejauh yang saya pahami, puasa adalah latihan pengelolaan hawa nafsu, bukan sekedar berhenti makan minum ketika siang hari dan membalas dendam  ketika malam hari. Yang demikian itu sebenarnya hanyalah memindahkan jam biologis metabolisme tubuh saja. Cukup banyak kita menyaksikan orang yang begitu sore sudah tidak sabar untuk berburu makanan dan ditimbun sebanyak-banyaknya untuk dilahap penuh hasrat ketika waktu berbuka sudah tiba.

Lucu sekali, ketika tidak sedang berpuasa, kita makan minum toh biasa-biasa saja. Lantas ketika masuk bulan puasa, justru anggaran biaya rumah tangga melambung naik secara  signifikan. Tiba-tiba muncul pos anggaran baru, karena harus menyiapkan makan-minum sahur yang lebih menimbulkan nafsu makan, menambahkan susu hangat dan coklat, menyiapkan berbagai vitamin untuk memperkuat badan.

Sorenya, menjelang buka puasa harus menyiapkan hidangan berbuka yang enak-enak, beli kue-kue jajanan dipasar-pasar kaget, menambah makanan minuman khusus semacam kolak, es buah dan lain-lain dan lain lain. Belum lagi untuk santapan bakda sholat tarawih serta cemilan malam harinya.

Lha, kalau hanya memindah jam makan seperti ini, lalu makna apa yang diperoleh dengan puasa yang susah payah kita lakukan selama sebulan penuh?. Tentu saja tidak ingin menyindir dengan semua itu. Tapi bolehlah  kita menyiapkan multivitamin dan makan minum lebih enak karena tidak ada larangan dalam agama yang penting jangan berlebihan.

Bahwa rasa lapar yang dimaksud tentunya bukan hanya lapar atas makan-minum, namun juga lapar yang disebabkan atas pengaruh manajemen mengelola hawa nafsu yang ada pada diri kita masing-masing. Karena Sang junjungan Alam Nabi Besar Muhammad SAW menegaskan jihad terbesar adalah jihad melawan hawa nafsu kita sendiri.

Kerendahan hati yang terbentuk dari melawan rasa lapar itu akan semakin sempurna dengan iringan nada saat membaca dan memahami kitab sucinya dalam setiap lantunan tadarrus, serta indahnya gerakan sholat tarawih yang dilakukan secara berjamaah setiap malamnya. [] - 05

Wallahu a'lam bissawab.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru