Menjadi Guru yang Disukai Siswa

Setiap orang yang berprofesi sebagai guru tentu memiliki keinginan menjadi guru yang baik. Jika sudah menjadi guru yang baik, tentu termasuk guru yang dicintai oleh semua siswanya. Alangkah bahagianya hal demikian. Namun, dewasa ini, sebenarnya bukan hal yang langka terjadi, di setiap sekolah, setiap siswa pasti memiliki guru yang mereka cintai dan dibenci.

Sebenarnya bukan ‘dibenci’, hanya saja mereka tidak senang guru tersebut. Sebenarnya banyak alasan yang membuat para siswa tidak suka dengan gurunya. Tahukah Anda apa saja yang membuat para siswa tidak menyukai gurunya?

      Dari beberapa obrolan para siswa dengan saya (dari beberapa buku, hasil beowsing internet juga) dapat saya tampung  bebrapa alasan, anatara lain :

1. Metode mengajar guru membosankan.

Metode kerap kali menjadi patokan untuk menciptakan suasana belajar mengajar yang baik. Jika metode mengajar tidak jelas, tentu suasana belajar juga tidak akan nyaman, dan hasilnya pun tidak memuasakan. Metode yang tidak jelas pun akan membuat siswa tidak suka dengan gurunya. Mau dibawa kemana arah mengajarnya.

2. Cepat marah.

Point yang ini cukup penting, jika sosok guru di depan siswa tergolong pemarah, sudah pasti siswa tidak suka guru tersebut.

3. Banyak bercerita.

Bercerita memang lebih mengasyikkan. Tapi jika terlalu banyak atau sering, tentu hal ini mendatangkan kebosanan bagi siswa. Dengan jelas maka siswa tidak akan suka dengan guru tersebut. Hal ini tentu juga menghambat dalam pencapaian materi.

4. Jarang masuk kelas.

Ini sebenarnya bagian kecil dari mengapa siswa tidak suka gurunya. Hal ini juga dapat mempengaruhi tingkat suka/tidak sukanya siswa pada guru.

5. Memberi catatan lalu pergi.

Hal ini sering dijumpai dan dilakukan oleh guru. Masuk ke kelas hanya memberi catatan pada siswa lalu pergi begitu saja. Ini juga mempengaruhi penilaian suka/tidak sukanya siswa. Apakah Anda termasuk ini?

            Kelima point di atas bukan sembarang point (sebenarnya bisa saja lebih dari lima). Kelima point tersebut jelas dari apa yang saya uraikan di atas yaitu; dari obrolan dengan siswa, buku, dan browsing internet.

            Hal demikian jelas miris sekali terdengar bukan? Jika memang demikian, sebagai guru, tentu Anda tidak akan seperti itu bukan? Apalagi ‘dibenci’ oleh siswanya sendiri. Bukankah setiap orang tidak ingin dibenci...?

            Nah, ada cara untuk membuat siswa lebih suka terhadap gurunya. Sebelum hal itu saya paparkan, terlebih dahulu guru harus melakukan evalusai diri sendiri di siswa. Maksudnya, seberapa sukakah siswa terhadap guru itu sendiri. Jika sudah mengetahui titik dimana yang harus dirombak oleh guru itu sendiri, tentu perubahan sangat diharapkan.

            Guru sebaiknya:

Minta kritik dan saran pada siswa

Bagian ini sangat penting bagi guru. Guna mengetahui dimana kekurangannya dalam mengajar. Dalam melakukan hal ini, tinggalkan rasa gensi yang ada pada diri guru. Biasanya, bagi guru yang mempunyai ego tinggi, kerap kali tidak perduli dengan hal ini. Padahal, dengan meminta kritik dan saran pada siswa mampu meningkatkan kinerja guru dalam mengajar.

Cara yang dilakukan cukup mudah, dengan memberikan secarik kertas (potong-potong) pada siswa/bisa juga siswa menggunakan lembaran bukunya. Setelah itu, mintalah pada siswa untuk memberikan komentar dalam mengajar selama ini; apa baik atau tidak. Setelah itu, renungkanlah hasil dari hal tersebut. Catatan, usahakan siswa menjawab dengan jujur, tanpa ada tekanan atau rasa tidak berani.

Angket cinta

Cinta itu anugerah. Jika mengharapakan akan anugerah itu, tentu kita harus memupuk yang namanya cinta. Dalam hal ini, tentu guru harus melakukan satu metode untuk mengetahui hal apa yang membuat siswa cinta terhadap guru lain.

Angket cinta ini sangat sederhana. Ini bertujuan agar guru dapat mengetahui guru siapa yang paling dicintai oleh siswa, dan alasan mengapa siswa cinta terhadap guru tersebut. Kembali lagi seperti uraian di atas, yaitu, meminta pada siswa untuk memberikan tanggapaan akan hal itu.

Dari angket cinta ini, guru bisa belajar pada guru yang poling angket cintanya paling banyak. Entah itu cara mengolah kelas, metode, atau pun hal yang baik yang bisa dipetik. Belajarkan darimana saja bukan?

Sekali lagi, jangan gengsi!

Bagaimana? Anda mau jadi guru yang baik? Dan tentu akan dicinta/disuka?

Jika sudah bulat untuk menjadi guru baik, simak beberapa cara untuk menjadi guru baik yang saya kutip dari buku Abdullah Munir yang berjudul Spiritual Teaching (agar guru senantiasa mencintai pekerjaan dan anak didiknya). Di dalam buku ini, menurut Abdullah Munir, menjadi guru baik dan disukai siswa harus menerapkan kelembutan hati terlebihdahulu. Setelah hati melembut, tanam dan rawatlah cinta di atasnya. Cintalah yang akan menjadi landasan hubungan guru dengan siswa (2010:35).

Tahukah apa yang harus Anda lakukan? Simak uraian berikut ini:

Proklamasi Pertama: Aku Juga Mencintaimu.

Tentu, semua guru sudah biasa menemukan siswa yang nakal dan bikin gaduh. Kalau sudah demikian, tentu guru akan kesal luar biasa, atau juga marah. Secara tidak langsung, guru pasti terdorong untuk mengucapkan sesuatu yang tak enak. Tapi, karena sudah bertekat menjadi guru yang disukai, cobalah untuk megontrol emosi, lalu coba katakan pada siswa, “Nak... aku mencintaimu, jadi .....” (diperingati dengan tutur kata yang lembut).

Mengapa demikian? Karena semua tingkah laku anak (siswa) adalah ‘bahasa cinta’ yang tak bisa diungkapkan secara langsung. Maksudnya, kadang siswa yang membuat kegaduhan sebenarnya bukan berniat membuat kegaduhan melainkan seolah meminta perhatian.

Menurut Gary Champman (dalam Abdullah Munir, 2011:36) mengatakan, bahwa setiap tingkah laku anak/siswa adalah ‘bahasa cinta’. Dari tingkahnya yang beraneka rupa itu, anak/siswa mengharapkan adanya respon positif dari orang dewasa/guru yang berinteraksi dengannya. Jika telah mendapat respons yang positif ini, anak/siswa akan merasa bahwa orang di sekelilingnya menyanyangi dirinya.

Proklamasi Kedua: Aku Hadir Demi Kamu.

            Pernahkah Anda mengusir siswa saat jam mengajar Anda siswa tersebut datang terlambat? Atau memarahi siswa saat berbicara saat Anda bicara? Atau Anda sangat marah ketika Anda tidak didengar sama sekali?

            Saya rasa, semua guru pernah melakukan hal demikian. Namun, tahukah Anda, bahwa hal demikian adalah tindakan yang justru membuat siswa tersebut semakin menjadi. Mengapa? Karena siswa tersebut akan mengulang lagi perbuatnya dan seolah memancing emosi Anda (guru).

            Jadi, kembali lagi, dari buku Abdullah Munir, setiap guru harus menganut filsafat yang mengatakan bahwa, “Aku dihadrikan oleh Allah di dunia ini memang demi kalian semua.” Jika sudah menganut filsafat tersebut, jelas guru tidak akan cepat marah dan mengatakan bahwa siswa A dan siswa B begini, begini dan begini.... (menerima karakter siswa yang dihadapi dengan kesabaran tinggi).

Proklamasi Ketiga: Akulah Sahabatmu

            Pernahkah Anda mengatakan bahwa antara siswa dan Anda adalah sahabat? Jika Anda sudah mengatakan hal demikian, tentu akan terasa lebih mudah memahami siswa. Mengapa? Jelas, jika Anda menganggap antara Anda dan siswa adalah sahabat, tentu dari segi komunikasi Anda bisa saling memahami. Setidaknya, Anda paham bagaimana karakter siswa Anda. Dan jika Anda belum merasa seperti itu, cobalah mengatakan, “Aku dan kalian adalah sahabat. Jadi, diantara kita tak ada rahasia ....” (kata-katanya bisa diubah). Intinya di sini, Anda dan siswa lebih dekat.

            Kembali lagi mengapa? Jelas, bahwa antara sahabat tentu akan lebih cair. Bisa berbagi atau cerita segala hal yang menyangkut perasaan. Dari sinilah, Anda sebagai guru tentulah harus medekatkan diri dan mulai menghaluskan hati agar lebih fleksibel ke siswa. Bila siswa sudah merasa Anda adalah sahabatnya, tentu siswa akan mendengarkan apa yang Anda berikan padanya (nasehat/petuah-petuah berguna).

            Begitulah, dari ketiga proklamasi yang ada, cobalah. Karena tidak ada salahnya melakukan percobaan jika memang pada akhirnya akan berbuah manis. Dan inti dari semua ini, lakukan segalanya dengan menggunakan ‘kelembutan hati’. Bukankah Rasullullah dalam mendidik anak-anak dan cucu-cucunya dengan kelembutan hati? [] -05

*Pernah dikirim ke Radar Lombok, namun belum tembus untuk di publish. Sepertinya harus lebih extra semangat dan mencoba mengirim lagi. ^_^

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru