Hidup Di Perantauan Tidak Menjamin Merubah Hidup

Mungkin judul cerita  yang saya angkat di atas itu bisa di bantah bagi yang merasa dirinya mandiri atau tidak lagi mengandalkan orang tua,  namun yang saya ceritakan ini adalah betul adanya ketika saya banyak berdiskusi dengan teman-teman yang mencari nafkah di perantauan seperti di wilayah Jakarta dan Kalimantan.

Tapi,dengan kesimpulan diskusi saya dengan teman-teman yang merantau banyak yang pulang dari kampung dengan tangan hampa,kosong bahkan ada pula yang di kirim uangnya untuk sekedar membeli tiket untuk bisa kembali ke kampung halaman.

Berbagai masalah yang di hadapi di tanah perantauan ungkap salah seorang teman saya di jakarta melalui via telepon “sebenarnanya gaji kerja di PT di jakarta dengan menjadi kuli bangunan di kampung hampir sama bila di kumpulkan, hanya saja kerja buruh itu kan di ukur harinya gak seperti di PT yang di ukur dari bulanannya,tapi kalau di pikir-pikr dalam keperluan seperti membeli beras,membayar kos perbulan, tapi kalau di kampung sedikit pengeluarannya.”curhat dia.

Masalah yang berikutnya adalah kehidupan kota jakarta yang serba WAH dan serba Uang, ia bandingkan  dengan di kampung dalam membeli sayur-mayur bila di kampung ia hanya memetik di kebun atau bisa di ambil dan diminta ditetangga nah kalau di Jakarta harus memakai uang, dan kalaupun kemana-mana isi dompet harus full dan harus di simpan dengan rapi agar aman dari para pencuri jalanan, biaya hidup mewah tidak sesuai dengan gaji dan harus mati-matian untuk menjaganya. imbuhnya

Lain hal dengan teman saya yang ada di di kailmantan, ia seorang buruh kelapa sawit suka dukanya ia tutrkan ‘hal yang aneh yang berbeda dengan di kampung ialah saya yang biasanya di kampung gak pernah mabuk,minum (Alkohol), judi dan kegiatan Amoral lainnya ketika saya di tanah rantauan perubahan saya berubah dratis, awalnya menikmati hasil dari usaha saya setelah ketagihan saya pun terlarut sehingga ketika gajian pun datang karena kebiasaan tersebut saya banyak hutang juga, meskipun gajian saya lumayan menjanjikan tetapi kebutuhan sehari-hari sangat mahal “, Ungkapnya.

Masalah yang terbesar ia hadapi ialah susahnya ke daerah kota, karena tempat ia kerja itu cukup jauh karna yang kita ketahui sendiri bekerja buruh sawit harus berada di hutan dan sekali-kali turun di kota itupun di ijinkan hanya satu malam oleh mandor kalaupun kita mengabaikan sasaran dari pemberian gaji karna sudah menjadi kesepakatan bila melanggar hari tersebut tidak di katakan masuk kerja,susah mah hidup di rantauan itub harus kuat mental dan fisik,mau balik ke kampung malu sama tetangga dan keluarga, tambahnya.

Menjadi perantauan itu bukan hanya fisik dan mental yang di andalkan namun kreativitas dan bakat itu yang di utamakan, bekerja sepenuh hati dan ridho kepada ALLAH SWT serta bersyukur akan apa yang di dapatkan maka kita akan bisa merasakan arti dari pekerjaan itu sendiri..(UKI)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru