Perempuan "Tiang Negara"

"Nabi Muhammad Rasulullah SAW telah bersabda bahwa “Wanita adalah tiang Negara !”. Hancur atau majunya suatu Negara tergantung bagaimana kondisi perempuan yang ada di dalamnya”

Perempuan sebagai tiang Negara sudah sangat jelas digambarkan oleh Rasulullah SAW. Selain itu, seorang penyair pula mengatakan bahwa seorang ibu ibarat sebuah sekolah, apabila kamu siapkan dengan baik. Berarti kamu menyiapkan satu bangsa yang harum namanya. Lebih lanjut, orang-orang bijak pun banyak yang mengaitkan keberhasilan para tokoh dan pemimpin dengan peran dan bantuan kaum wanita lewat ungkapan “Dibalik keberhasilan setiap pembesar, ada pada wanita!”.

Sejalan dengan hal di atas, maka tidak dapat dipungkiri bahwa perempuan/ibu adalah madrasah pertama bagi putra-putrinya yang akan meneruskan tongkat estafet peradaban ini. Tidak heran jika muncul ungkapan, dibalik kelembutan seorang wanita ia bisa mengayunkan buaian di tangan kanan dan mengguncang dunia dengan tangan kirinya.

Di Indonesia kita mengenal istilah 4 pilar kebangsaan. Dimana adalah Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI merupakan 4 tiang bagi Negara Indonesia.

Ke- Empat nilai tersebut seolah-olah menutupi peluang bagi kafasitas kaum perempuan untuk bisa menduduki pilar ke-5 bangsa Indonesia. Apakah karena ada semcam indikasi bahwa seketika perempuan nantinya bisa terpetakkan menjadi pilar bangsa ini, yakni pilar ke-5, lalu kemudian akan melahirkan kecemburuan social bagi kaum laki-laki, atau karena penggagas 4 pilar bangsa adalah mayoritas kaum laki-laki. (?) Wallahu’alam, Kita semua tidak tau alasan demikian.

Jika kita merenung sejenak bagaimana kaum perempuan melakukan perjuangan di bangsa ini, maka kita tidak nafikan bahwa sebagian dari mereka juga sangat berperan aktif dalam memajukan daerah dan Negara ini. Hanya saja saat ini kita belum menemukan solidaritas kaum perempuan itu yang terorganizing dengan baik, sehingga wajar kemudian kaum perempuan dinilai berjuang setengah hati, sebagian mereka masih dinilai tidak berani menunjukan diri mereka sebagai masyarakat Indonesia yang memiliki nilai setara dengan kaum laki-laki yang melakukan perjuangan untuk bangsa ini.

Perempuan tiang Negara, menjadi ukuranya adalah wanita yang baik/sholehah. Sungguh ironis kemudian jika ada wanita baik lalu tidak diakomodir dengan baik. Kali ini penulis akan bertanya kepada kita semua bahwa “Bukankah setiap yang baik, sebaiknya diambil dan dimanfaatkan agar melahirkan kebaikan,,,?.

Dalam posisi demikian, apabila perempuan itu baik, maka menjadi keharusan bagi Negara ini untuk mengakomodir mereka dengan baik, serta memberikan peluang atas mereka, yakni Negara berkewajiban menyediakan lapangan pekerjaan yang lebih layak.

Tidak semua perempuan suka nongkrong di kafe, tidak semua perempuan suka selingkuh, tidak semua perempuan itu sulit diatur. Atas situasi inilah kemudian Negara ini memiliki peluang untuk menyediakan pekerjaan buat perempuan. Sehingga kontribusi perempuan dalam membangun bangsa ini bukan hanya terlihat ketika menjadi “sang ibu yang baik atas anak dan suami mereka”. Tetapi terlebih perempuan layak dan mampu melahirkan kebaikan bagi bangsa Indonesia. [] - 01

Gambar diambil melalui httpswww.facebook.comgroupspendukung.robiatul.adawiyah

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru