Masa Depan: Nikah atau UN?

Entah ini namanya sebuah tradisi atau keramat. Di Indonesia, atau lebih khususnya Bima, Nusa Tenggara Barat. Selalu ada siswi yang memilih nikah menjelang UN (Ujian Nasional). Entah salah pengertian mengenai "masa depan", atau justru mengikuti hawa nafsu yang terburu-buru. Bila masa depan semata-mata diartikan sebagai jalinan rumah tangga.

Lalu, untuk apa capek-capek sekolah kalau hanya untuk menunggu keputusan nikah? Apa tak merasa rugi waktu dan materi? Bukankah diusia kelas IX atau XII pemikiran sudah mulai matang? Memikirkan ke mana langkah kaki membawa diri ke arah yang lebih baik, lebih menjanjikan untuk masa depannya? Ya, menikah bukanlah hal yang dilarang. Setiap orang berhak untuk menikah.

Tapi, sayang bila menikah dini yang pada akhirnya membatasi diri dari kilauan masa depan yang lebih terjamin melalui pendidikan. Atau mungkin karena perkara nikah sudah dianggap sepele, sehingga jalan nikah hampir-hampir memperbolehkan segala umur.

Usia SD? Bukan hal baru lagi bila kedua belah pihak saling setuju(Baca: calon pengantin laki-laki dan perempuan). Di zaman sekarang saja sudah banyak remaja (usia sekolah) yang mengambil keputusan mengecewakan orang tua. Lalu, bagaimana dengan masa-masa yang akan datang? [] - 01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru