Hati-hati Modus Jual Beli Suara Pileg

Money politic merupakan kecurangan yang dikhawatirkan menjelang Pemilu. Setidaknya ada tiga modus yang sering terjadi dalam transaksi jual beli suara dalam pemilu.

Dari pengamatan saya sendiri, modus tersebut biasa terjadi dari pelaku atau makelar yang membeli surat undangan pemilih saat mereka berada di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Sehingga pemilih yang ada dalam DPT itu sendiri terpaksa merelakan hak suaranya karena sudah dibeli oleh orang lain yang memiliki kepentingan untuk menang.

Modus itu dinilai bertujuan untuk mencegah pemilih memberikan suara kepada rival politik. Artinya, pemilih sendiri digiring untuk menyerahkan suaranya kepada salah satu caleg yang memesan melalui makelar atau tim suksesnya.

Modus kedua, adalah praktik dari oknum yang mencoba menggiring pemilih ke TPS tertentu yang sebelumnya sudah dikondisikan. Di TPS itu juga telah disiapkan sedemikian rupa untuk memenangkan salah satu caleg atau partai.

Sedangkan modus ketiga, yakni terjadinya praktik kongkalikong (kingkong) antara makelar atau caleg dengan oknum Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS), Panitia Pemungutan Suara (PPS), Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) hingga ketingkat Komisi Pemilihan Uumum (KPU). Tujuannya melakukan kerja sama untuk manipulasi hasil penghitungan suara.

Praktik seperti ini kerap terjadi dalam setiap Pemilu sehingga menjadi salah satu tantangan dalam pelaksanaan pemilu di Indonesia. Tantangan seperti ini mudah-mudahan tidak terulang pada Pemilu 9 April 2014 nanti. Dan, semua pihak diharapkan bisa mencegahnya demi terwujudnya Pemilu yang jujur, adil, bebas dan rahasia.(adi arega) 03

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru