Abu Macel & Burung Puyuh

Di Pulau Lombok saat ini hampir setiap malam ada lomba Burung Puyuh. Dari desa hingga kota. Orang berkurumun setiap malam mendengarkan suara burung puyuh. Berjam-jam mereka bertahan untuk mengisi ruang dengar dengan hadiah beragam rupa. Dari senilai ratusan ribu rupiah hingga belasan juta rupiah.

Burung Puyuh inipun laksana gadis manis mempesona setiap lelaki. Padahal suaranya sangat tak merdu. Dalam rumpun unggas, Puyuh adalah unggas daratan yang kecil, gemuk, pemakan biji-bijian dan serangga serta suka memangsa yang lebih kecil dengannya dan tak banyak diminati.

Wikipedia menuliskan bahwa Burung Puyuh bersarang di permukaan tanah, dan berkemampuan untuk lari dan terbang dengan kecepatan tinggi namun dengan jarak tempuh yang pendek. Anehnya saat ini menjadi idola dan dilombakan.

Beberapa tahun silam, telur puyuh lebih popular dari burungnya hingga menjadi sajian kuliner. Kini popularitas Puyuh laksana artis dadakan, harganyapun mulai naik pangkat. Dari kisaran ribuan rupiah menjadi ratusan ribu rupiah. Itulah teori pasar.

Ya… teori pasar, makin banyak permintaan makin tinggi harga jualnya demikian sebaliknya. Tapi siapa yang menciptakan pasar? Siapa pula yang menjadi objek pasar? Dan siapa pula yang menjadi korban pasar?

Sudah pasti rakyat dengan segala kelasnya. Mau kelas bawah maupun kelas atas, kelas samping kelas depan, kelas hulu kelas muara, kelas konglomerat hingga kelas melarat, ya tetap saja rakyat.

Ada rakyat yang diberi wewenang oleh peraturan membuat peraturan, ada rakyat yang diwajibkan melaksanakan peraturan. Ada rakyat dipaksa mematuhi peraturan, ada juga rakyat yang memaksa peraturan.

Rakyat sangat berdaulat. Memiliki otoritas mengatur dirinya dan selalu menyebut nama Tuhan dalam lembar keputusan dengan tujuan mulia yakni mengeliminasi setiap jengkal kehawatiran untuk kesejahteraan.

Kalau hawatir lapar dibuat tata cara menuju kenyang. Hawatir susah dibuat aturan agar senang dan bahagia. Semuanya tersedia dalam lembaran keputusan agar rakyat terhibur dan hatipun senang.

Nah, suara burung puyuh yang dilombakan itu tentu bermaksud agar hati senang dan terhibur dari dukalara yang mendera. Terhibur dari pertengkaran dengan isteri lantaran uang dapur belum disetor. Terhibur dari keributan dengan rekan bisnis yang menipu. Terhibur dari kekecewaan hati karena mutasi jabatan serta atasan yang berlaku sewenang-wenang. Setidaknya burung puyuh ini sudah bisa menghibur banyak orang.  

Tapi mengapa Burung Puyuh menjadi pilihan telinga dan pilihan mata? Mengapa tak memilih burung yang bersuara merdu dan berpenampilan menarik? Inilah yang menjadi analisa Abu Macel mengambil keputusan untuk melakukan riset dan survey.

Laksana seorang ahli jebolan bangku kuliah di perguruan yang tinggi sekali, Abu Macel menyusun metode penelitian dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Membagi quistioener random sampling, disebar disetiap desa dusun dasan dengan kualifikasi pendidikan, pekerjaan dan kelompok umur dengan pertanyaan “mengapa anda memilih burung puyuh untuk dilombakan?” Hasilnya sangat mencengangkan dan anda harus bilang wow.

Kebanyakan responden menjawab karena tak ada lagi burung lain. sebagian kecil menjawab tidak tau dan tak mengerti.

Pertanyaan berikutnya “kemana burung yang bersuara merdu?  Sebagian besar menjawab kembali ke hutan, sebagian kecil menjawab tidak tau dan tidak mengerti. Dan beberapa pertanyaan lain yang tak bisa diurai detail.

Dari hasil penelitian itu, Abu Macel membuat resume untuk bahan siaran pers. Lumayan untuk mendongkrak lembaga survey yang dibentuk dadakan. Siapa tau ada orderan lain. Ini kan ihktiar, sebab Tuhan tak memberi wewenang kepada manusia untuk menentukan hasil. Hanya diberi kesempatan untuk berusaha.

“Saudara-saudara,” kata Abu Macel di depan sejumlah wartawan dalam dan luar negeri, “mengapa kebanyakan orang hari ini memilih burung puyuh untuk dipelihara dan dilombakan? Semua itu karena masyarakat sudah berada pada keadaan terpaksa dipaksa dan memaksa.”

“Burung-burung yang bersuara merdu itu kini sudah kembali ke habitatnya di hutan belantara, karena para burung itu sudah kehilangan semangat dan sudah kehilangan kepercayaan pada pemilik dan pengelola sangkar.” Jelas Abu Macel

Dahulu para burung itu rela menjadi hiasan rumah orang-orang tertentu dan ditaruh dalam sangkar beragam warna. Mereka bisa memperdengarkan suara merdunya meski dengan ruang yang terbatas. Warna sangkarpun saat itu hanya tiga. Kuning, Hijau dan Merah.

Para burung tetap rela meski diatur dan diarahkan oleh pemilik sangkar meski berada dalam tekanan, ancaman bedil dan senjata. Tak boleh bersuara indah kecuali keindahan yang direncanakan. Tak boleh bersuara merdu kecuali merdu yang diarahkan. Tak boleh bersuara nyaring kecuali nadanya sudah ditentukan.

Hari-haripun berlalu. Ternyata burung yang bersuara merdu dan indah itu tak semuanya menjadi sahabat manusia. Banyak diantaranya menjadi musuh petani. Maka terjadiah pergolakan. Sekumpulan burung lainnya mengatur strategi dan terjadilah reformasi burung. Semuanya berubah seketika.

Setelah adanya peraturan yang mengatur pembolehan untuk membuat multi sangkar, mulailah persoalan itu muncul seiring dengan semangat setiap burung yang ingin memperdengarkan suaranya. Banyak bermunculan pemilik sangkar baru. Ada juga pemilik sangkar lama yang berusaha bangkit kembali. Adapula yang berkoalisi dengan teman lama untuk membuat sangkar baru.

Pemilik sangkar punya kedaulatan tersendiri dalam menentukan kiblatnya. Ada yang berkiblat ke timur, ke barat, juga ke timur tengah.

Lantas burung-burung inipun dengan leluasa memilih sangkar. Kalau tak bisa bersuara di sangkar kuning, sangkar hijau menanti. Dijegal di sangkar biru, sangkar merah membuka pintu. Tak bisa berebut nomor urut di sangkar merah, sangkar orange meyediakan nomor caleg sesuai selera. Demikian seterusnya dan ahirnya para burungpun menyebar diberbagai sangkar.

Pemilik sangkar membiarkan dan membebaskan burung-burung itu memperdengarkan suaranya. Nyanyian demi nyanyian mengudara memenuhi angkasa raya. Bersahutan, berseliweran dan ahirnya suara burung itupun bertabrakan satu dengan lainnya.

Masyarakat pendengar tak bisa lagi membedakan mana suara merdu dan lembut, mana suara benar dan kasar, mana suara jujur dan lantang. Saling menjegal dan menjatuhkan. Saling tuding dan merendahkan. Akhirnya makin kabur dari komitmen untuk mensejahterakan burung.

Atas nama bangsa mereka membolehkan segala cara. Atas nama bangsa mereka boleh merendahkan siapa saja. Atas nama bangsa mereka boleh memangsa apa saja dan siapa saja.

Kalau sangkar biru remuk karena kejatuhan gedung olahraga maka gembiralah burung di sangkar merah. Kalau sangkar kuning terendam lumpur maka bersoraklah burung disangkar hijau. Kalau sangkar putih diseruduk sapi betina maka berbahagialah burung disangkar orange.

Tercabik-cabiklah komitmen bangsa burung ini. Mereka semua hanya memikirkan pemilik dan pengelola sangkar dan kehilangan gagasan memikirkan burungnya dan ahirnya masyarakat tak punya pilihan kecuali hanya Burung Puyuh yang menjadi sarana hiburannya dan saat ini bertebaran menempel di pohon-pohon sepanjang jalan.

Jika komunitas Burung Puyuh ini berkuasa, tentu tak kan rela membuat program pengembangbiakkan Cendrawasih, Gelatik, Cucak Rowo, Punglor, Parkit dan lainnya. Ia pasti akan meningkatkan populasi Burung Puyuh sehingga semua hutan belantara dipenuhi burung puyuh. Jika ketua kelompok burung puyuh mengetuk palu tanda setuju, seisi hutan belantara akan diramaikan dengan suara prat… pret… prat….pret…. Kecepret…. tak karuan.

Setiap lembar peraturan perundangan yang dibuat tak lupa dibubuhkan naskah berbunyi kecepret. Menimbang dan seterusnya….. cepret….. memutuskan dan setersunya cepret….. barang siapa yang yang…. kcepret…….. dan suara ceprat cepret akan memenuhi ruang sidang dan pertemuan.

Kini burung puyuh itu mengitari kita semua, ada diantara kita semua, di dekat kita bahkan mungkin saja kitalah Burung Puyuh itu. Tapi yakinlah masih banyak dibentangan tanah ini burung-burung yang bersuara merdu dan indah.

Momentum 9 April ini menjadi ajang perjuangan untuk menemukan kembali burung-burung yang bersuara indah, merdu dan lantang. Masih banyak yang siap dibenci dan dicaci untuk menyuarakan kejujuran dan kebenaran.

Kenali calon yang hendak menyuarakan keindahan itu, dekati dan jangan biarkan mereka bersuara seenaknya. Bimbinglah bersama untuk menemukan habitatnya kembali. Jangan golput dan rakyat menanti suara merdu yang bukan sekedar kecepret…..[] - (01)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru