Refleksi 32 Tahun Museum Negeri NTB

“Jangan pernah lupakan sejarah” itulah petuah Bung Karno yang masih kita ingat hingga sekarang. Ya, siapapun dari kita seharusnya sadar benar bahwa sejarah tentang apapun itu selalu membawa cerita dan hikmah yang mendalam. Semangat itulah yang selalu terasa saat kita mengunjungi Museum Negeri di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Museum yang resmi dibuka pada tanggal 23 Januari 1982 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Dr. Daoed Joesoef ini mempunyai 7.387 koleksi berupa koleksi geologi, biologi, etnografi, arkeologi, sejarah, numismatik, heraldik, filologi dan kemarik. Oleh pengelola museum, semua jenis koleksi itu ditata berdasarkan unsur kebudayaannya seperti bahasa, sistem pengetahuan, sistem organisasi kemasyarakatan, sistem teknologi, sistem etnik, Sasak dan Bali di pulau Lombok dan etnik Sumbawa dan Mbojo yang mendiami Sumbawa.

Di dalam ruang pamer utama, Anda akan disuguhi deretan lemari kaca berisikan perlengkapan acara kematian seperti kain usap, tambok atau tempat air, pedupaan sebagai tempat membakar kemenyan, kain kafan, kain kelambu, dan ceret untuk membawa air ke kuburan. Museum juga memajang koleksi benda-benda upacara perkawinan, seperti ider-ider sebagai perhiasan, kain umbaq sebagai olen-olen dalam upacara sorong serah dan lingga kapanca sebagai perlengkapan perkawinan di Bima. Ada juga pameran busana pengantin tradisional dari suku Sasak dan Sumbawa.

Bagi Anda penyuka tulisan dan naskah kuno, museum ini juga menyimpan sekitar 1.700 naskah. Beberapa diantaranya masih menggunakan daun lontar dan kertas. Naskah yang tertuang dalam bahasa kawi, saka dan melayu ini terdiri dari berbagai jenis seperti babad (catatan sejarah masa lalu), suluk (naskah tentang ilmu tasawuf), naskah yang berisi tentang pengetahuan (perbintangan, arsitektur, pertanian), naskah husada (berisi tentang kesehatan) dan naskah sastra. Untuk mensosialiasikan naskah-naskah ini pengelola museum berinisiatif untuk menggelar acara rutin bertitel “Pepaosan” artinya pembacaan naskah lontar yang diadakan di lobby museum. Selain itu, cara ini dilakukan agar generasi muda dapat mengapresiasi naskah kuno warisan bangsa.

Selain koleksi-koleksi itu, museum ini juga memamerkan benda-benda mistis yang memiliki kekuatan gaib. Benda mistis itu antara lain dua buah batu peramal nasib seseorang, wariga (meramal hari baik dan buruk), pedalo’i (penolak roh halus), danci (pengusir roh jahat), bebadong (pertahanan kekebalan), kemalik genter (penangkal petir), Alquran (ajimat), fosil kayu (penolak bala), dua buah batu berwarna putih dan coklat (sebagai batu kemerasan karena diharapkan tuahnya), uang kepeng (penolak bala), serta poh jengik (alat memandikant ternak penolak bala). Benda-benda ini tentu saja menarik perhatian pengunjung apalagi bagi mereka yang bukan warga asli Lombok. Dan benar saja, pada awal tahun 2011 lalu sekitar 90 warga asing yang menumpang kapal pesiar Seaborn Spirit terlihat antusias mengungjungi museum ini untuk melihat koleksi benda-benda bersejarah. Sejatinya tidak kali ini saja Museum Negeri dikunjungi turis asing, namun baru kali ini mereka didatangi 1 rombongan besar seperti ini.


         Dalam kenyataannya, saat ini masih banyak masyarakat, termasuk kalangan pendidikan, yang memandang Museum Negeri NTB hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan dan memelihara benda-benda peninggalan sejarah serta menjadi monumen penghias kota. Akibatnya, banyak masyarakat yang enggan untuk meluangkan waktu berkunjung ke Museum dengan alasan kuno dan tidak prestis, padahal jika semua kalangan masyarakat sudi meluangkan waktu untuk datang untuk menikmati dan mencoba memahami makna yang terkandung dalam setiap benda yang dipamerkan museum, maka akan terjadi suatu transfomasi nilai warisan budaya bangsa dari generasi terdahulu kepada generasi sekarang.
 

Apabila suatu bangsa adalah sebuah keluarga yang hidup dengan dan dalam rumah kebudayaannya, maka Museum dapatlah dipahami sebagai album keluarga itu. Di dalam album itulah foto-foto seluruh keluarga tersimpan dan disusun dari setiap masa dan generasi. Foto-foto itu ditatap untuk tidak sekedar menjenguk dan menziarahi sebuah masa lalu, sebab waktu bukan hanya terdiri dari ruang dimensi kemarin, hari ini dan besok pagi. Foto-foto itu adalah waktu yang menjadi tempat untuk menatap dan memaknai seluruhnya, bukan hanya peristiwa, akan tetapi juga pemaknaan di balik peristiwa-peristiwa itu. Pemaknaan tentang seluruh identitas, di dalam dan di luar kota. Foto-foto itu akhirnya bukan lagi dipahami sebagai sebuah benda.


          Uraian tersebut menunjukkan, museum tidak hanya berfungsi sebagai lembaga yang mengumpulkan dan memamerkan benda-benda yang berkaitan dengan sejarah perkembangan kehidupan manusia dan lingkungan, tetapi merupakan suatu lembaga yang mempunyai tugas untuk melakukan pembinaan dan pengembangan nilai budaya bangsa guna memperkuat kepribadian dan jati diri bangsa, mempertebal keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan, serta meningkatkan rasa harga diri dan kebanggaan nasional.

Peran Museum dalam hal ini menjadi sangat strategis mengingat berbagai perkembangan kehidupan masyarkat yang begitu kompleks, sehingga memaksa museum dalam hal ini menjadi pusat proyeksi kebijakan kebudayaan sesuai dengan perkembangan dan tujuan bersama kemakmuran rakyat. Dengan dilakukannya pemilihan Duta Museum NTB 2014 merupakan salah satu cerminan bahwa Museum sangat mengerti perkembangan yang terjadi dewasa ini, mengingat peran penting kaula muda ikut serta dalam berbagai proses penyelesaian berbagai permasalahan yang timbul dalam wilayah Provinsi NTB tercinta ini. 

Bagi dunia pendidikan, keberadaan museum negeri NTB merupakan suatu yang tidak dapat terpisahkan, karena keberadaannya mampu menjawab berbagai pertanyaan yang muncul dalam proses pembelajaran terutama berkaitan dengan sejarah perkembangan manusia,budaya dan lingkungannya.Oleh karena itu, keberadaaan museum negeri NTB tentunya dapat di jadikan sebagai media komunikasi masa lalu, masa kini dan masa depan. [] - (01)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru