RUSAKNYA PEMIMPIN ADALAH TANDA KEHACURAN YANG MENGANCAM SUATU NEGARA

KM rumah panggungku- Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Lombok Utara, Jumat (7/3) menjelang pemilu 9 April 2014 mensosialisasikan pemilihan umum dengan memasang baliho dan spanduk di sepanjang jalan dan di setiap kantor desa  yang berada di Kecamatan Kayangan.

Menurut Ust. Suji Hatnur LC,  kepemimpinan dalam pandangan Islam merupakan amanah yang musti diberikan kepada orang yang cakap dan ahli dalam memimpin, sebab bila diberikan kepada yang bukan ahlinya --apa lagi diberikan kepada orang yang tidak jujur-- maka akan timbul akibat pola kepemimpinannya adalah kehancuran dan kerusakan. Sebab itulah Islam mengajarkan  apabila ingin memilih seorang pemimpin agar memperhatikan calon pemimpin itu dari segi ketaqwaannya kepada Allah. Memilih pemimpin hendaknya bukan karena dasar pilih kasih, ada hubungan kolega atau adanya hubungan kerabat atau kekeluargaan (nepotisme) karena kepemimpinan berhubungan dengan tanggung jawab. Di zaman sekarang ini, tidak sedikit orang yang berambisi ingin menjadi pemimpin negara maupun pemimpin lainnya. Mereka yang berambisi tersebut berangapan menjadi pemimpin itu dapat menentukan keputusan atau kebijakan-kebijakann sesuai dengan keinginannya dan kelompoknya. Maka tidak heran orang yang berambisi tersebut tidak segan-segan melakukan berbagai cara dan rekayasa  agar jabatan yang didambakan itu dapat diraihnya, meskipun sampai mengorbankan orang lain. Dalam hal kepemimpinan, Allah telah memberikan gambaran bahwa bila menjadi pemimpin hendaknya dapat berlaku adil dan tidak menuruti kehendak hawa nafsu.

Abu Bakar  As-siddiq R.a  patut dijadikan contoh bagi seseorang yang diserahi jabatan kepemimpinan. Beliau telah menujukan suatu sikap yang tulus dan merupakan rangkaian akhlak yang pernah beliau tuturkan dalam pidato kenegaraan ketika diangkat menjadi khalifah. Berikut pidato beliau:

‘’Wahai manusia, sesungguhnya aku telah di angkat menjadi khalifah atas kamu, bukanlah karena aku yang terbaik dari kamu. Untuk itu, jika aku berbuat baik, bantulah aku, dan jika aku berbuat buruk luruskanlah aku. Sifat jujur berkata benar itu adalah suatu amanah, sedangkan kebohongan itu adalah penghianatan. Dari petikan pidato yang diucapkan Abu Bakar As-siddieq R.a tersebut dapat terlihat betapa beliau telah menunjukkan sikap tawaddu, terbuka dan siap untuk menerima kritikan. Begitu pula keamanahan serta kejujuran yang beliau ingin tegak kan bukan karena basa basi, tetapi suatu cermin keikhilasan dan ketulusan hati nurani beliau. Keagungan para pemimpin Islam merupakan buah hati dari ajaran kepemimpinan Rasulallah SAW.

Sebantar lagi kita akan memilih orang-orang hebat sebagai wakil kita dalam pemeritahan yang mengurus berbagai kepentingan rakyat. Dari itu janganlah salah memilih, pilihan sesusai tuntunan agama agar kita mendapatkan dunia dan akhirat, bukan dunianya saja. (zen) 2

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru