Logika Mahasiswa Desa Berpacaran

,- Mahasiswa jangan hanya cerdas teks book dalam menguasai berbagai mata kuliah di kampus, tetapi logika dan perhitungan untung rugi dalam berpacaran juga harus sejalan. Loh kok begitu! Apakah perlu pacaran pakai logika dan perhitungan? Seharusnya ini masalah hati dan tak bisa diukur dengan menggunakan logika praktis.

 

Dulu saat diskusi internal anggota Kelompok Penulis Ikhtiar (Kopikh) Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar di masjid kampus Baraya, pembina Kopikh, Prof. Dr. H Anwar Arifin, membagikan wawasan cerdasnya mengenai masa depan generasi muda, termasuk mahasiswa. Dalam diskusi bertajuk membuka wawasan mahasiswa tahun 80-an itu, dosen ilmu komunikasi Unhas, mengingatkan mahasiswa yang berpacaran agar tidak sentimentil, tetapi hendaknya menggunakan logika terapan yang bersandar pada asas manfaat dan peluang meraih sukses kuliah dan sukses berpacaran.
 
Dia menyarankan jika seorang mahasiswa berpacaran jangan mencari pacar yang harus masuk lorong sempit, tetapi carilah pacar yang tinggal di sekitar jalan protokol, jalan negara, atau jalan umum. “Artinya, asas manfaat yang diperoleh sang pacar mudah dijangkau dan dikunjungi. Kalau mau apel siang atau malam tidak banyak halangan dan rintangan, seperti jalan sempit susah masuk kendaraan, atau berpapasan dengan kendaraan lain dalam lorong yang sempit, dan lainnya,” katanya.
 
Dia menceritakan bagaimana dirinya jatuh bangun mendapatkan istrinya. Awalnya, susah mendapatkan kepercayaan sang pacar dengan kemampuan seorang mahasiswa yang datang dari desa dengan ukuran ekonomi pas-pasan dan hanya mengandalkan kecerdasan otak, apalagi hanya menggunakan sepeda motor butut. Tapi perjalanan cintanya tetap langgeng dan sangat membantu dalam meningkatkan ekonomi dan karir suami.
 
“Setelah kami menikah, isti saya pimpinan sebuah rumah sakit swasta di Makassar milik keluarga istri, sedangkan saya hanya dosen biasa saja,” kata dia saat diskusi dengan tema, “Hari ini menentukan Masa Depan”.
 
Coba bayangkan, kalau pacar harus melewati lorong sempit, selain susah diapelin, juga membutuhkan biaya perjalanan yang banyak dan melelahkan. Belum lagi dipelototin warga sekitar karena keseringan apel. Bahkan, ada teman saya yang babak belur digebukin anak muda karena terlalu larut malam apel di rumah pacarnya.
 
Tidak salah sih berpacaran dengan gadis atau pemuda yang tinggal di lorong sempit, katanya, tetapi logika mahasiswa kan harus cepat tepat dan praktis. Biasanya pacar yang punyah rumah di depan jalan protokol, terutama di kota-kota besar bisa dipastikan orang berada dan bila kesulitan uang kuliah karena telat kiriman dari kampung, pacar sangat mudah dimintai tolong. Sekalian menjajaki kesetiaan sang idaman hati.
 
Tentu ini berlaku bagi laki dan perempuan. Jadi seorang mahasiswa harus memiliki konsep masa depan menentukan hari ini, bukan hari ini menentukan masa depan. Artinya, memilih pacar harus diracang terlebih dahulu karena berkaitan dengan ikhtiar masa depan nanti. Pacar yang setia dan memiliki modal bisa diajak untuk merencanakan masa depan yang lebih baik. Buktinya, Nabi Muhammad SAW saja lebih memilih janda kaya sebagai bagian dari strategi masa depan. Wallahu A’lam. (AJI)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru