logoblog

Cari

Sambutan Menteri Nadiem Di Hgn, Kesadaran Paradoks Terhadap Tugas Guru

Sambutan Menteri Nadiem Di Hgn, Kesadaran Paradoks Terhadap Tugas Guru

Sambutan Menteri Nadiem di HGN, Kesadaran Paradoks Terhadap Tugas Guru   Oleh : Lalu Mungguh (SMAN 1 Gunungsari, Lombok Barat)  

Opini/Artikel

Lalu Mungguh
Oleh Lalu Mungguh
26 November, 2019 07:44:54
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 2074 Kali

Sambutan Menteri Nadiem di HGN, Kesadaran Paradoks Terhadap Tugas Guru

Oleh :

Lalu Mungguh

(SMAN 1 Gunungsari, Lombok Barat)

“Perubahan tidak dimulai dari atas, semuanya berawal dan berakhir di guru” (Mendikbud)

Teks sambutan Mendikbud dalam peringatan hari guru Nasional (HGN) tahun ini, adalah pengakuan nyata terhadap rumitnya dunia pendidikan kita. Dalam sambutannya, Mendikbud secara nyata memahami bahwa dunia pendidikan kita, masih terlalu banyak hal 'mubazzir' yang menghambat pencapaian tujuan pendidikan itu sendiri. Kesadaran Mendikbud ‘milenial’ ini, sekaligus membuka catatan-catatan panjang pengelolaan pendidikan di Negara kita. Sambutan yang jujur mengakui, bahwa ada banyak masalah pendidikan yang ‘membelenggu’ guru dalam menjalankan tugasnya.

Pernyataan Mendikbud yang mengakui catatan-catatan pendidikan kita tersebut, menjadi sebuah kesadaran paradoks. Paradoks antara yang dialami guru selama ini, dengan kebijakan-kebijakan pendidikan yang diterapkan pemerintah. Kebijakan-kebijakan yang sering ‘mengesampingkan’ pendapat dan masukan guru. Pendapat dan masukan yang mereka alami di sekolah dalam proses pembelajarannya.

Selain itu, Guru, sebagai ujung tombak pendidikan, sebenarnya pula, telah lama menyuarakan keinginan-keinginan mereka dalam berbagai bentuk dan wadah. Melalui pribadi-pribadi, ataupun organisasi-organisasi guru. Secara langsung maupun tidak langsung. Bersuara dalam diam maupun terang-terangan. Namun seperti biasa, pemerintah bergeming, jalan terus sesuai dengan pikiran dan pandangannya. Guru pun tak bisa apa-apa.

Pertanyaannya kini adalah, apakah pengakuan Mendikbud terhadap kondisi pendidikan di tanah air ini, juga akan mengubah arah dan kebijakan pendidikan selanjutnya? Tidak ada yang tahu, kita tetap saja akan menunggu. Terlebih guru, hanya bisa tetap menerima dan menjalankan. Tidak lebih.

Kurikulum dan Proyek Pendidikan

Berubah-ubahnya kurikulum pendidikan dalam waktu yang singkat dari waktu ke waktu, seringkali memunculkan persepsi, bahwa pergantian kurikulum kita, tidak jauh dari sebuah 'proyek' pendidikan. Proyek dengan biaya fantastis. Biaya yang menyedot APBN pendidikan yang lumayan besar. Anggaran yang sebenarnya bisa digunakan untuk kegiatan-kegiatan lain yang lebih tepat untuk pendidikan.

Tahun 2013, 2.49 triliun dikucurkan untuk melaksanakan kurikulm 2013. Rp. 1.09 Triliun digunakan untuk pelatihan guru. Pelatihan yang dihajatkan menyasar 1.1 dari 3.1 juta guru yang ada. Ini sama dengan menyasar 41% jumlah guru seluruhnya. Sedangkan durasi pelatihan k-13 ini adalah 52 jam. Masing-masing guru dijatahkan Rp. 1 juta selama pelatihan. (diolah dari berbagai sumber) Bagaimana hasilnya? Kita perlu jawaban jujur dan akuntabel dari semua pihak.

‘Proyek’ kurikulum yang terus berganti dan dengan anggaran besar itu, sangat dirasakan tidaklah dinikmati oleh guru. Padahal kita percaya, bahwa, seideal apapun kurikulumnya, tidak akan pernah bisa diterapkan dengan maksimal, apabila guru-guru di lapangan, tidak menemukan kondisi ideal sesuai keinginan kurikulum tersebut. Salah siapa?

Perubahan kurikulum dalam waktu singkat, juga tidak pernah mampu diterapkan secara menyeluruh di nusantara ini. Di beberapa sekolah kategori wilayah kota, K13 ada yang baru menerapkan secara menyeluruh dalam dua atau tiga tahun belakangan ini. Lalu, bagaimana dengan daerah pelosok di tanah air ini?

Kajian-kajian terhadap berbagai aspek kurikulum pendidikan kita pun, belum menemukan satu pondasi yang kuat. Pondasi yang seharusnya menjadi acuan dalam pengembangan pendidikan kita. Kondisi tersebut membuktikan bahwa orientasi perencanaan kurikulum pendidikan kita, masih belum jelas dan tegas. Kurikulum kita masih terkesan ‘coba-coba’ atau ‘yang penting’ dilaksanakan dulu. Soal hasil, jadi urusan kemudian.

 

Baca Juga :


Pelatihan Kreativitas dan Inovasi Pembelajaran

“Anda ditugasi untuk membentuk masa depan bangsa, tetapi lebih sering diberi aturan dibandingkan pertolongan” (Mendikbud)

Kita percaya seutuhnya bahwa, tingkat kreativitas dan inovasi guru dalam pembelajaran menjadi modal utama menghasilkan pendidikan yang bermutu. Kreativitas dan inovasi guru tersebut, tentu  pula tidak bisa didapatkan secara tiba-tiba. Pelatihan secara autodidak atau terprogram menjadi cara atau jalan untuk menghasilkan guru-guru kreatif dan inovatif. Inilah yang seharusnya terus didorong oleh pemerintah, swasta, maupun masyarakat.

Keterbatasan guru dalam mendapatkan akses pelatihan dari pemerintah, merupakan PR besar yang harus dituntaskan. Dulu hampir dipastikan bahwa, di setiap sekolah, masih ada guru yang jarang atau bahkan belum pernah mendapatkan pelatihan untuk menunjang tugasnya. Namun, saat ini, dengan berbagai inovasi pemerintah, pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kompetensi guru, terus digalakkan. In training-on training menjadi alternatif kegiatan dalam peningkatan kompetensi para guru.

Selain oleh pemerintah, para guru juga harus memacu dirinya untuk terus mengembangkan kompetensi secara mandiri. Para guru tidak lagi memiliki alasan untuk membatasi diri dengan berbagai hal dalam pengembangan diri. Guru harus terus merasa dituntut oleh siswa-masyarakat untuk memberikan pelayanan pendidikan maksimal. Pelayanan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Pendidikan yang mampu menjawab tuntutan zaman yang akan dihadapi oleh anak didik. Pendidikan yang berkualitas. Pendidikan kekinian yang berorientasi masa depan.

Apresiasi Tugas Guru

            “tugas Anda adalah yang termulia sekaligus yang tersulit” (Mendikbud)

Kutipan Pengakuan mendikbud dalam sambutannya tersebut, harusnya cukup menyadarkan berbagai pihak, bahwa tugas guru memanglah sulit. Kita memahami bersama bahwa, tugas para guru bukan hanya sebagai media transfer pengetahuan. Tugas guru jauh lebih berat manakala dihadapkan pada pendidikan dan pembentukan karakter anak bangsa. Tanggung jawab inilah yang membedakan tugas guru dengan pegawai lainnya.

Dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya yang berat tersebut, seorang guru tidaklah lepas keadaannya sebagai seorang individual seperti masyarakat lainnya. Seorang yang memiliki sifat-sifat terbatas dan di luar kendalinya. Sehingga dalam menjalankan tugasnya tersebut, guru terkadang bertindak di luar hal yang diterima masyarakat. Namun, alangkah sulit dipahami, apabila kemudian dalam menjalankan tugasnya tersebut, para guru dihadapkan pada aparat penegak hukum. Peristiwa yang sebenarnya mencoreng dunia pendidikan itu sendiri. Tidaklah mengherankan, apabila kini, guru-guru tidak berani menjalankan tugasnya dengan tegas. Akibat fatal dari pembiaran keadaan ini adalah gagalnya pendidikan nilai karakter yang diinginkan.

Profesi guru sewajarnya diapresiasi, didukung, dan dilindungi dalam setiap menjalankan tugasnya. Bukan malah dikriminalkan dan dijadikan pesakitan. Profesi yang sudah diakui sebagai profesi mulia dan sulit dibandingkan dengan profesi-profesi lainnya. Profesi sebagai salah satu penjamin masa depan bangsa.

 

Sambutan Mendikbud di HGN tahun ini, adalah angin segar bagi guru. Angin segar yang sangat diharapkan untuk segera dapat diterapkan di kelas-kelas. Angin segar dalam pembelajaran yang 'menolong’ guru keluar dari kungkungan aturan, tata tertib, administrasi, dan berbagai hal ‘kaku' lainnya yang menghambat pembelajaran. Pertolongan terhadap guru dalam menjalankan tugasnya. Bukan berbagai aturan yang menyibukkan guru di luar tanggung jawab dan tugasnya. pertolongan untuk berinovasi, berkreasi, dan mengembangkan pembelajaran di sekolah. Semoga kesadaran Mendikbud terhadap permasalahan pendidikan kita dalam sambutannya tersebut, menjadi acuan dalam menentukan kebijakan pendidikan. Aamiin… Selamat Hari Guru Nasional, Guru Penggerak Indonesia Maju!”

“Anda ingin membantu murid yang mengalami ketertinggalan di kelas, tetapi waktu Anda habis untuk mengerjakan tugas administratif tanpa manfaat yang jelas” (Mendikbud)



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan