logoblog

Cari

Sikap Ummat Islam Terhadap Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW

Sikap Ummat Islam Terhadap Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW

Sikap Ummat Islam terhadap perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW  oleh Tony Januar,S.Pdi   Diskursus seputar keabsahan Maulid Sejarah telah merekam sepak terjang

Opini/Artikel

H.DJOKO PITOYO,S.SOS
Oleh H.DJOKO PITOYO,S.SOS
31 Oktober, 2019 09:38:48
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 1377 Kali

Sikap Ummat Islam terhadap perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW  oleh Tony Januar,S.Pdi 

 Diskursus seputar keabsahan Maulid Sejarah telah merekam sepak terjang perjalanan panjang ummat Islam mulai dari masa rasulullah SAW, para Khalifah yang dilanjutkan dengan dinasti-dinasti Islamiyah yang menganut syistem kerajaan, monarki.

Seiring perjalanan waktu perkembangan ajaran Islam semakin pesat bahkan boleh jadi telah terkodifikasi terhadap budaya-budaya yang datang dari luar Arab.

Semenjak masa rosulullah Islam telah berhubungan langsung dengan bangsa-bangsa lain sehingga menimbulkan asimilasi kebudayaan hal ini mempengaruhi kebudayaan Islam yang cendrung Arabis menjadi budaya yang beraneka ragam dan ini juga mempengaruhi pada perkembangan Ilmu pengetahuan seperti Imam Hanafi yang beraliran, ro’yi/ rasional dengan Imam Maliki yang beraliran hadis / tekstual, kedua imam ini berbeda dalam kerangka manhaj karena letak geografis dan perbedayaan kultur masyarakat dalam memahami suatu teks normatif.

Dalam Islam perbedaan adalah suatu keniscayaan sebab selain rahmat perbedaan juga mampu meningkatkan kualitas ummat Islam dari segi keilmuwan dan struktur masyarakat sehingga membentuk peradaban yang utuh, sikap inilah yang seharusnya dilakukan oleh ummat Islam dalam mempersoalkan eksistensi Maulid Nabi Muhammad.

Namun belakangan ada sekelompok golongan menolak keberadaan maulid Nabi mereka berargumen bahwa setiap persoalan agama jika tidak dicontohkan oleh Nabi dan sahabat maka tertolak dan tergolong bid’ah dholalah-tercela. Penolakan mereka terhadap maulid berimplikasi pada sikap mereka terhadap ummat islam lainnya yang merayakan Maulid serangan-serangan fisik maupun psikis seringkali dilontarkan oleh mereka penyebutan Bid’ah,

Syirik, khurafat merupakan istilah yang disematkan bagi mereka yang menjalankan Maulid nabi padahal nabi melarang ummatnya untuk menyebut saudara sesamam muslim dengan istilah Syirik sebab jika hal itu tidak terbukti maka penyebutan itu akan kembali kepada yang menyebut. Dari sini dapat disimpulkan bahwa eksistensi maulid Nabi sebagai salah satu sarana untuk mendekatkan kita pada Rosulullah SAW menuai kontroversi dikalangan internal Ummat Islam.

 

Baca Juga :


Memang pada hakikatnya perayaan Maulid saat ini yang dikemas sedemikian rupa tidak pernah dicontohkan oleh nabi dan para sahabat. Lantas dengan demikian apakah maulid nabi tergolong perkara baru dalam agama sehingga tertolak dan termasuk sesat ??? jawabannya tentu tidak, secara etimologi maulid adalah memepringati hari kelahiran, pada masa rosulullah memang maulid tidak diraykan sebagaimana saat ini namun Nabi dalam salah satu hadis Soheh memuliakan hari kelahiran beliau dalam bentuk berpuasa setiap hari Senin, begitupun para sahabat tidak sedikit yang mengagungkan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. dalam hadis Rosululloh bersabda ; “

Dan demi Zat yang jiwaku berada ditangan-Nya (Demi Allah), tidaklah beriman salah seorang kamu sehingga aku kamu cintai daripada dirinya, hartanya, anaknya dan manusia seluruhnya. “ (HR. Al Bukhori) Mayoritas ulama mengatakan bahwa maulid nabi merupakan perayaan yang baik dan digolongkan sebagai Bid’ah hasanah sebab isi dari pada kegiatan ini adalah membaca kisah / sejarah nabi, bersholawat serta do’a, Allah bersabda ;

“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat (melimpahkan rahmat dan ampunan) kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman, hendak lah kalian bershalawat (mendo’akan rahmat) baginya dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. (Al-Ahzab : 56). Bahkan Ibnu Taimiyah mengatakan baik dan berpahala bagi mereka yang merayakan maulid Nabi (Majmu’ fatawa 23 ; 134) Meski tergolong perkara baru namun bukan berarti sesat,

jika pelaksanaannya diisi dengan kegiatan positif maka meski baru namun tetap mendapatkan pahala sebagaimana sabda nabi “ Siapa yang memulai kebiasann didalam Islam sebuah kebiasaan yang baik maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkan sunnah tersebut.

Setelah tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun . dan siapa yang memulai dalam Islam sebuah kebiasaan buruk maka ia mendapatkan dosanya dan dosa-dosa orang yang mengamalkan sunah terseebut tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun (HR. Muslim). Oleh sebab itu Maulid Nabi tergolong Bid’ah yang hasanah dan mereka yang mengamalkan dan mengerjakannya mendapat pahala kebaikan.



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan