logoblog

Cari

Diskursus Seputar Maulid Nabi Muhammad SAW

Diskursus Seputar Maulid Nabi Muhammad SAW

Diskursus Seputar Maulid Nabi Muhammad SAW  Oleh ; Toni Januar A, S.Pd.I Esensi-historis Maulid Nabi Muahammad SAW. Maulid Nabi merupakan sebuah

Opini/Artikel

H.DJOKO PITOYO,S.SOS
Oleh H.DJOKO PITOYO,S.SOS
31 Oktober, 2019 09:26:36
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 850 Kali

Diskursus Seputar Maulid Nabi Muhammad SAW  Oleh ; Toni Januar A, S.Pd.I

Esensi-historis Maulid Nabi Muahammad SAW. Maulid Nabi merupakan sebuah perayaan yang berasal dari endapan sejarah peradan Islam, keberadaanya tidak lebih dari sebuah proses budaya yang telah dilakukan oleh umat Islam pada masa lalu menurut salah satu riwayat maulid bermula pada masa Salahuddin Al Ayyubi beliau adalah pendiri dinasti Ayyubiyah di Mesir menggantikan Dinasti fatimiyyah yang beralran Sy’iah ada juga sebagain Riwayat mengatakan bahwa Maulid nabi berawal dari Bani Ubaid Al Qoddah atau yang lebih dikenal dengan Bani Fatimiyyah yang bermadzhabkan Syi’ah batiniyah.

Menurut pakar sejarah Islam, Al Maqrizy, meenjelaskan bahwa bani Ubaid Al Qoddah merayakan tidak lebih dari 25 perayaan yang tidak hanya dari perayaan Islam bahkan perayaan Nauruz (Tahun baru Persia), Al Gottos (Natal), dan ‘Adas (perayaan tiga hari sebelum natal) hal ini mengindikasikan bahwa pada mulanya maulid nabi di arahkan sebagai alat politik semata sehingga tidak jarang ulama yang menyatakan perbuatan ini sebagai bid’ah dholalah.

Dalam versi lain sejarah perayaan maulid bermula atas gagasan Abu Sa’id al-Qokburi seorang gubernur Irbil di Iraq pada masa pemerintahan Salahuddin Al-Ayyubi (1138-1193 M) ada yang mengatakan ide ini justru berasal dari Salahuddin itu sendiri. Motivasi dilaksanaknnya maulid nabi adalah untuk membangkitkan semngat juang dari pasukan Muslimin dalam menghadapi kaum nashrani dalam perang Salib dalam upaya memperbutkan Yuressalem.

Dari dua versi sejarah diatas berbagai asumsi dari kalangan muslimin dalam menanggapi sejarah permulaan maulid Nabi, bahkan menjadi patokan dan kerangka dalil dalam menolak atau menerima maulid Nabi, namun jika ditarik secara sitematis maka dua sejarah diatas sesungguhnya tidak bertentanagn melainkan terjadi secara berkesinambungan Dinasti Fatimiyyah yang berdiri pada abad ke 4 H terpaut jauh dari masa kehidupan Salahuddin Al Ayyubi disamping itu motivasi dalam melaksanakan Maulid juga berbeda sehingga secara riil historis tidak bisa dijadikan rekomendasi doktrin normatif dalam menolak atau menerima maulid nabi. Namun yang terpenting adalah niatan dan pelaksaannya tidak bertolak belakang dari aqidah islamiyah.

Pada esensinya Maulid Nabi adalah upaya untuk meningkatkan kualitas kecintaan dan keimanan kita kepada baginda nabi Muhammad SAW. dalam Al Qur’an Allah SWT berfirman ; “ Nabi itu hendaknya lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.” (QS. Al Ahzab : 6) Hal ini senada dengan sabda Nabi Muhammad SAW. beliau bersabda ;

 

Baca Juga :


“ Dan demi Zat yang jiwaku berada ditangan-Nya (Demi Allah), tidaklah beriman salah seorang kamu sehingga aku kamu cintai daripada dirinya, hartanya, anaknya dan manusia seluruhnya. “ (HR. Al Bukhori) Selain mempertebal keimanan kita maulid Nabi juga sebagai pengingat atas perjuangan Nabi serta meneladani sifat-sifat nabi Muhammad SAW.

sebab Allah memerintahkan kepada ummat Muslim untuk mengikuti jejak dan prilaku banginda Nabi Muhammad SAW. secara masif sebagaimana firman Allah SWT dalam Al Qur’an ; “Sesungguhnya telah ada pada (diri) rasulullah suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dab dia banyak menyebut Allah.” ( QS. Al ahzab : 21) Mengikuti dan mematuhi segala apa yang diperintah dan menjahui apa yang dilarang adalah bentuk aktualisasi dari kecintaan kita kepada baginda Nabi selain itu dengan mendengungkan sholawat serta puji-pujian dalam bentuk syair, puisi dan prosa juga dapat dikatakan sebagai implementasi kecintaan kepada baginda nabi.

Oleh sebab itu maulid nabi tidak lebih dari sekedar mengingat, mengenang dan berkontemplasi terhadap perjuangan baginda Nabi Muhammad SAW.



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan