logoblog

Cari

Pemerintah Pastikan Tembakau Petani Terserap Pasar

Pemerintah Pastikan Tembakau Petani Terserap Pasar

Gubernur Dr Zulkieflimansyah menyambut baik Pembelian Raya Tembakau di Lombok oleh perusahaan rokok Bentoel Group. Bersama pemerintah daerah Lombok Timur dalam

Opini/Artikel

suryadi jamie
Oleh suryadi jamie
15 Oktober, 2019 06:58:50
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 1581 Kali

Gubernur Dr Zulkieflimansyah menyambut baik Pembelian Raya Tembakau di Lombok oleh perusahaan rokok Bentoel Group. Bersama pemerintah daerah Lombok Timur dalam hal ini Wakil Bupati Lotim, H Rumaksi dan pimpinan Bentoel Group mencoba mengajak Bentoel untuk mencari solusi agar bisa membeli tembakau petani dengan harga yang layak dan wajar.

 

“Alhamdulillah dengan komunikasi yang baik Bentoel yang tadinya hanya membeli 9000 ton naik jadi 9500 ton”, ujar Gubernur.

 

Diharapakannya, dunia usaha yang lain membuka ruang seperti Bentoel untuk menaikkan pembeliannya sehingga tembakau petani Lombok bisa diserap sepenuhnya oleh pasar dan di masa depan, ditengah kelesuan industri rokok, petani mesti memikirkan untuk serius menjadi mitra dunia usaha agar ada kepastian harga dan pembelian.

 

Menurut Gubernur, para petani yang menjadi mitra dunia usaha relatif tidak punya masalah dalam menjual tembakaunya. Mereka dibimbing dari penanaman sampai dengan panen dan siap dibeli oleh mitra bersangkutan. Yang menjadi masalah adalah petani di luar mitra dunia usaha. Kalau harga bagus dan melonjak, para petani untung besar. Tapi kalau harga turun seperti sekarang menjadi sangat bermasalah dalam memasarkan tembakau mereka.

 

Dalam tiga tahun terakhir, rendahnya harga tembakau tahun ini disebabkan kerena banyaknya lahan yang ditanami tembakau dan kurangnya pembelian tembakau oleh gudang. Tak heran apabila tahun ini para petani berlomba-lomba menanam tembakau dikarenakan tingginya harga tembakau tahun 2018 lalu. Harga penjualan tembakau kering untuk daun pertama atau yang dikenal dengan istilah daun tanak yang dibeli oleh pengepul pada tahun lalu mencapai Rp2 juta rupiah perkuintal, kini hanya dihargai 700 ribu rupiah perkuintal. Harga jual tersebut tentu tak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan dalam pengelolaannya. Apalagi jika petani tersebut tidak memiliki oven sendiri, ia akan membayar harga pengovenan yang lebih besar.    

 

Rendahnya harga tembakau tahun ini juga diakibatkan pertumbuhannya yang tak setinggi tahun kemarin dengan kualitas lebar daun yang lebih kecil dari tahun kemarin. Pada tahun 2018 lalu, petani bisa melakukan delapan sampai sembilan kali pengovenan. Namun tahun ini petani hanya bisa melakukan pengovenan maksimal 6 kali. Harga yang sangat rendah dengan jangka waktu pengovenan yang pendek menambah keresahan masyarakat.

 

Pemprov NTB sendiri tetap optimis dan mengambil kebijakan yang dibutuhkan bagi petani tembakau terkait kuota pembelian tahun ini. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, Ir. H. Husnul Fauzi, M. Si tak memungkiri, musim tanam tembakau Virginia Lombok tahun 2019 ini mengalami peningkatan areal tanam dan produksi. Jika tahun lalu areal tanam tembakau Virginia Lombok 18.000 hektar sampai 20.000 hektar, tahun 2019 ini luasnya meningkat, bahkan diperkirakan mencapai 25.000 hektar. Karena tingginya animo petani tembakau.

Husnul Fauzi menyebut, peningkatan produksi juga diperkirakan bahkan mencapai 50.000 ton. Melebihi yang diperhitungkan oleh Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) sebanyak 40 ribuan ton. Sebelumnya, Asosiasi Pengusaha Tembakau Indonesia Provinsi NTB memproyeksikan petani tembakau Virginia pada tahun 2019 ini akan mengalami kerugian hingga Rp420 miliar.

Angka ini terbentuk dari menurunnya kuota pembelian tembakau oleh perusahaan mitra dengan beragam alasan. Tahun 2019 ini APTI memperkirakan lebih dari 10.000 ton tembakau petani tak bisa terbeli. Jika dikalikan dengan harga Rp42.000/Kg, sesuai harga pembelian tahun lalu. Terakumulasi kerugian petani akan mencapai lebih dari Rp400 miliar.

 

 

Baca Juga :


Keterangan Sahminuddin, Ketua APTI NTB beberapa perusahaan mitra petani tembakau misalnya, Djarum, tahun 2018 membeli 6.000 ton, tahun 2019 dikurangi menjadi 5.000 ton. Lalu Bentoel tahun 2018 membeli hingga 13.000 ton, tahun ini akan membeli hanya 8.000 ton. Kemudian PT. Sadhana, hanya 1.000 ton. Lainnya, banyak diantara perusahaan yang diketahui tak membeli tembakau tahun ini. Mengacu pada uraian di atas, pada musim tanam 2019 ini, akan terjadi kelebihan produksi dari permintaan antara 8.100 – 9.900 ton tembakau virginia. Jika diasumsikan harga rata-rata Rp42.500/Kg, maka hitung-hitungan APTI NTB, kerugian petani total akan mencapai Rp344 miliar hingga Rp420,75 miliar.

 

Melihat penawaran lebih besar dari permintaan, maka boleh jadi harga tembakau virginia tahun 2019 ini lebih rendah dari tahun kemarin. Ini akan membuat petani kurang untung, bahkan akan merugi. Seperti tahun 2000-an. Rekomendasinya, perlu ada langkah awal pemerintah daerah untuk mengantisipasi dampak yang muncul pada musim tanam tahun 2019 ini. Bila tidak, menurut Sahminuddin, sejarah memungkinkan akan terulang kembali. Demo para petani tembakau virginia Lombok, terutama yang tidak terserap produksinya, seperti yang terjadi pada tahun 2.000, dan 2001.

 

“Ndak benar itu (proyeksi APTI),” sangkal Husnul. Produksi tembakau Virginia Lombok sebelumnya pernah mencapai 52.000 ton. Pembelian tembakau oleh perusahaan tetap jalan. Asal tetap dilaksanakan pembelian hingga bulan Januari – Februari. Akan tetapi, yang perlu dilakukan antisipasi, overload dari produksi, pada bulan September – Oktober perusahaan harus mulai melakukan pembelian.

Pemprov NTB mendorong agar petani berproduktifitas yang lebih baik dengan treatment-treatment tertentu yang notabenenya selama dua tahun yang sebelumnya dapat ditingkatkan kenaikan produktivitas produksi menjadi 1,9 ton/hektar daun kering.

Jumlah perusahaan yang akan melakukan pembelian, dari sebanyak 21 perusahaan sekitar 12 perusahaan sampai 14 perusahaan akan konsisten membeli. Akan dioptimalkan perusahaan-perusahaan untuk melakukan pembelian. Walaupun, kata kepala dinas, di dalam Perda diwajibkan kepada perusahaan untuk melakukan pembinaan kepada petani.

Tetapi dalam kondisi yang diproyeksikan tahun 2019 ini terjadi overload produksi, wajib hukumnya intervensi kepada perusahaan-perusahaan untuk datang membeli.

Menurut Ketua Serikat Tani Nasional (STN) NTB, Irfan, sebagian besar petani di Lombok masih mengandalkan komoditi tembakau, sekali musim dalam setahun. Tembakau virginia Lombok dikenal sebagai tembakau terbaik di dunia selain tembakau virginia Brazil. Produksi tembakau virginia Lombok juga menjadi penyumbang terbesar untuk kebutuhan industri rokok nasional, mencapai 80 persen dari kebutuhan. Hanya saja, modal menanam dan ongkos produksi yang dibutuhkan untuk tembakau jenis virginia ini juga tidak sedikit.

"Petani kebanyakan ambil utang untuk menanam tembakau ini. Nah jika kemudian ada persaingan yang membuat pasar rusak, dan hutang petani tembakau tidak mampu dibayar, maka jalan satu-satunya adalah menjadi buruh migran ke luar negeri. Mereka akan menjadi TKI demi menutup hutang, ini kan seringkali terjadi," tukas Irfan.

Dari sisi pendapatan negara dan daerah, Irfan memaparkan, Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) juga cukup tinggi.

DBHCHT yang diperoleh NTB pada 2018 mengalami peningkatan dari pemerintah pusat sebesar Rp248,8 miliar lebih, meningkat menjadi Rp295,6 miliar lebih di tahun 2019 ini.

Petani berharap dana ratusan miliar yang digelontorkan pemerintah pusat tersebut diperbanyak untuk menyentuh petani tembakau yang ada di NTB. (jm – timedia – dari berbagai sumber).



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan