logoblog

Cari

Rancangan Undang-Undang Diserang, Papua Perang

Rancangan Undang-Undang Diserang, Papua Perang

  Oleh : Didik Sri Hartawan (Ketua Umum HMI Komisariat Fakultas Hukum Unram) Terhitung mulai tanggal 24 september 2019, penolakan terhadap beberapa rancangan undang-undang

Opini/Artikel

Uba Leu
Oleh Uba Leu
30 September, 2019 07:15:55
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 4369 Kali

 

Oleh : Didik Sri Hartawan (Ketua Umum HMI Komisariat Fakultas Hukum Unram)

Terhitung mulai tanggal 24 september 2019, penolakan terhadap beberapa rancangan undang-undang terjadi dibeberapa daerah, penolakan tersebut berawal dari beberapa kandungan rancangan undang-undang yang dianggap multi tafsir, bahkan beberapa kandungan pasal dianggap tak sesuai dengan kehidupan sosial. Disatu sisi undang-undang KPK ikut terseret dalam problem penolakan karena dianggap undang-undang KPK yang sudah disahkan akan melemahkan fungsi KPK.

Kaca mata hukum mengharuskan setiap pembaca dan penikmat memahami hukum bukan hanya secara tekstual, akan tetapi dalam memahami kandungan hukum harus dipahami secara kontekstual, filosofis yang berujung pada kepastian, kemanfaatan dan keadilan.

Disatu sisi Konstitusi menjamin hak warga negara untuk mengekspresikan diri, berkumpul dan berserikat, maka hak kontrol masyarakat menjadi sebuah keharusan dalam mencapai tujuan Negara. (harus ada pressure control).

Bung, problem Indonesia bukan hanya berbicara Rancangan Undang Undang…!

Sebagai mana dilansir oleh Merdeka.com, Kerusuhan yang terjadi di Wamena, Papua berdampak terhadap 5.500 warga yang mengungsi. Kini, warga darurat membutuhkan kebutuhan sehari-hari lantaran saat mengungsi ke markas Komando Distrik Militer 1702 Jayawijaya hanya membawa baju yang menempel di tubuh mereka. Sebagian besar mereka membutuhkan pakaian, makanan, dan barang-barang keperluan anak dan perempuan.

Komandan Distrik Militer 1702 Jayawijaya Letkol Inf Candra Dianto di Jayapura, Sabtu, mengatakan bahwa warga yang mengungsi di markas Kodim umumnya hanya membawa baju di badan saat berusaha menghindari dampak kerusuhan di Wamena.

Sementara, bantuan pangan pokok dari pemerintah untuk pengungsi korban kerusuhan Wamena, menurut dia, saat ini baru difokuskan ke satu posko pengungsian.

Tidak ingatkah kita sebagai warga negara?

Bagaimana gejolak dalam memepertahankan papua sehingga saudara-saudara kita di Papua rela dan siap ikut bergabung dalam Tubuh NKRI.

Berawal dari Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada 1969 menandai sejarah baru di Papua bagian barat. Referendum dilakukan untuk menentukan apakah Irian Barat bersedia bergabung dengan Republik Indonesia atau merdeka. 

Papua Barat akhirnya memang menjadi bagian dari NKRI kendati proses dan validitas hasil Pepera masih menjadi teka-teki.

Ada Apa Dengan Papua…?

Ada yang menarik dalam setiap pergantian rezim kekuasan ditiap periodenya, mulai dari zaman perpindahan rezim dari orde lama ke orde baru menunjukkan sangat jelas bahwa tanah papua selalu menjadi perbincangan hangat disetiap moment, Soekarno yang anti asing dalam melaksanakan pembangunan terbantahkan oleh Soeharto, bagi Soeharto untuk mengatasi krisis ekonomi maka Papua harus masuk menjadi bagian dari NKRI, Pola perjuangan BERDIKARI diperbaharui melalui pola perjuangan INVESTASI.

Pemilu presiden Tahun 2019 lagi-lagi tanah Papua tidak pernah absen dalam setiap denyut perebutan kekuasaan di Indonesia.

Riuhnya visi disetiap pergantian rezim tidak berbanding lurus dengan sistem kehidupan sosial masyarakat Papua. Papua yang menjadi surga dunia bagi para pemilik modal penghuninya tak diabaikan, tidak punya malukah kita?

 

Baca Juga :


Dalam data Freeport, dalam setiap ton konsentrat 26,5% adalah tembaga, Lalu setiap ton konsentrat mengandung 39,34 gram emas. Kemudian dalam setiap ton konsentrat mengandung 70,37 gram perak.

"Jadi kami produksi 240 kg lebih emas per hari dari Papua", kata Tony di Gresik, Sabtu (24/8/2019). Namun emas ini berada dalam konsentrat, atau pasir hasil olah batu tambang.

 

Freeport saat ini memiliki tambang tembaga dan emas bawah tanah terbesar di dunia, yang terus dikembangkan. Tambang bawah tanah ini bisa menghasilkan 3 juta ton konsentrat per tahun. (CNBC Indonesia).

Konflik Papua atau Konflik Penguasa…?

Berawal dari keributan mahasiswa Papua di surabaya, berlanjut ke beberapa daerah dan berujung pada konflik horizontal di Papua yang sampai saat ini sudah banyak memakan korban jiwa.

Ada yang janggal dari sekian problem yang hadir ditubuh NKRI, berawal dari kisruh Pemilu dilanjutkan ke isu rencana pemindahan ibu kota negar, dilanjutkan dengan kebakaran hutan, RUU seakan akan dipaksakan selesai akhir tahin 2019, konflik papua yang berkepanjangan.

Mari kita cek…!

Dalam bukunya Ralf Dahrendord "Class and Class Conflict in Industrial Society”. 

Masyarakat ialah bahwa setiap masyarakat setiap saat tunduk pada proses perubahan, dan pertikaian serta konflik ada dalam sistem sosial juga berbagai elemen kemasyarakatan memberikan kontribusi bagi disintegrasi dan perubahan. Suatu bentuk keteraturan dalam masyarakat berasal dari pemaksaan terhadap anggotanya oleh mereka yang memiliki kekuasaan, sehingga ia menekankan tentang peran kekuasaan dalam mempertahankan ketertiban dalam masyarakat.

Bagi Dahrendorf, masyarakat memiliki dua wajah, yakni konflik dan konsesus yang dikenal dengan teori konflik dialektika. 

Teori konflik harus menguji konflik kepentingan dan penggunaan kekerasan yang mengikat masyarakat sedangkan teori konsesus harus menguji nilai integrasi dalam masyarakat. Bagi Ralf, masyarakat tidak akan ada tanpa konsesus dan konflik. Masyarakat disatukan oleh ketidakbebasan yang dipaksakan. Dengan demikian, posisi tertentu di dalam masyarakat mendelegasikan kekuasaan dan otoritas terhadap posisi yang lain.

Papua sekan akan menjadi lecutan setiap konflik horizontal yang terjadi di indonesia, akankah riuhnya konflik akan menacu pada sistem perbaikan kehidupan rakyat? ataukah sebaliknya konflik ini akan berujung pada kehancuran negara?

"INDONESIA JANGAN TERFOKUS MEMBAHAS SELANGKANGAN KARENA INDONESIA SEDANG MENJADI TUMPUAN ROODMAP DUNIA GLOBAL"



 
Uba Leu

Uba Leu

Fitrah Zaiman biasa dipanggil Uba Leu lahir di Desa Leu Sila, anak kedua dari pasangan Deo Uba Tika dan Faridah, Adik dari Al Amin dan Abang dari Rabiatul Adawiah. #HiduplahMenghidupkan#

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan