logoblog

Cari

Melestarikan Peradaban (Pendidikan Dan Budaya) Melalui Literasi

Melestarikan Peradaban (Pendidikan Dan Budaya) Melalui Literasi

Persoalan keterampilan guru dalam menulis belakangan ini menjadi sorotan yang kian mendalam. Persoalan ini seiring pula dengan kebijakan pemerintah yang mengeluarkan

Opini/Artikel

Melestarikan Peradaban (Pendidikan Dan Budaya) Melalui Literasi


Lalu Mungguh
Oleh Lalu Mungguh
16 September, 2019 10:50:04
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 1292 Kali

Persoalan keterampilan guru dalam menulis belakangan ini menjadi sorotan yang kian mendalam. Persoalan ini seiring pula dengan kebijakan pemerintah yang mengeluarkan peraturan tentang jenjang kenaikan pangkat guru dari pangkat/golongan III/b ke atas harus bisa menghasilkan sebuah karya tulis. Reaksi guru pun muncul dalam berbagai bentuk. Bahkan organisasi guru tertua dan terbesar di negeri ini melalui para pengurusnya melayangkan protes kepada pemerintah dengan alasan bahwa tugas utama sebagai pendidik profesional, adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, dan mengevaluasi peserta didik dan yang jelas bukan menulis. Protes ini pun belum membuat pemerintah bergeming. Maka kewajiban guru untuk menghasilkan karya tulis masih harus tetap dijalankan.

Pun periode kenaikan pangkat tahun ini. Beberapa teman sudah mulai panik untuk memenuhi persyaratan menyusun karya tulis  (PTK dan sejenisnya) demi pengajuan Daftar Usul Kenaikan Pangkat (DUPAK) ke dinas terkait. Pengalaman nyata yang saya alami adalah bahwa ada persepsi ‘menggampangkan’ penyusunan karya tulis-karya tulis ilmiah atau sejenisnya. Penggampangan ini terlihat dari sikap teman-teman yang mencoba mencari tahu, meminta contoh atau bahkan meminta disusunkan sebuah PTK dalam jangka waktu kurang dari seminggu.

Persepsi ‘menggampangkan’ ini sekilas bukan merupakan kekeliruan. Namun, secara logika, menyusun sebuah proposal PTK saja ternyata membutuhkan waktu yang relatif banyak. Apalagi akan sampai menjadi karya tulis ilmiah (PTK) yang utuh dan bisa dipertanggungjawabkan proses serta hasil penelitian yang dilakukan itu. Selain itu, perilaku para pendidik yang ‘meminta’ disusunkan sebuah hasil penelitian ini, jelas tidak akan diterima sebagai perilaku yang bertanggung jawab. Perilaku yang ‘membolehkan’ segala cara demi sebuah angka kredit. Perilaku yang mengancam pembangunan dan karakter pendidikan kita.

Bila ditarik keterkaitan antara keterampilan menulis yang harus dilakukan guru dengan kewajiban mengajarnya maka akan didapatkan titik temu bahwa tuntutan kepada guru untuk menghasilkan sebuah karya tulis tidak terlepas dari rendahnya minat baca kita. kondisi minat baca Indonesia saat ini memprihatinkan. Indonesia merupakan negara kedua dari bawah dalam budaya membaca, lebih tepatnya menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara yang terdata, satu tingkat di atas Bostwana untuk kawasan ASEAN. Hal ini juga memperkuat pernyataan sastrawan kita, Taufiq Ismail bahwa kita sedang menghadapi tragedi Nol Buku. Tragedi Nol Buku ini adalah pernyataan/simpulan Taufiq Ismail atas penelitian yang dilakukannya menyangkut kewajiban membaca buku sastra pada siswa sekolah (SMA). Diantara sekian negara yang ditelitinya, ternyata kita (Indonesia), belum ada satu presiden pun, atau menteri pendidikan, atau dinas pendidikan yang pernah mencanangkan kegiatan wajib membaca karya sastra di sekolah. (Satria Darma, 2014)

Suandi (2008) menyatakan bahwa jika menulis dapat memotivasi seseorang untuk membaca, maka konsekuensinya adalah perlu adanya gerakan menulis, dalam hal ini menulis karya ilmiah di kalangan guru. Tanpa adanya semacam tuntutan untuk menulis, guru enggan untuk membaca. Jika guru enggan atau malas membaca bagaimana mungkin guru dapat meningkatkan kompetensinya. Glenn Doman dalam bukunya How to Teach Your Baby to Read (1991 : 19). Dengan kemampuan membaca yang membudaya dalam diri setiap anak (orang), maka tingkat keberhasilan di sekolah maupun dalam kehidupan di masyarakat akan membuka peluang kesuksesan hidup yang lebih baik. Farr (1984) menyebutkan “Reading is the heart of education” MEMBACA ITU JANTUNGNYA PENDIDIKAN. (Satria Dharma, 2014).

 

Gerakan 1000 Guru  Menulis

Gerakan 1000 Guru Menulis’ yang telah dicanangkan pada Sabtu, 16 April 2016 oleh sebuah organisasi Literasi dan didukung oleh berbagai kalangan, baik swasta maupun pemerintah, dalam hal ini Kemendikbud di Gedung F, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), adalah salah satu upaya yang harus didukung penuh oleh semua pihak. Upaya-upaya meningkatkan kompetensi menulis para guru, sejatinya juga harus lahir dari organisasi-organisasi profesi guru sebagai bentuk tanggung jawab moral guna menjaga dan meningkatkan layanan profesional guru. Sehingga Kesan bahwa guru hanya menuntut hak tanpa diimbangi dengan peningkatan kualitas pelayanan dan kompetensi profesional selama ini bisa dikikis hilang.

Bila kegiatan menulis dipandang sebagai sebuah langkah meningkatkan kompetensi profesional guru, maka gerakan 1000 guru menulis ini hendaknya disambut dan digalakkan di seluruh penjuru nusantara. Gerakan 1000 guru menulis ini dilatarbelakangi dengan pandangan bahwa Indonesia selalu mendapatkan peringkat buruk dalam berbagai survei kemampuan membaca di antara banyak negara di dunia. Kondisi tersebut tentu sangat disayangkan dan perlu menjadi perhatian khusus. Atas kondisi tersebut, menggerakkan budaya literasi, yakni pada kemampuan membaca dan menulis menjadi salah satu upaya gerakan ini. Setiap guru dan siswa harus dibiasakan membaca dan menulis di sekolah. Ia melihat pentingnya membaca dalam kehidupan.

Provinsi Literasi

George dalam Muhammad Tawwaf (2016) mendefinisikan literasi informasi mencakup seperangkat keterampilan untuk memecahkan masalah ataupun untuk membuat keputusan, baik untuk kepentingan akademisi ataupun pribadi, melalui proses pencarian, penemuan dan pemanfaatan informasi dari beragam sumber serta mengkomunikasikan pengetahuan baru ini dengan efisien, efektif dan beretika.

Definisi di atas menjelaskan manfaat dan kegunaan kegiatan literasi dalam melakoni dan menjalankan kehidupan. Kegitan literasi merupakan modal penting untuk menyelesaikan masalah-masalah hidup yang dihadapi. Dengan memiliki literasi yang banyak dan kuat, maka akan ada jaminan bahwa seseorang akan mampu menyelesaikan permasalahan hajat hidup yang dihadapinya.

Provinsi NTB telah mendeklarasikan dirinya sebagai Provinsi Literasi tepat pada hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2016 yang lalu, maka ada konsekuensi yang harus dijalankan, yaitu terus memacu sinergitas, melengkapi sarana prasarana yang dibutuhkan, sehingga program ini bisa berjalan maksimal sesuai keinginan.

Provinsi Literasi ini juga sebagai bentuk pengukuhan diri untuk terus giat berusaha mengentaskan keterbelakangan kita di bidang pendidikan. Seperti yang disampaikan oleh Wakil Gubernur  bahwa program literasi di NTB ini dapat menjadikan Pendidikan NTB menjadi lebih maju. Program lietrasi ini akan membentuk pola pikir siswa juga guru, semakin diasah dengan pendayagunaan segala bentuk media sebagai sumber pelajaran. Kegiatan literasi lebih dari sekedar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir tingkat tinggi menggunakan sumber pengetahuan dalam berbagai media. Tujuan utama program ini tidak lain adalah agar masyarakat, siswa, guru dan segenap kalangan mampu menjadi inisiator pemecahan masalah yang kita hadapi.

 

Baca Juga :


 

Menulis dan Pelestarian Peradaban Pendidikan serta Budaya

Penyebaran dan keawetan sebuah budaya yang dimiliki oleh suatu kaum, etnis ataupun suku bangsa, tidak akan mampu bertahan lama selama etnis atau suku bangsa tersebut hanya mewariskan melalui budaya lisan/budaya tutur. Budaya lisan yang telah berkembang selama berabad-abad ini, tidak mampu menjaga kelestarian berbagai peninggalan sebuah masyarakat. Semua hilang dan punah begitu saja. Hal ini dapat dimaklumi sebagai sebuah kelemahan yang dimiliki oleh budaya lisan (tutur) itu sendiri. Kekuatan dan kejelian seseorang untuk mengingat peristiwa-peristiwa yang dilihat, didengar dan dirasakan tidak akan mampu bertahan lama bila tidak bersegera dituangkan dalam tulisan.

Relief-relief yang membekas dari peradaban sabuah kaum, yang ditemukan pada situs-situs kuno, ternyata mampu digali kembali mengenai latar belakang budaya sebuah suku bangsa. Tentu hal ini tidak akan mampu digali dengan cepat apabila hanya berlandaskan pada asumsi ‘katanya’, yang menyebar dari mulut ke mulut. Hal ini mengindikasikan bahwa budaya tulis (tulisan) jauh lebih memiliki jaminan peradaban yang diakui maju dibandingkan dengan budaya tutur.

Melihat hal ini, maka kiranya tidak keliru lagi, apabila kita terus belajar untuk melestarikan budaya-budaya yang kita miliki melalui kegiatan menulis. Tulisan masih dan akan tetap menjadi cerminan sebuah negara dikatakan maju, berperadaban dan absolut. Tulisan juga akan menjadi  bukti otentik terhadap sebuah keputusan, ide-ide, gagasan-gagasan yang telah dibuat dan diciptakan oleh seseorang atau sebuah komunitas. Tulisan juga secara langsung telah menjamin seseorang untuk memiliki dan bertanggung jawab terhadap sesuatu yang telah dikemukakannya. Tentu hal ini berbanding terbalik dengan sekedar statemen yang diucapkan sesorang yang oleh berbagai kepentingan sering ‘dilupakan’ apabila dituntut kemudian waktu.

Di bidang pendidikan, kegiatan menulis memang sudah seharusnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Kita tentu tidak bisa membayangkan apabila penemuan-penemuan besar para tokoh dunia, hilang dan lenyap begitu saja tanpa sempat ditulis. Bahkan kitab suci-kitab suci yang menjadi pegangan umat beragama, tidak akan mampu bertahan sampai saat ini, apabila orang-orang terdahulu mengabaikan budaya menulis dalam kehidupan mereka.

Maka, sudah sewajarnyalah para penggerak dunia pendidikan, baik dari level terbawah, masyarakat, siswa, guru, sampai pada level para akademisi di kampus-kampus terus menggalakkan budaya menulis. Budaya ini untuk menjaga sekaligus melestarikan proses dan perkembangan dunia pendidikan. Proses dan perkembangan dunia pendidikan kita ini, akan menjadi dokumentasi yang bermakna bagi kelanjutan dan kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemangku/pemerintah dalam memajukan pendidikan dan peradaban.

Akhadiah dalam Suandi (2008) mengatakan bahwa menulis membawa seseorang mengenali potensi diri, memperluas cakrawala, mendorong seseorang belajar aktif, dan membiasakan seseorang berpikir dan berbahasa secara tertib. Melalui kegiatan menulis, seseorang dapat merekam, memberitahukan, meyakinkan, dan mempengaruhi orang lain. Bahkan, Suandi (2008) juga menegaskan dengan pernyataan Tarigan (1984:4) bahwa menulis merupakan suatu ciri orang terpelajar atau bangsa terpelajar.  Pernyataan ini dengan jelas memosisikan kekuatan tulisan sebagai alat/ciri sebuah bangsa yang beradab dan terpelajar. Alat atau ciri yang akan diraih apabila semua komponen masyarakat mendukung dan bahu membahu menciptakan masyarakat yang melek Literasi. Membaca kemudian menulis harus disandingkan sebagai pasangan yang tidak boleh terpisahkan.  Bukankah kita ingin menjadi bangsa yang beradab dan terpelajar?

Penutup

Ade Faizal Alami (2016), dalam artikelnya Pram dan Sekuntum Nyinyir untuk Mahasiswa menganalisis kekuatan, juga pelajaran-pelajaran tentang hebatnya kegiatan menulis yang dilakukan oleh Pram seperti kutipan berikut:  Tulisan adalah peluru, begitulah menurut sastrawan Pulau Buru, Pramudya dalam. Lebih jauh, Pramudya juga menyindir para terpelajar, guru, mahaiswa dan lainya dengan kutipan kalimat-kalimat dalam tetralogi novel Pulau Buru-nya bahwa “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah” (Minke: Rumah Kaca, hal. 352). Melalui ucapan tokoh Nyai Ontosoroh kepada tokoh Minke, Pram juga berujar: “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. (Mama, hal. 84)

Kutipan-kutipan di atas mengungkapkan manfaat besar kegiatan menulis. Maka, bagaimanapun pesat dan majunya pembangunan, budaya dan pendidikan, jika tidak terdokumentasikan dalam tulisan, ia akan hilang tanpa bekas. Semoga  gerakan literasi atau provinsi Literasi yang telah dicanangkan menjadi awal penguatan kembali makna ,fungsi dan manfaat besar kegiatan membaca dan menulis guna menjaga kelestarian peradaban pendidikan kita. aamiin...



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan