logoblog

Cari

Tatakramah

Tatakramah

“Tatakramah hanya untuk orang bawah, sedangkan orang atas seakan-akan tak ada etika”. Miris hidup tanpa tatakramah, menjadi semakin rumit jika hanya

Opini/Artikel

KM Sengotamase
Oleh KM Sengotamase
11 September, 2019 23:27:44
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 1802 Kali

“Tatakramah hanya untuk orang bawah, sedangkan orang atas seakan-akan tak ada etika”. Miris hidup tanpa tatakramah, menjadi semakin rumit jika hanya orang-orang atas saja yang berseteru “Hidup Harus Beretika”. Tak sadar bahwa sejauh kaki melangkah tangan pastilah mengikutinya. Bahkan dengan hal etika itu pula orang banyak terjebak dengan teka-teki girah.
Entah karena apa stimulus itu muncul, hingga mengganggu istrihat saya ditengah malam suntuk tanpa kegiatan, hanya membayangkan andheb asor, hingga tiba-tiba saya harus menulis Opini Tatakrama. Pentingkah? Sayapun tak paham.
Barang mungkin tulisan ini mirip dengan gagasan tanpa gugatan, peraturan jelas bukan untuk perorangan saja atau kelompok, bahkan kita tak ubahnya dengan pohon yang butuh akar untuk menjadi besar, bukan seperti daun, lalu kering, jatuh, hingga dihempas angin. 
Jelas sudah, etika bukan hanya untuk orang bawah saja, tapi plopor utama adalah orang atas.
Mengklaim bau tak begitu nyaman bagi orang-orang bawah sangatlah tak wajar, jika orang-orang atas hanya menyatakan manusia tanpa dosa. Mengapa? Rasanya tak dapat memberi argument bagi orang-orang bawah, yang harus dituntut mengiyakan apa yang dianggap baik untuk orang-orang atas. Hingga tatakrama saling menghargaipun pupus tertelan tanpa etika.
Pasnya hidup tanpa etika itu mirip dengan matinya Imam Ahmad karena mempertahankan pendapatnya. Bersikukuh bahwa Al-Qur’an itu bukan makhluk, sehingga dia harus mati dalam penggalan algojo raja yang tak pasti benarnya. Bahkan kematiannyapun dikecam keliru oleh pengikut Imam Ahmad. Tak ada tatakrama saling menghargai, semua harus dibayar dengan nyawa sekalipun.
Memang sangat lucu, jika seorang pemimpin perang harus menuntun kuda perajuritnya, atau majikan yang menyediakan makanan untuk budaknya, atau mungkin makan dalam satu piring sebagai kebersamaan. Semua harus teratur, yang bawah harus mengikuti yang atas, yang atas tak mau mendengarkan pendapat orang bawah, semua serba serbi tanpa kepastian.
Mungkin tak wajar, jika kacang lupa pada kulitnya, ataupun gelar guru didapat karena kepandaiannya, bahkan tak sadar, tak akan bermanfaat tanpa ada harga mati dari sosok bawahan. Semua serba membutuhkan dan saling dibutuhkan. Tatakramah, etika mungkin saling kita jaga.
“Air dan minyak tak mungkin dapat bersatu, tapi bukan tak bisa untuk berdampingan”, orang atas yang dekat dengan bawahannya, bukan berarti dia harus terhina karena kedekatannya. Semua tergantung sikap dan tutur bicara yang dijaga, tak menyinggung atau membuat bingung. Teratur dan sesuai aturan. Semua mungkin berjalan dengan baik dan sempurna.
Tulisan ini, bukan mengajak untuk saling membenci atau menghina, saling menjauhi dan terjauhi, atau saling mengecam dan dikecam. Karena katagori hidup tak lepas dari butuhnya orang terhadap orang lain. Menganggap tak butuh, maka itu kebohongan besar. Menganggap tak perlu itupun bukan kebenaran. “Tanpa perenungan yang dalampun dalam kehidupan sehari-hari, kita tahu bahwa kita butuh pada orang lain”. Pasti tak ada yang tak mempunyai salah atau permasalahan. Maka semboyan saling melengkapi pastilah diperlukan, untuk menapaki hidup yang dinamis.
Tradisi tatakrama tanpa etika itu tak ubahnya dengan fenomena-fenomena zaman jahiliyah, menyembah berhala dianggap kebenaran, etika terhadap nabi utusan, ucapan dan ajakan dianggap kebohongan bahkan tak ubahnya dianggap fitnah.
Bawahan yang tak mengikuti apa yang dikatakan oleh atasan dianggap pemberontak, sedangkan atasan tak mau mendengarkan komentar bawahan, tak ada Like, semua harus beraturan. Apakah salah jika seorang murid misalnya mematahkan pandangan atau pendapat gurunya, tanpa mengikutinya. Sedangkan murid itu mempunyai pendapat yang sesuai dengan jalur. Saya kira tak perlu terlalu mengecam, sadar diri tentang tingkah laku itu lebih penting, dari pada harus repot-repot menyalahi orang yang tak mengikuti pendapat.
Entahlah! Semua harus beraturan tanpa serpian. Tak perlu memisahkan diri dari bawahan, seharusnya atasan lebih mengutamakan etika kebersamaan.

"Karya Penulis Goblok"

(i)

 

Baca Juga :




 

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan