logoblog

Cari

Analisis Masa Depan Ideologi Bangsa Dan Ideologi Islam Dalam Menjaga Keutuhan NKRI

Analisis Masa Depan Ideologi Bangsa Dan Ideologi Islam Dalam Menjaga Keutuhan NKRI

  Oleh: Zainudin Indonesia merupakan suatu Negara kesatuan yang memiliki keberagaman suku, agama, ras, budaya dan adat-istiadat. Mulai dari Sabang sampai

Opini/Artikel

Uba Leu
Oleh Uba Leu
10 September, 2019 10:27:54
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 1207 Kali

 

Oleh: Zainudin

Indonesia merupakan suatu Negara kesatuan yang memiliki keberagaman suku, agama, ras, budaya dan adat-istiadat. Mulai dari Sabang sampai dengan Merauke berjajar pulau-pulau sambung menyambung menjadi satu kesatuan itulah Negara Indonesia, teringat sama nyanyian. Begitu juga dari segi budaya dan bahasa jika dikalkulasikan jumlah keseluruhan budaya dan bahasa yang ada kemungkinan tidak bisa menentukan jumlahnya, baik itu budaya dan bahasa local maupun nasional, Namun di dalam keanekaragaman budaya, bahasa maupun agama ini menimbulkan berbagai persoalan yang dihadapi oleh bangsa yang besar ini, dan bahkan akan mengancam keutuhan NKRI serta pancasila sebagai landasan dasar Negara.

Problematika yang dimaksud adalah merebaknya konflik diberbagai daerah, peperangan antar suku, agama dan sebagainya, pada dasarnya timbulnya persoalan di atas merupakan gambaran dari ketidakpahaman atas ideologi Negara. Penghayatan dan pengimplementasian nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila belum mampu diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga penanam tentang ideologi bangsa dan Negara akan menjadi urgen untuk mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi oleh bangsa ini.

Ideologi bangsa adalah landasan dasar yang menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa, Negara Indonesia memiliki dasar Negara yakni pancasila yang dirumuskan oleh badan penyidik usaha persiapan kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), sekitar tahun 1900an tepatnya pada tanggal 29 mei sampai 1 juni 1945. Pada saat itu, falsafah pancasila pernah mengalami refisi. Dalam batang undang-undang dasar 1945 paragraf ke empat pasal 6 ayat 1 menyebutkan tentang kewajiban menjalankan syariat Islam dihapus dan diganti dengan ketuhanan yang maha esa dan dan syarat presiden harus orang Islam, kemudian diganti dengan redaksi syarat presiden harus orang indinesia asli.

Adanya perubahan di atas disebabkan oleh munculnya pro-kontra dari berbagai kalangan elit agama, dari pihak Kristen dan katolik mengajukan keberatannya dengan adanya kalimat tersebut. Penganut agama tertentu menganggap bahwa pemerintah terlalu diskrimanif dalam menerapkan kebijakan, sehingga adanya perubahan pada Undang. Selain pancasila, UUD 1945 juga yang sangat menentukan keutuhan bangsa, adalah Bhineka Tunggal Ika artinya tetap menjunjung tinggi perbedaan dengan semboyang walaupun berbeda tetapi tetapi tetap satu.

Selanjutnya Negara Indonesia memiliki bentuk kesatuan yang utuh atau yang biasa disebut dengan NKRI yakni Negara kesatuan republik Indonesia. Dikatakan Negara kesatuan yang utuh karena system pemerintahannya yang dinahkodai oleh seorang kepala Negara dan bantu oleh kabinet-kabinet di bawahnya. berbeda dengan Negara yang memiliki bentuk yang federal atau serikat seperti Amerika Serikat, Malaysia, Australia yang terikat dalam suatu kebijakan internasional, ada juga bentuk Negara netral, yang tidak ikut terlibat dalam kebijakan-kebijakan internasional dan yang terakhir bentuk Negara terpecah yaitu Negara yang pernah memiliki konflik internal sehingga membentuk negara lagi seperti korea utara dan selatan.

 

Persoalannya hari ini adalah ideologi bangsa ini sedang mengalami masalah yang serius, ada beberapa kelompok yang ingin merubah tatanan perintah dan menggantikan dengan system yang baru, bahkan yang memberikan statemen tentang pembubaran negara pada tahun 2030. Memang ini hanyalah sebuah pernyataan yang bersifat prediktif yang sumber informasinya dikutip dari sebuah novel yang berjudul ghost spell dan dikarang oleh intelegent barat, adapun indikasinya ada dua yang pertama, ini merupakan warning atau peringatan supaya tetap menjaga keutuhan negara ini, dan yang kedua akan menjadi sebuah realita apabila pemerintah tidak mampu menjaga kekayaan sumber daya alam yang ada.

 

Baca Juga :


 

Ada beberapa faktor yang sangat urgen untuk dibahas terkait upaya nasionalisme ideologi Islam, kenangan lama memang sangat indah untuk dikenang dan hal yang lumrah apabila orang-orang merindukan kejayaan itu datang lagi, namun akan menjadi tidak wajar apabila ada orang yang bercermin dari masa lalu dan lupa akan realitas yang dihadapinya hari ini, apa mungkin suatu system pemerintah yang bercirikhas ideologi Islam dapat diterima oleh public, dan dengan kondisi masayarat yang heterogenitas, masyarakat membutuhkan adaptasi yang lama dengan aturan yang dicanangkan, kemudian faktor yang kedua, ketidak siapan umat atau masyarakat dalam menjalankan ideologi Islam di negera ini. Baik itu sebagai aparatur negara, pejabat-pejabat sebegai eksekutif hokum maupun rakyat yang terikat oleh hokum.

 

Semestinya hal yang harus dilakukan sekarang adalah tetap menjaga keutuhan NKRI dan selalu menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Umat Islam sibuk mengurus dari luar Islam akan tetapi lupa akan penyerangan dari pihak lain yang ingin menghancurkan Islam dari dalam. Misalnya ada upaya sekularisasi Islam melalui gerakan-gerakan yang sengaja dibentuk dalam Islam, seperti Islam nusantara, Islam liberal, dan berbagai kelompok paham-paham yakni muhammadiyah, nu, nw, dan lain sebagainya yang hanya menambah potensi pluralias Islam. Dan kondisi Islam saat ini sudah termasuk dalam kategori pluralitas

Upaya-upaya pengelompokkan agama ini semakin nyata adanya, dan pada akhirnya muncul paradigma baru dalam Islam yaitu relatifitas Islam, pemahaman ini adalah perwujudan dari upaya pluralisme agama yang mengatakan bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak. Sehingga semua agama sama dan semua golongan sama tidak ada yang benar secara mutlak. Inilah yang menjadi poin utama daripada gerakan-gerakan dari ekternal Islam yang ingin mengahncurkan Islam dari dalam.

 



 
Uba Leu

Uba Leu

Fitrah Zaiman biasa dipanggil Uba Leu lahir di Desa Leu Sila, anak kedua dari pasangan Deo Uba Tika dan Faridah, Adik dari Al Amin dan Abang dari Rabiatul Adawiah. #HiduplahMenghidupkan#

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan