logoblog

Cari

Revitalisasi Kebudayaan Semenanjung Sanggar

Revitalisasi Kebudayaan Semenanjung Sanggar

Tanah Tambora yang kena durhaka Bima dan Sumbawa dipindahkan belaka Sekalian orang telah celaka Sampai sekarang menanggung duka   Ketika turun

Opini/Artikel

Fahrurizki
Oleh Fahrurizki
05 September, 2019 06:28:34
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 2329 Kali

Tanah Tambora yang kena durhaka

Bima dan Sumbawa dipindahkan belaka

Sekalian orang telah celaka

Sampai sekarang menanggung duka

 

Ketika turun abu gelap gulita

Siang hari memasang pelita

Isinya alam tiadalah nyata

Berjalan meraba seperti orang buta

dari Khatib Lukman[1] yang tertulis diatas mengisahkan kejadian letusan Tambora dan efeknya bagi kerajaan tetangga di seluruh Pulau Sumbawa khususnya kerajaan Bima. Dimana sang khatib mengisahkan dikala siang nampak bagaikan malam, matahari tertutup oleh hujan debu yang turun sekitar tiga hari lamanya. Tambora pada dewasa ini sering dihubungkan dengan sebuah catastrophe besar yang terjadi pada awal abad 19 masehi yaitu letusannys April 1815. Sebuah letusan yang mengguncang pulau Sumbawa hingga membuat sejarah modern baru pada eropa timur yaitu “Years Without of Summer” tahun tanpa musim, hingga banyak tercipta berbagai akar dari dunia modern seperti mesin ketika semua kuda mati karena cuaca ekstrim efek dari letusan tersebut.

Meletusnya Tambora juga menyapu bersih kebudayaan semenanjung Sanggar yang terdapat di kerajaan Pekat, kerajaan Tambora dan kerajaan Sanggar yang kini di dominasi oleh kebudayaan Bima. Kebudayaan semenanjung Sanggar mempunyai ciri tersendiri terlebih bahasa Tambora[2] dan bahasa Sanggar. Tidak hanya bahasa juga kebudayaan lain seperti kesenian dan sejarah semenanjung itu sendiri juga hilang tertelan zaman, namun beruntung pada tahun 1816 seorang veteran perang bernama Roorda Eysinga membuka kembali lembaran sejarah Tambora, Pekat dan Sanggar[3]. Saat melakukan penelitiannya Eysinga menemukan beberapa kisah yang menarik dibalik terjadinya letusan Tambora yaitu kisah Sayid Idrus yang dibunuh oleh Raja Tambora Abdul Gafur karena mengusir anjing sang Raja yang masuk dalam Masjid. Kemudian kisah tersebut dikutip oleh Heinrich Zollinger pada tahun 1847 dalam bukunya Reis Naar Bima en Soembawa, Lalu dikutip lagi oleh Henri Chambert-Loir dalam bukunya Kerajaan Bima dalam Sastra dan Sejarah. Kini kisah sayid Idrus tersebut menjadi sebuah kisah sakral yang menjadi symbol mistis Tambora.

letusan Tambora, kini semenanjung tersebut meninggalkan sebuah jejak-jejak warisan yang begitu menakjubkan, kemilau warisan Tambora terlihat dari keindahan alami dengan keunikannya masing-masing, mulai dari savana Doro Ncanga, situs Kima di Kadindi dan pulau Satonda. Namun dari semua keindahan alam itu ada satu kelebihan yang menarik adalah kebudayaannya (Tambora). Dimana kebudayaan tersebut bisa dilihat dan dikunjungi? jawaban tersebut berada pada sanggar sebagai desktop kebudayaan semenanjung Sanggar. Kelebihan Tambora yaitu adalah sejarah dan kebudayaan yang komplit, dari berbagai catatan dan penelitian yang sangat otentik. Dalam hal ini sebagai atmosfer kebudayaan dan sejarah Tambora itu sendiri adalah Sanggar. Kisah kerajaan Sanggar menjadi perhatian dunia, karena dari berbagai tulisan dan buku-buku kesaksian Raja Sanggar[4] ketika terjadinya erupsi gunung Tambora menjadi rujukan berbagai penelitian.

Revitalisasi kebudayaan semenanjung Sanggar menjadi modal utama untuk pengembangan geosite Tambora kedepannya, daya tarik minat pengunjung yang selama ini hanya identik dengan gunung. Selain alam para pengunjung juga akan disuguhkan pengenalan kebudayaan semenanjung Sanggar. Langkah-langkah pengenalan kebudayaan tersebut melalui konsep Ethnotourism dan Museum, melalui dua konsep tersebut akan mengedukasi pengunjung bagaimana pengenalan kebudayaan semenanjung dan ditampilkan kembali, bisa melalui literatur atau catatan-catatan lama hasil penelitian abad 19 masehi.

  • Ethnotourism

Pada umumnya Ethnotourism adalah bentuk dari wisata budaya, dimana wisatawan akan berinteraksi dengan masyarakat. Wisata budaya ini akan memberikan edukasi pemahaman mengenai praktik budaya lokal, tidak hanya itu juga memaksimalkan manfaat ekonomi dan sosial. Ethnotourism akan melihat secara langsung bagaimana proses budaya lokal paska letusan Tambora. Para wisatawan akan beradaptasi dengan penduduk dan mengunjungi rumah-rumah mereka yang juga bisa dijadikan sebagai penginapan, menikmati kuliner lokal yang terdapat di warung setempat, berpartisipasi terhadap praktik budaya masyarakat seperti ritual, festival dan tarian. Melalui Ethnotorism tersebut adalah cara yang efektif untuk mempromosikan wisata dan ekonomi masyarakat Sanggar, Tambora dan Pekat.

  • Museum

Arti dari museum sendiri adalah galery yang digunakan sebagai tempat untuk pameran, dimana tempat menghidupkan suatu kesejarahan dan kebudayaan. Museum adalah warna dari desktop kebudayaan itu sendiri yang memberikan nafas peradaban. Sejauh ini promosi Tambora belum masuk pada suatu tempat yang bisa dikunjungi setiap saat atau setiap hari. Peninggalan Tambora hanya bisa dilihat sekali dalam setahun yaitu ketika event TMD (Tambora Menyapa Dunia) diselenggarakan pada bulan April saja. Untuk itu museum Sanggar sebagai museum Tambora sangat mendukung untuk menjadi center pengenalan Tambora. Lokasi Sanggar juga sangat mendukung dan sangat mudah dijangkau, didukung dengan berbagai peninggalan.

Sanggar memiliki kekayaan hayati juga aneka ragam destinasi Geosite yang sangat mendukung dan saling melengkapi berbagai situs Tambora lainnya, letaknya juga strategis menjadi ikon gerbang Geosite Tambora. Berbagai situs atau cagar budaya di Sanggar memiliki keunikan masing-masing dengan latar sejarah erupsi Tambora 1815 yang menggelegar dunia. Banyak daya tarik yang terdapat di tempat tersebut untuk melihat kebudayaan semenanjung Sanggar, bisa di lihat di beberapa destinasi berikut :

 

Baca Juga :


1. Situs Cagar Budaya Rade Nae

Situs Rade Nae terletak di Desa Boro, Sanggar. Situs ini memiliki keistimewaan dan keunikannya yaitu masih bisa terlihat suluran dan arah kuburan yang menghadap barat laut. Dalam komplek terdapat 13 makam kuno, namun hanya tiga makam yang masih utuh serta ornament atau suluran pada nisan masih tampak baik. Luas areal komplek makam dengan panjang 27,5 meter x lebar 27,5 meter. Situs Rade Nae merupakan sebuah areal pemakaman kaum bangsawan yang bisa dilihat dari nisan. Makam Rade Nae sudah ada sebelum Tambora meletus, jejak kesenian masyarakat Semenanjung Sanggar yang tampak maju terlihat pada ukiran ornament nisan.

2. Situs Cagar Budaya Makam Kore

Situs Makam Kore terletak di Desa Kore, Kecamatan Sanggar. komplek Makam Kore hanya bagi keluarga Raja-raja Sanggar setelah letusan Tambora. Pada areal makam terdapat 26 makam keluarga kerajaan Sanggar, namun yang terindentifikasi adalah Raja Syamsudin Daeng Kamea dan Raja Abdullah.

3. Museum Kerajaan Sanggar

Museum Kerajaan Sanggar terletak di Desa Kore, Sanggar. Dalam museum terdapat berbagai koleksi peninggalan kerajaan Sanggar antara lain bendera kerajaan, senjata, serta silsillah para Raja Sanggar. Letak museum sangat mendukung untuk para pengunjung Geosite Tambora, akses yang sangat mudah dan terjangkau serta berdekatan dengan pasar sebagai pusat kuliner.

4. Istana Raja Sanggar

Istana Raja Sanggar atau masyarakat menyebutnya Asi Kore kadang juga Uma Sangaji, tempat para Raja Sanggar tinggal setelah letusan Tambora. Letak istana sangat berdekatan dengan Museum dan Makam Kore, terletak di komplek lapangan la Hami, Desa Kore. Istana mulai berdiri sekitar tahun 1820 mulai dari Raja Daeng Jai hingga Raja Abdullah yang terakhir. Kemudian diwariskan pada anaknya A. Azis (Ruma Toi) lalu A. Letak istana Kore dahulu disebelah timur Masjid Al-Munawar Sanggar, lalu dipindahkan pada tahun sekitar 1960-an di tempat sekarang. Yang masih asli pada bangunan sekarang yaitu Sampana (ruang tamu), dahulunya beratap sirap kemudian diganti seng (multiroof) dan asbes akhir tahun 2016.

Menghadirkan kembali kebudayaan semenanjung sanggar juga menghadirkan kembali peradaban Tambora yang tenggelam oleh erupsi tahun 1815. Selain Ethnotourism dan Museum, kini dari semua geosite  yang terdapat di Kecamatan Sanggar sangat berpotensi untuk pengembangan Jungle Tracking di Boro, Wisata Tirta Oi Tampuro di Piong, Wisata Minat Khusus di Rade Nae dan Museum Kerajaan Sanggar hingga Wisata Ilmiah untuk penelitian sejarah Tambora yang dimana dalam catatan Heinrizh Zollinger bahwa Raja Sanggar adalah saksi dari kejadian letusan terhebat tersebut.   

 

[1] Seorang Khatib di Bima berdarah Melayu, yang mencatat dengan jelas kejadian letusan Tambora dalam catatannya Syair Kerajaan Bima, Khatib Lukman hidup pada era Sultan Abdul Hamid (- 1817).

[2] Mark Donohue, The Papuan Language of Tambora, 2007

[3] Roorda Eysinga, Handboek der Land en Volkenkunde, Geschied, Taal, Aardrijks en Staatkunden Van Nederlandsch Indie, 1841.

[4] Kesaksian Raja Sanggar dicatat oleh letnan Owen Philips, diutus oleh Gubernur Thomas Raffles untuk membawa bantuan ke pulau Sumbawa.



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan