logoblog

Cari

Realistiskah Sepuluh Ribu Lapangan Kerja Untuk Kota Bima Dalam Janji Kampanye H.M Lutfi Dan Fery Sofyan ?

Realistiskah Sepuluh Ribu Lapangan Kerja Untuk Kota Bima Dalam Janji Kampanye H.M Lutfi Dan Fery Sofyan ?

Dalam masa kampanye tahun 2018 lalu, pasangan Calon Wali dan Wakil Wali Kota Bima sempat mengucapkan janji kampanye bahwa apabila keduanya

Opini/Artikel

Fajrin Hardinandar
Oleh Fajrin Hardinandar
04 September, 2019 01:25:13
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 5508 Kali

Dalam masa kampanye tahun 2018 lalu, pasangan Calon Wali dan Wakil Wali Kota Bima sempat mengucapkan janji kampanye bahwa apabila keduanya terpilih menjadi Wali dan Wakil Wali Kota Bima, maka salah satu program prioritas kepemimpinannya adalah menciptakan 10 ribu lapangan kerja. Mengingat perjalanan pemerintahan yang dinahkodai oleh H.M Lutfi dan Feri Sofyan sejak 26 september 2018 lalu pasca pelantikan itu baru seumur jagung, maka kami tidak akan mengulas lebih jauh terkait realisasi dari janji 10 ribu lapangan kerja yang diucapkan saat orasi-orasi di masa kampanye oleh keduanya. Kami akan lebih banyak mengkritisi logika akademis dibalik janji kampanye tersebut.

Kami telah melakukan studi kecil-kecilan dengan peralatan matematika dasar yang sangat sederhana untuk merasionalisasikan eskatologi dari  janji 10 ribu lapangan kerja yang ingin direalisasikan oleh Wali dan Wakil Wali Kota Bima terpilih. Namun sebelum kita melangkah lebih jauh, ada baiknya kita menyelami terlebih dahulu ketidakjelasan premis dari janji 10 juta lapangan kerja tersebut. Pertama, hingga saat ini kita tidak pernah tahu sektor apa yang menjadi prioritas lapangan pekerjaan yang ingin diciptakan atau diperluas. Secara teoritis, penciptaan lapangan kerja tentu dilandasai oleh adanya produktifitas sektoral, baik pada sisi output yang dihasilkan maupun pada sisi penyerapan lapangan kerja. Biasanya, sektor yang menghasilkan output besar dan menyerap tenaga kerja lebih banyak menjadi prioritas pengembangan. Kemudian pertimbangan terhadap keterkaitan ke belakang dan keterkaitan ke depan sektoral menjadi basis berfikir dalam perencanaan perluasan atau penciptaan lapangan kerja. Kedua, apakah asumsi 10 ribu lapangan kerja yang dimaksud adalah satu lapangan kerja dihuni oleh satu tenaga kerja, atau lebih dari satu tenaga kerja. Ketiga, berapa jangka waktu yang dibutuhkan untuk menciptakan 10 ribu lapangan kerja, apakah mekanismenya bersifat spillover dengan memanfaatkan momentum pertumbuhan atau simultan dengan upaya-upaya penyesuaian. Ketiga premis tersebut tidak pernah dibongkar dalam ruang publik atau bahkan ruang akademis, sehingga kabanyakan orang terjebak dalam janji-janji yang bersiat populis, sementara dalam hitung-hitungan akademis mungkin saja hal tersebut kurang tepat. 

Sekarang kita lupakan sejenak pengaburan premis yang sekilas telah kita korek sebelumnya, dan kita mulai melihat destinasi 10 ribu lapangan pekerjaan tersebut dengan hitung-hitungan sederhana. Sebelumnya kita ketahui bahwa jumlah penduduk Kota Bima merupakan yang terkecil kedua di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) setelah kabupaten Sumbawa barat, yakni dengan rata-rata jumlah penduduk sebesar 155 ribu jiwa dan rata-rata laju pertumbuhan penduduk sebesar 2,02 persen per tahun. Dari 155 ribu jumlah penduduk di Kota Bima setidaknya ada 120.178 jiwa yang tergolong dalam angkatan kerja (data tahun 2017). Dari jumlah angkatan kerja tersebut setidaknya 69 persen terserap ke dalam lapangan pekerjaan.

Pertambahan tenaga kerja yang terserap ke dalam lapangan pekerjaan diperkirakan rata-rata hanya sebesar 3.939 jiwa per tahun. Angka tersebut menjadi meningkat setiap tahunya karena ditambah dengan jumlah tenaga kerja yang telah terserap di tahun-tahun sebelumnya, dalam artian ada speed of adjustment dalam penyerapan tenaga kerja. Penyerapan yang rendah tersebut besar indikasi disebabkan oleh struktur ekonomi Kota Bima yang belum mampu sepenuhnya menyerap angkatan kerja karena masih lemahnya eksplorasi sumber daya, investasi dan juga tentunya dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial-ekonomi lainnya. Kaitannya dengan hal tersebut, kami melakukan proyeksi untuk mengetahui permintaan tenaga kerja di Kota Bima dari tahun 2018 hingga 2025. Hasil analisis kami dengan peralatan matematika yang sederhana menunjukkan bahwa rata-rata permintaan tenaga kerja setiap tahunnya hanya sebesar 8.326 jiwa. Untuk mencapai target penciptaan 10 ribu lapangan kerja tersebut baru akan tercapai pada tahun 2024, dengan asumsi bahwa satu lapangan kerja dihuni oleh satu tenaga kerja. Secara ekonomi politik, speed of adjusment dari janji 10 ribu lapangan kerja tersebut baru akan terwujud dalam masa 1 periode kepemimpinan tambah satu tahun.

Kami juga telah melihat bahwa penyerapan tenaga kerja pada sektor jasa dan perdagangan masih mendominasi di Kota Bima. Artinya, dalam proses perencanaan pembangunan untuk merealisasikan 10 ribu lapangan pekerjaan tersebut pemerintah harus fokus pada pengembangan sektor potensial yang menghasilkan output paling besar, menyerap tenaga kerja paling banyak dan memiliki kerikatan ke depan dan ke belakangan dengan sektor-sektor lainnya.

Dalam kerangka possitive economics, penciptaan lapangan pekerjaan tidak dapat berdiri sendiri. Dibutuhkan pertumbuhan ekonomi yang konsisten. Proyeksi kami menunjukkan bahwa pada tahun 2024, PDRB atas dasar harga konstan kota bima akan tumbuh sebesar Rp 7 trilun untuk menopang segala aktifitas perekonomian di Kota Bima termaksud aliran untuk pengentasan kemiskinan, mengurangi pengangguran dan ketimpangan. Untuk meningkatkan pertumbuhan pada tingkat ekspektasi maka dibutuhakan investasi. Kami mencatat bahwa setidaknya nilai Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang dibutuhkan oleh Kota Bima untuk menopang pertumbuhan pada dua periode tahun berikutnya hanya sebesar 0.2 persen. Angka ini masih sangat stabil dan efisien karena tidak melebihi 4 persen. Dengan nilai tersebut kita dapat mengabstraksikan bahwa untuk mencapai 10 ribu lapangan kerja dalam waktu kurang dari 1 periode (5 tahun) kepemimpinan artinya dibutuhkan dua hingga tiga kali lipat jumlah investasi dari biasanya, pendekatan ini dalam ilmu ekonomi dikenal dengan pendekatan big push. Artinya untuk mencapai itu pemerintah harus membuka investasi sebesar mungkin untuk meningkatkan eskalasi pertumbuhan ekonomi.

 

Baca Juga :


Di sisi lain, penciptaan lapangan kerja tidak selalu membutuhakan momentum pertumbuhan ekonomi yang tinggi, artinya dalam hal ini pemerintah akan mengambil langkah distribusi melalui bantuan modal, pembukaan lahan usaha dan sejenisnya. Tapi jika langkah itu yang diambi, maka besar potensi bahwa 10 ribu lapangan pekerjaan tidak akan mampu dicapai bahkan dalam kurun waktu satu periode tambah satu tahun kepemimpinan. Selain dari terbatasnya pos-pos anggaran dalam APBD, juga disebabkan oleh penyesuaian waktu dari spillover dihasilakan oleh bantuan-bantuan sosial tersebut. OIeh sebab itu kami pikir bahwa 10 ribu lapangan kerja yang dijanjikan di awal tersebut harus ditafsirkan dalam kerangka kerja yang sistemik dengan pertimbangan-pertimbangan ekonomi yang tajam.

Kesimpulan yang ingin kami sampaikan bahwa pertama, premis dari janji 10 ribu lapangan pekerjaan tersebut tidak jelas arahnya, karena tidak dikupas dalam kerangka akademis baik dalam wilayah publik maupun wilayah birokrat. Kedua, permintaan tenaga kerja per tahun tidak rasional jika dikaitkan dengan janji 10 ribu lapangan pekerjaan mengingat sempitnya struktur perekonomian Kota Bima. Pencapaian 10 ribu lapangan pekerjaan baru dapat terwujud dalam jangka waktu tertentu dengan kecepatan penyesuaian (speed of adjustment) dan memanfaatkan momentum pertumbuhan tentunya. Ketiga, investasi pada sektor-sektor potensial menjadi kunci bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi yang selanjutnya dapat diharapakan dapat menyebabkan trickel up down (tetesan ke bawah) bagi penciptaan lapangan pekerjaan. 

Fajrin Hardinandar



 
Fajrin Hardinandar

Fajrin Hardinandar

Magister Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Universitas Diponegoro. Instagram : @fajrin_hardinandar

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan