logoblog

Cari

Model Pembelajaran Antropologi Sastra

Model Pembelajaran Antropologi Sastra

Hamjah Diha* Model pembelajaran Antropologi sastra merupakan ilmu yang tergolong baru dalam pembelajaran sastra. Apalagi pembelajaran antropologi sastra dijadikan sebagai alat

Opini/Artikel

Hamjah Diha
Oleh Hamjah Diha
26 Juli, 2019 14:42:16
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 1615 Kali

Hamjah Diha*

Model pembelajaran Antropologi sastra merupakan ilmu yang tergolong baru dalam pembelajaran sastra. Apalagi pembelajaran antropologi sastra dijadikan sebagai alat untuk menyikapi deklinasi moral peserta didik. Pembelajaran antropologi sastra merupakan sebuah pembelajaran alternatif atau pembelajaran jalan tengah di era melenial ini, mengingat moral generasi bangsa semakin tak jelas. Karena pembelajaran sastra merupakan bagian dari kearifan lokal. Dalam cerita rakyat, tentunya memiliki segudang pesan moral yang ingin disampaikan kepada pendengar atau pembaca. Pesan-pesan moral itulah yang dapat dijadikan sebagai bahan acuan bagi para pengajar. Dalam kalimat lain bahwa pembelajaran antropologi sastra merupakan model pengajaran sastra yang menggali nilai-nilai kearifan lokal yang dekat dengan kebudayaan sendiri (local wisdom).

Nilai-nilai kearifan lokal tersebut tentunya dapat dijadikan acuan bagi para pengajar untuk menanamkan nilai-nilai karakter kepada peserta didik sehingga peserta didik senantiasa berkarakter baik atau bagus (good charakter). Hal ini sejalan dengan pesan yang disampaikan oleh UU No. 20 tahun 2003. Dalam UU tersebut Bab II pasal 2 menyebutkan: “Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang  Negara  Republik Indonesia Tahun 1945.” Pasal 3 UU yang sama menyebutkan: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada  Tuhan Yang Maha Esa, beakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Di liat dari UU tersebut di atas,  bahwa pendidikan nasional dengan karya sastra, memiliki tujuan yang sama untuk menangangi deklinasi moral generasi penerus bangsa. Tujuan pendidikan nasional pada intinya bahwa membentuk peserta didik untuk menjadi manusia yang beriman dan berakhlak mulia. Begitu juga dengan karya sastra. Sejalan dengan itu, Endraswara megatakan bahwa  

Karya sastra pada dasarnya kaya dengan pilar-pilar kearifan lokal dan manajemen hidup berpikir positif. Sastra adalah cetusan pemikiran dan harapan agar bangsa ini semakin humanis dan berpikir positif. Ketika bangsa sedang berbelok arah, banyak yang terkena racun korupsi dan politik uang, sastra yang ingin meluruskannya. Lewat kearifan lokal, sastra mencoba meluruskan sikap dan perilaku manusia yang sudah semakin rakus dan berjiwa raksasa, ingin menang sendiri, ingin hebat sendiri, dan merasa paling benar. Ketika bangsa ini mulai kehilangan kendali, saling tuding, saling berebut kekuasaan, saling mengkhalalkan segala cara, pembelajaran antropologi sastra menawarkan alternatif sebagai refleksi cara berpikir positif.

Merujuk dari pendapat di atas, bahwa pembelajaran antropologi sastra merupakan alat untuk meluruskan pola pikir manusia menjadi pola pikir yang positif dan humanis. Untuk itu, penting bagi semua pihak untuk mendesain model pembelajaran antropologi sastra di era melenial ini, mengingat deklinasi moral geenrasi penerus bangsa semakin tidak jelas. Dalam pengajaran sastra, mestinya diarahkan pada pengkajian nilai-nilai sastra lokal melalui tokoh – tokoh rekaannya (cerita rakyat yang ada di daerah tersebut). Mungkin ada satu hal yang harus dilakukan oleh pemangku kebijakan dalah hal ini pemerintah terkait dengan pembelajaran sastra sebagai alat untuk menanamkan pendidikan karakter pada peserta didik, yakni (a), pendidikan sastra harus dipisahkan dengan pendidikan bahasa. Dalam kalimat lain bahwa pendidikan sastra dijadikan sebagai mata pelajaran tersendiri dalam dunia pendidikan. Hal ini dilakukan guna pembelajaran sastra dilakukan secara kontinuistas, sebab kontinuitas dalam pembelajaran merupakan kunci utama kesuksesan dalam pembelajaran.

 

Baca Juga :


Menuru Ratna, (2014 : 198) bahwa cara penyajian nilai – nilai pendidikan karakter dalam karya sastra adalah dengan cara menyajikan berbagai bentuk kehidupan yang secara umum dapat disebut sebagai kebaikan dan keburukan, kejujuran dan kebohongan kaya dan miskin, dan berbagai bentuk oposisi biner lainnya. Merujuk dari pendapat tersebut, bahwa guru atau dosen harus menggali semua nilai yang terkandung di dalam cerita rakyat tersebut, baik itu nilai kebaikan maupun nilai keburukan. Namun, guru ataupun dosen harus mengklarifikasi kepada siswa ataupun mahasiswa bahwa nilai – nilai keburukan (negatif) mestinya harus dijauhkan dalam kehidupan sehari – hari. Cara penyajiannya harus sesuai dengan tujuan pendidikan karakter itu sendiri. Nilai – nilai yang terkandung dalam cerita rakyat tersebut terkadang tersembunyi dan bahkan sengaja disembunyikan oleh penulis atau penuturnya. Penulis atau penuturnya menggunakan simbol – simbol budaya yang ada di lingkungan sekitarnya. Untuk itu, guru atau dosen harus menggali atau mampu menerjemahkan simbol – simbol budaya tersebut.

Untuk mendesign model pembelajaran sastra, maka ada tiga hal yang harus diperhatikan, yakni Kurikulum, Guru, dan Siswa. Dibutuhkan kurikulum dalam tulisan ini adalah matapelajaran atau matakuliah pengajaran sastra mestinya harus dipisahkan dari matapelajaran atau matakuliah bahasa. Selama ini, pengajaran sastra sudah digabungkan dengan matapelajaran bahasa, sehingga kebanyakan pesan pengajaran sastra tidak tersampaikan oleh guru atau dosen pengajar bahasa tersebut. Dalam kalimat lain bahwa pengajaran sastra selalu diabaikan dan yang dominan dalam pembelajaran adalah pengajaran bahasa, padahal antara pengajaran bahasa dan pengajaran sastra sungguh sangat jelas, walaupun sastra merupakan mediumnya bahasa. Guru merupakan kunci utama dalam pengajaran sastra. Dalam kalimat lain bahwa guru mestinya dalam pengajaran,harus seimbang antara pengajaran bahasa dan sastra.

*   Dewa Pembina Hamjah Diha Foundation dan Staf Pengajar di FKIP – UNIQHBA Lombok Tenggah



 
Hamjah Diha

Hamjah Diha

Adalah warga kampung Diha-Sie Kecamatan Monta Kabupaten Bima. https://www.hamjahdiha.com dan https://hamjahdihafoundation.blogspot.co.id

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan