logoblog

Cari

Pendekatan Marxisme Dalam Penelitian Sastra

Pendekatan Marxisme Dalam Penelitian Sastra

Oleh: Hamjah Diha (Dosen FKIP UNIQHBA dan Pembina Hamjah Diha Foundation)  A. Pengantar Perkembangan ilmu pengetahuan tidaklah statis, melainkan dinamis. Begitu

Opini/Artikel

Hamjah Diha
Oleh Hamjah Diha
03 Juli, 2019 20:46:42
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 1547 Kali

Oleh: Hamjah Diha (Dosen FKIP UNIQHBA dan Pembina Hamjah Diha Foundation) 

A. Pengantar

Perkembangan ilmu pengetahuan tidaklah statis, melainkan dinamis. Begitu pula dalam ilmu sastra. Dalam ilmu sastra, begitu banyak teori yang muncul. Salah satunya adalah teroi sastra Maxisme. Teori sastra maxisme merupakan teori yang relatif baru dalam kajian sastra. Teori ini dapat dai lacak dari kata Maxisme dan sastra. Kedua kata tersebut memiliki makna yang berbeda, namun mempunyai objek pembicaraan yang sama, yakni masyarakat. Maxisme berbicara masalah kapitalisme, kesadaran palsu, pembagian kelas dan sejenisnya, sedangkan apa yang dibicarakan oleh maxisme tersebut semuanya ada dalam karya sastra. Maka dari itu maxisme dan sastra mempunyai objek yang sama. Maxisme berawal dari ide Karl Marx dan Frederick Engels pada tahun 1848, yang merupakan kelanjutan dari teori sosiologi sastra.
Teori sastra Maxisme menekankan pada perlawanan kaum proletar untuk mendapatkan  hak-hak hidupnya kepada kaum borjuis. Selain melakukan perlawanan, sastra Maxisme juga membedah ideologi yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada publik dan juga ideoloogi yang berkembang dalam masyarakat di tempat karya sastra diciptakan tersebut, karena karya sastra merupakan alat untuk menanamkan ideologi yang paling ampuh. Karya sastra hadir bukan atas kekosongan budaya, melainkan hadir dalam mengisi atau menyebarkan ideologi. Dalam artian bahwa karya sastra diciptakan bukan semata-mata sebagai alat penghibur melainkan sebagai media kritis. Dalam kalimat lain bahwa apa yang terjadi atau apa yang dirasakan oleh pengarang (sastrawan), mereka ungkapkan lewat media yang namanya karya sastra (novel, puisi, cerpen dan sejenisnya). Novel dari zaman manapun juga mempunyai amanat, entah amanat modernisasi, entah amanat konservasi, atau amanat apapun juga, yang dimaksud ataupun tidak termasuk oleh pengarang, dengan mementingkan cara pengucapan ataupun tidak mementingkan cara pengacapan, H.B. Jassin, (1993 : 8). Amanat yang dimaksudkan oleh H.B. Jassin dalam tulisan tersebut itu adalah ideologi.
Kondisi tersebut tidak hanya dalam ranah politik, akan tetapi kondisi sosial-budaya juga di ungkapkan oleh pengarang tersebut melalui karya sastra. Maka dari itu, hadirlah sebuah teori untuk membongkar ideologi yang di munculkan oleh pangarang tersebut. teori sastra maxisme bekerja untuk membongkar ideologi yang ada di dalam karya sastra tersebut.
Sejalan dengan itu, Manshur, (2012 : 125) mengatakan bahwa teori sastra dapat membantu pembaca memahami fenemona, baik konteks tertentu maupun titik pandang ideologis yang membantu memproduksi teks-teks sastra. Hadirnya teori sastra Maxisme memudahkan bagi kritikus sastra untuk melihat ideologi yang ada di dalam teks sastra tersebut dan juga memudahkan untuk melihat ideologi borjuis menghegemoni kelas proletas. Robbins, 1999; Hall, 2001a dalam Japriano, (2009 : 69) mengatakan bahwa pada marxisme, konfliknya harus konflik kelas, atau yang dapat dikategorikan sebagai kelas sosial, yang berembrio pada konflik abadi golongan proletar vs. borjuis. Karya sastra maxisme dalam pandangan Marx harus mengandung unsur sebagai berikut, (1) Setiap karya sastra harus bertendensi politis, tetapi tendensi tersebut hendaknya tersirat saja. (2) Setiap sastrawan hendaknya menampilkan realisme baru tentang tokoh- tokoh yang representatif. (3) Setiap karya sastra hendaknya berkekuatan sebagai praksis sosial dalam berbagai kontradiksi perkembangan historis, dan tidak hanya semata-mata mencerminkan nilai estetis dan filosofis. (4) Pengkajian sastra  hendaknya dapat membongkar unsur-unsur ideologis sebagai kesadaran palsu (Soetomo, dalam Jupriono, 2009 : 70).
Kajian sastra dalam pendekatan Maxisme sebetulnya berusaha menyadarkan masyarakat kaum proletar untuk bangkit melawat kaum borjuis yang melakukan sewenang-wenang terhadapnya. Wiji Thukul melalui puisi-puisinya begitu lantang menyadarkan masyarakat untuk bangkit dan melihat realitas yang sebenarnya. Dalam banyangan Wiji Thukul bahwa dunia yang dimainkan oleh penguasa atau kaum borjuis sebetulnya hanyalah sandiwara semata. Dalam artian bahwa dunia yang penuh dengan kesadaran palsu. Tidak hanya Wiji Thukul yang menyadarkan kaum proletar untuk melawan kaum bourjois. Ada banyak tokoh-tokoh lokal maupun nasional yang berusaha memberikan penyadaran pada kaum proletar untuk bangkit. Misalnya Pramodia Ananta Toer, K.H. Mustofa Bisri (Gus Mus), dan lain nya.

B.  Metode Kajian Sastra Maxisme


Ada beberapa cara untuk melihat atau mengevaluasi karya sastra supaya bisa bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Dalam kalimat lain bahwa agar karya sastra tidak di anggap media penghibur semata. Salah satu cara untuk melihat atau mengevaluasi karya sastra tersebut adalah pendekatan sastra maxisme. Pendekatan ini melihat bahwa karya sastra, sarat dengan ideologi. Dengan kata lain bahwa karya sastra sebagai alat kritik sosial terhadap peristiwa yang terjadi di dalam masyarakat. Ideologi yang dimaksudkan dalam pendekatan ini adalah ideologi materealisme. Sejalan dengan itu, Karl Marx dalam David Carter mengatakan bahwa semua model gagasannya termasuk karya sastra bersifat ideologis. all those modes of thought, including literary creativity, are ideological and are products of social and economic existence. Basically Man’s social being determines his consciousness and the material interests of the dominant social class determine how all classes perceive their existence, Carter, (2006 : 55). Merujuk dari pendapat Karl Marx tersebut bahwa yang di lihat oleh pendekatan maxisme bukan hanya ideologis, melainkan juga kelas sosial yang dominan. Perbedaan kelas sosial antara kaum borjuis dengan proletar menjadi persoalan serius bagi maxisme. Pernyataan tersebut didukung oleh Rahman Selder, dkk. Marx reverses this formulation and argues that all mental (ideological) systems are the products of real social and economic existence. The material interests of the dominant social class determine how people see human existence, individual and collective.
Pendekatan ini merupakan studi deskriptif tentang isi karya sastra dengan mengunakan metode kualitatif. Dalam kalimat lain bahwa medote kualitatif merupakan metode yang menafsirkan gelaja sosial budaya atau fenomena sosial budaya. Sejalan dengan itu, Eritchie, dkk mengatakan bahwa qualitative research is anaturalistic, interpretative approach concerned with understanding the meanings which people attach to phenomena (actions, decisions, beliefs, valuesetc.) with in their social worlds.

 

Baca Juga :


Bahan Bacaan :

Eritchie, Jane, Dkk. Qualitative Reserch Practice; A guide for social science studients and reserhers. Sage Publications. Hal 3
Carter, David 2006, Literary Theory. Pocked Essensial
Jupriono, D, Dkk, 2009. Kemampuan Mahasiswa Mengaplikasikan Kritik Sastra Marxis Dalam Penelitian Sastra Interdisipliner. Jurnal. parafrase Vol. 09 No. 02 September 2009.
Manshur, Fadlil Munawar. 2012. Teori Sastra Marxis Dan Aplikasinya Pada Penelitian Karya Sastra Arab Modern. Jurnal Bahasa dan Seni; 2012
H. B. Jassin. 1993. Sastra Indonesia dan Perjuangan Bangsa. Puspa Swara
Rahman Selder, dkk. A Reader’s Guide to Contemporary Literary Theory. Person Logman. 



 
Hamjah Diha

Hamjah Diha

Adalah warga kampung Diha-Sie Kecamatan Monta Kabupaten Bima. https://www.hamjahdiha.com dan https://hamjahdihafoundation.blogspot.co.id

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan