logoblog

Cari

Tingkatkan SDM Pengelola Desa Wisata di NTB Peluang Tingkatkan Ekonomi

Tingkatkan SDM Pengelola Desa Wisata di NTB Peluang Tingkatkan Ekonomi

Ditengah lesunya sektor pariwisata di Nusa Tenggara Barat (NTB) pasca bencana gempa bumi di awal bulan Agustus 2018 yang lalu, Pemerintah

Opini/Artikel

EDY IRFAN
Oleh EDY IRFAN
26 Juni, 2019 15:03:39
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 374 Kali

Ditengah lesunya sektor pariwisata di Nusa Tenggara Barat (NTB) pasca bencana gempa bumi di awal bulan Agustus 2018 yang lalu, Pemerintah terus menggairahkan kembali angka kunjungan pariwisata di provinsi yang memiliki 2 pulau besar ini. Salahsatu langkah cerdas Pemerintah Provinsi NTB yaitu meluncurkan desa wisata yang dapat menjadi alternatif sektor pariwisata. Melalui surat keputusan Gubernur, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M. Sc telah menandatangani SK penetapan 99 desa wisata yang fokus dikembangkan dalam lima tahun ke depan.

Konsep desa wisata adalah memanfaatkan potensi yang ada di desa tersebut, untuk mengembangkan dan memanfaatkan potensi desa baik sumber daya alam, ekonomi dan masyarakat didesa tersebut. Perlu didukung oleh pembangunan dan mengembangkan desa wisata yang diawali dengan peningkatan SDM.  Masyarakat setempat setempat perlu di latih agar memiliki pemahaman tentang bagaimana mengelola desa wisata sehingga dapat menarik minat wisatawan mancanegara maupun domestic.

Pada saat meresmikan Desa Wisata Bahari Bilelando dan Bilelando Communitty Base Tourism Dusun Kelongkong Kecamatan PrayaTimur Lombok Tengah, Gubernur Nusa Tenggara Barat Dr. H. Zulkieflimansyah menyampaikan bahwa keberhasilan dan pariwisata sangat ditentukan oleh lingkungan yang besih dan sehat, selain didukung Sumber Daya Manusia yang maju. Yang terpenting selain keindahan alam dan kebersihan lingkungan, Sumber Daya Manusia adalah hal yang utama untuk kemajuan pariwisata.

Penetapan 99 desa wisata oleh Pemrov. NTB merupakan salahsatu 18 (delapan belas) Program unggulan Gemilang Pariwisata. Mewujudkan bagian dari misi Gubernur NTB, Dr.H.Zulkieflimansyah dan Wakil Gubernur, Dr.Hj.Siti Rohmi Djalilah, menyambut program tersebut Dinas Pariwisata Kabupaten Bima merespon dengan cepat untuk merealisasikan program unggulan provinsi ini. Sehingga Pemda Bima menggelar  Pelatihan peningkatan SDM dalam Tata Kelola Destinasi Pariwisata dengan Tema Menuju Destinasi Ramah dan Berkelanjutan Peningkatan kualitas SDM dan manajemen pengelolaan destinasi pariwisata.

Bupati Bima yang diwakili Asisten III Setda Drs. H. Arifudin HMY berkomitmen memajukan pariwisata di Kabupaten Bima.  Sebanyak 40 peserta pelatihan yang terdiri dari pelaku pariwisata dan Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) diberikan pelatihan para pelaku pariwisata merupakan salah satu langkah strategis yang selaras dengan pembangunan sektor pariwisata di kabupaten Bima.

"Peningkatan kualitas SDM dan manajemen pengelolaan destinasi pariwisata unggulan materinya tentang Kode Etik Pramuwisata,  Administrasi Pengunjung  Tempat Wisata,  Administrasi Keuangan Destinasi, dan Administrasi Keanggotaan Pokdarwis, dilakukan secara berkelanjutan untuk meningkatkan minat kunjungan wisatawan dan pada saat yang sama mendorong peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat di sekitar obyek wisata,” Jelas mantan Kadis Perindag ini, pada pelatihan yang mengusung tema "Menuju Destinasi Ramah dan Berkelanjutan" selama dua hari, Rabu - Kamis (19-20 Juni 2019) di Hotel Lilagraha Kota Bima.

Peserta pelatihan peningkatan SDM tidak saja dibekali materi, namun melakukan Kunjungan Lapangan (field trip) ke Destinasi wisata Pantai Lariti Kecamatan Lambu, salahsatu desa wisata yang ditetapkan oleh Pemrov pada 99 desa wisata dan destinasi wisata di ujung timur pulau Sumbawa. Sehingga memberikan pengalaman lapangan dalam rangka lebih menggali materi yang sudah didapatkan dari para narasumber. Tidak hanya Kabupaten Bima, beberapa Pemda di NTB, seperti Lombok Tengah, Lombok Utara dan Lombok Barat menggelat pelatihan dalam peningkatan kapasitas SDM pengelola Desa Wisata.

Kabupaten Bima ditetapkan Sesuai SK Gubernur, ada 10 desa wisata, yakni Desa Kawinda Toi, Piong, Labuhan Kenanga, Oi Panihi, Sambori, Maria, Soro, Risa, Panda dan Tolotangga. Di Kabupaten Dompu ada sembilan desa wisata, yakni Saneo, Malaju, Pancasila, Huu, Doropeti, Riwo, Madaprama, Nangamiru dan Lanci Jaya. Sedangkan di Kota Bima ditetapkan empat desa wisata. Yakni Kolo, Dara, Kumbe dan Ule.

Di Lombok Timur ditetapkan 18 desa wisata. Antara lain Tetebatu, Sembalun Bumbung, Kembang Kuning, Pringgasela, Tanjung Luar, Jeruk Manis, Sekaroh, Sembalun Lawang, Lenek Ramban Biak. Jerowaru, Labuhan Pandan, Sugian, Lenek Pesiraman, Bebidas, Senanggalih, Seriwe, Sapit dan Sembalun. Sedangkan di Lombok Tengah ditetapkan 16 desa wisata, yaitu desa Sukarara, Marong, Mertak, Lantan, Kuta, Labulia, Bonjeruk, Sepakek, Selong Belanak, Mekar Sari, Karang Sidemen, Rembitan, Aik Berik, Tanak Beak, Penujak dan Sengkol.

Di Kota Mataram ada empat desa wisata, yaitu Tanjung Karang, Jempong Baru, Karang Pule dan Sayang Sayang. Selanjutnya di Lombok Barat ditetapkan 13 desa wisata. Yaitu Buwun Mas, Mekar Sari, Pusuk Lestari, Pelangan, Senggigi, Banyumulek, Lingsar, Senteluk, Karang Bayan, Gili Gede Indah, Sekotong Barat, Batu Putih dan Labuan Tereng. Sedangkan di Lombok Utara ada delapan desa wisata. Senaru, Pemenang Barat, Genggelang, Sokong, Karang Bajo, Santong, Medana dan Gili Indah. Di Sumbawa ada 9 desa wisata, yakni Pulau Bungin, Marente, Batudulang, Lantung, Labuan Aji, Labuan Jambu, Lenangguar, Teluk Santong dan Lepade. Terakhir di Sumbawa Barat ditetapkan 8 desa wisata. Yakni Mantar, Tatar, Pototano, Labuhan Kertasari, Labuhan Lalar, Beru, Pasir Putih dan Sekongkang Atas.

Pemprov NTB telas fokus melakukan inventarisir terhadap 99  desa wisata yang tersebar di NTB untuk dikembangkan dalam lima tahun ke depan. Di tahun 2019 ini Pemrov akan melakukan intervensi terhadap 20 desa wisata yang tersebar di NTB. Konsep desa wisata dirasa mampu mendorong pariwisata NTB kembali bangkit sekaligus memperkuat peningkatan perekonomian masyarakat melalui pemberdayaan SDM dan usaha masayarakat melalui UMKM  karena inisiasi masyarakat, dengan kesadarannya melihat potensi yang ada, mereka bergerak mengelola dan membangun desa menuju kesejahteraan. Sehingga dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di desa setempat.

Salahsatu contoh desa wisata yang telah ada, misalnya desa Mas-Mas di Lombok Tengah berhasil dikembangkan dan memberikan manfaat serta peningkatan ekonomi bagi masyarakat setempat. Tidak ada yang istimewa di desa tersebut, sama seperti desa-desa lain yang ada di NTB. Namun budaya dan kebiasaan masyarakat setempat dikemas menjadi paket wisata yang dipromosikan. Aktifitas membajak sawah, mengembala bebek, menanam padi, memanen padi menjadi sebuah aktifitas yang menarik bagi wisatawan mancanegara.

 

Baca Juga :


Saat louncing 99 Desa Wisata, Kadis Pariwisata NTB, Lalu M. Faozal menjelaskan dari 99 desa wisata, baru 20 desa yang akan diintervensi tahun ini. Pemerintah pusat lewat Dana Alokasi Khusus (DAK) akan melakukan penguatan dari sisi SDM, infrastruktur dan kelembagaan desa wisata. Ada tujuh desa wisata yang sudah menjadi pilot project di Pulau Lombok. Seperti Desa Wisata Setanggor dan Bilebante Lombok Tengah. Selain SDM pemerintah akan focus pada penguatan fisik dan layanan-layanan umum desa wisata. Seperti pembangunan toilet, infrastruktur Tourism Information Centre (TIC), jalan lingkungan, jalan sepeda dan lainnya.

Pemerintah Provinsi NTB juga serius mengembangan dan mendukung pariwisata, pada akhir 2018 meluncurkan Calendar of Event (CoE) terbaik dideklarasikan Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk 2019. NTB pun jadi provinsi pertama yang melaunching CoE-nya. Dari 18 event, 22% slot diantaranya masuk 100 Top Event Nasional. Dengan menargetkan 4 Juta kunjungan wisatawan di 2019.

Demi mengoptimalkan program, support diberikan Kemenpar. Empat program 100 Top Event Nasional milik NTB akan disubsidi Rp1 Miliar per event. Branding Lombok-Sumbawa akan dilakukan masif. Cara ini efektif untuk menarik wisman.

Peluang pariwisata provinsi NTB sangat besar sekali, pulau Lombok ditetapkan sebagai pula terindah ke 3 terbaik yang wajib dikunjungi di dunia. Ini potensi dan nilai jual bagi pariwisata NTB. Pulau Lombok memiliki keindahan alam yang begitu mempesona, tak heran mulai dari wisatawan mancanegara hingga wisatawan nusantara berlomba berdatangan ke Nusa Tenggara Barat, khususnya pulau Lombok. Bahkan data statistik menjelaskan bahwa mulai dari tahun 2014 hingga 2017 tingkat kunjungan wisatawan selalu meningkat. Sumber Badan Pusat Statistik 2014, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara di Nusa Tenggara Barat, pada  tahun 2010 sebanyak 282.161, tahun 2011 sebanyak 364.196, tahun 2012 sebanyak 471.706, Tahun 2013 sebanyak 565.944, tahun 2014 sebanyak 752. 306

Sedangkan menurut data Disbudpar Prov NTB,  jumlah wisatawan dari tahun ketahun. Bahkan di tahun 2017 wisman dan wisnus total tercatat mencapai 3.508.903 yang terdiri dari 2.078.654 wisnus, dan 1.490.249 wisman. Khusus di tahun 2018 terjadi penurunan yang saya rasa semua sudah tau penyebabnya, yaitu bencana alam gempa bumi. Dari data tahun 2018 pada triwulan III dan IV terlihat jelas penurunan yang sangat signifikan. Triwulan ke III tingkat kunjungan baru mencapai 620.398 padahal seharusnya sudah di angka 1 juta keatas. Sementara triwulan ke IV hanya mencapai 259.744 yang biasanya bisa mencapai 1 juta keatas juga. Namun, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat angka jumlah kunjungan wisatawan ke NTB selama tahun 2018 turun drastis. Hal ini disebabkan adanya bencana alam gempa bumi yang terjadi sejak akhir Agustus dan berdampak hingga akhir Desember 2018.

“Secara year on year (yoy) atau selama tahun 2018 ini terjadi penurunan mencapai 70,07 persen dan ini cukup dalam,” sebut Suntono, saat memberikan keterangan perss kepada wartawan, Suntono mengatakan secara kumulatif periode Januari-November 2018 jumlah kunjungan wisatawan mancanegara di NTB mengalami penurunan yang cukup dalam. Berdasarkan year on year mencapai 70,07 persen, dibandingkan dengan periode yang sama, tahun 2017 lebih baik. Kalau dihitung secara month to month itu mengalami penurunan sebesar 34,40 persen di November 2018 yang melalui pintu masuk ZAM Internatioal Airport.

Suntono menyebutkan, untuk periode bulanan, yakni November 2018 turis asing asal Malaysia paling banyak berkunjung ke NTB. Tercatat pada November sebanyak 1.145 orang, kemudian Singapore sebanyak 149 orang. Jika dibandingkan dengan kondisi Oktober 2018 itu lebih banyak, wisatawan Malaysia tercatat 1.254 dan juga wisatawan Cina 400.

Sementara itu, jika di lihat dari tingkat hunian kamar hotel pada November 2018 mengalami penurunan dibandingkan Oktober 2018. TPK bulan November 2018 sebesar 38,24 persen, sedangkan TPK hotel bintang bulan Oktober 2018 mencapai sebesar 39,21 persen. Denga demikian dua bulan, yakni Oktober dan November, secara m to m mengalami penurunan sebesar 0,97 poin. Jika dibandingkan dengan TPK hotel bintang pada November 2017 sebesar 52,48 persen atau turunnya lebih dalam mencapai 14,24 poin.

Sedangkan untuk TPK hotel non bintang bulan November 2018 hanya sebesar 23,41 dibandingkan dengan bulan Oktober 2018 sebesar 21,48 persen dan ini mengalami peningkatan sebesar 1,93 poin. tetapi jika dihitung secara year on year (y on y) pada periode yang sama November 2017 masih mengalami penurunan sebesar 2,42 poin dari 25,83 persen.

Launching 99 Desa Wisata ini merupakan salah satu bentuk gerakan masyarakat,  yang di inisiasi dan dimotori oleh masyarakat sendiri kemudian difasilitasi oleh pemerintah. Akan tetapi perlu diimbangi dengan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam tata kelola manajemen pariwisata sehingga dapat mengelola desa wisata dengan baik, sebagai optimalisasi peningkatan nilai ekonomi bagi masyarakat setempat.  (Edy-Tim Media Diskominfotik NTB)



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan