logoblog

Cari

Doyan Neda, Senjata Penghancuran Sejarah Lombok-2

Doyan Neda, Senjata Penghancuran Sejarah Lombok-2

Bagian Dua KM. Sukamulia - Mitologi Doyan Neda yang dikenal juga dengan nama Doyan Medaran dan atau disebut juga Temelak Mangan

Opini/Artikel

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
10 Juni, 2019 23:16:57
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 2720 Kali

Bagian Dua

KM. Sukamulia - Mitologi Doyan Neda yang dikenal juga dengan nama Doyan Medaran dan atau disebut juga Temelak Mangan muncul sebagai cerita super hero tanah Lombok. Dalam cerita itu tertanam benih-benih pertikaian dan benih itu tumbuh subur menjadi pohon dengan dahan dan daun yang rimbun, lalu berbungan dan berbuah.

Dahannya adalah terah tempat bergantungnya dahan yang disebut silsilah. Daun-daunnya adalah cerita-cerita piktif yang beterbangan seiring arah angin melaju. Bunganya adalah perdebatan, kecemburuan dan keagungan diri. Dan buahnya adalah perpecahan yang nikmatnya tiada terkira bagi para petani yang menanam benih pohon itu. Petani yang menanamnya adalah mereka yang disebut dengan nama penjajah. Lalu siapakah petani-petani yang ikut terlibat dalam proses penanaman pohon itu ? Petani-petani itu adalah tergambar dalam penokohan dalam motologi Doyan Neda. Mari kita kupas bersama-sama. 

Di awal cerita mitologi Doyan Neda dikisahkan bahwa Dewi Anjani memiliki seekor burung yang sangat sakti. Burung tersebut berparuh perak dengan  kuku yang terbuat dari baja sehingga kukunya sangat tajam, sepasang sayapnya sangatlah kokoh dan sehingga ia bisa terbang dengan dangat cepat. Konon, burung itu dipanggil dengan nama Manuk Beberi.

Diceritakan pula bagwa pada suatu ketika Dewi Anjani mengumpulkan dan mengubah dua puluh pasang jin bangsawan menjadi manusia dan dua puluh pasang jin itulah yang kemudian disebut sebagai cikal bakal penduduk Lombok. 

Setelah mengutus 40 orang jin itu menjadi manusia penghuni pulau Lombok, Dewi Anjani menunjuk salah seorang jin laki-laki diantara mereka untuk menjadi seorang pemimpin mereka. 

Tidak lama setelah mereka dirubah menjadi manusia dan hidup di dunia nyata, istri jin yang diangkan sebagai pemimpin tadi hamil dan sembilan bulan kemudian ia melahirkan seorang bayi lelaki yang super aneh. Konon anak itu bisa berbicara dan berjalan sejak ia baru dilahirkan. Dikisahkan pula bahwa anak laki-laki itu sangat kuat makan alias rakus sehingga ayahnya menamakannya Doyan Neda atau ada yang menyebutnya Doyan Medaran dan ada juga yang menyebutnya Temelak Mangan.

Awal kisah Doyan Neda, sangatlah misterius. Dewi Anjani, yaaa siapakah Dewi Anjani itu ? Dari mana asal muasal Dewi Anjani, dimana tempat tinggalnya, siapa keluarganya dan apakah Dewi Anjani itu adalah seorang manusia atau terlahir dari bangasa jin ? 

Hingga saat ini belum ada kepastian atas jawaban pertanyaan-pertanyaan itu dan bahkan sampai kapan pun pertanyaan itu tidak akan pernah mendapat jawaban pasti. Tentu saja tidak akan ada jawaban pasti sebab Dewi Anjani hanyalah tokoh cerita mitologi, bukan tokoh dalam cerita sejarah.

Anehnya, sejarah Lombok selalu merujuk pada kisah Dewi Anjani yang sudah jelas-jelas merupakan seorang tokoh mitologi yang kebenarannya teramat sangat jauh jika dijadikan sebagai bagian dari fakta sejarah. Dan lebih aneh lagi, Dewi Anjani kerap kali disebut sebagai nenek moyang orang Lombok. 

Terkait dengan hal itu, kami sangat menolaknya. Mengapa kami menolak Dewi Anjani dan 40 orang bangsa jin sebagai nenek moyang orang Lombok. Ya tentu saja kami menolaknya sebagaimana kami menolak Teori Darwin yang mengatakan bahwa nenek moyang manusia berasal dari kera.

Alasan utama yang membuat kami menolak pernyataan tersebut adalah penjelasan mengenai asal usul manusia  yang termaktub di dalam Kitab Suci Al-Qur'an dan kitab suci lainnya (Injil, Taurat dan Zabur). Di dalam kitab suci dijelaskan bahwa nenek moyang manusia adalah Adam dan Hawa yang diturunkan ke bumi sebagai nenek moyang semua manusia yang hidup hingga saat ini.

Kami tidak mau mengurangi keimanan kami terhadap Kitab Suci Al-Qur'an dengan mempercayai bahwa nenek moyang manusia adalah evolusi dari bangsa kera dan sebagai generasi yang terlahir di tanah Lombok, kami tidak mau dikatakan sebagai keturunan bangsa jin yang dirubah menjadi manusia oleh Dewi Anjani. Kami yakin bahwa kami juga bagian dari keturunan Adam dan Hawa (nenek moyang manusia secara universal) yang derajatnya paling mulia diantara mahluk ciptaan Allah SWT yang lainnya.

Tidak mempercayai Teori Darwin dan Mitologi Dewi Rinjani bukan berarti bahwa kami tidak percaya akan adanya proses evolusi dalam kehidupa manusia dan bukan pula kami tidak mengimani keberadaan bangaa jin yang juga merupakan ciptaan Allah SWT yang diciptakan dari unsur api. Kami tidak mempercayainya sebab interpretasi sejarah tidak dapat membuktikan pernyataan-pernyataan tadi, lebih-lebih mengenai Dewi Anjani dan 40 orang jin yang dijadikannya sebagai nenek moyang penghuni pulau Lombok.

Perlu diketahui bahwa mitologi Dewi Anjani juga terdapat di dalam Kitab Ramayana (Kitab Mitologi India). Dalam Kitab Ramayana diceritakan bahwa Dewi Anjani adalah saudara dari Subali.

 

Baca Juga :


Pada bagian kisah dalam Kitab Ramayana dikisahkan bahwa Dewi Anjani bersama saudaranya Subali melakukan pertapan. Pada saat mereka melakukan pertapaa, Dewa Batara Surya terangsang kepada Dewi Anjani sehingga Dewa Batara memuntahkan sepermanya ke daun dan daun itu dimakan oleh seorang petapa hingga melahirkan anak, Hanoman. 

Mengacu dari kisah tersebut maka jelaslah bahwa nama Dewi Anjani adalah nama seorang tokoh mitologi India yang kemudian disadur menjadi nama pada mitologi Lombok dan kemudian nama Dewi Anjani dipercayai sebagai nama asli nenek moyang orang Lombok dan diagung-agungkan hingga kini dan bahkan dijadikan sebagai acuan Sejarah Lombok.

Kisah Dewi Anjani dalam kitab Ramayana tadi juga dapat memberi kita pencerahan bahwa kisah Dewi Anjani Lombok adalah saduran dari mitologi India. Dan semakin jelas dengan adanya Manuk Beberik yang merupakan saduran dari sosok Burung Garuda serta Doyan Neda yang sepertinya adalah saduran dari Hanoman yang memiliki kekuatan super hebat.

Dengan demikian jelaslah bahwa mitologi Doyan Neda dan Dewi Anjani adalah kisah saduran yang disusun sedemikian hingga oleh para penjajah guna mengaburkan identitas Sejarah Lombok yang kala itu sudah diporak-porandakan oleh Bali. 

Keadaan tersebut betul-betul dimanfaatkan oleh Belanda dan antek-anteknya dari Batavia dan Bali untuk menghancurkan sejarah Lombok supaya mereka betul-betul menguasai semua aspek kehidupan masyarakar Lombok. Terbukti, saat ini Sejarah dan budaya Lombok selalu diwarnai oleh sejarah dan budaya Bali dan Jawa. 

Sebagai contoh, banyak sekali nama tempat di wilayah Lombok yang namanya sama dengan nama tempat di Jawa, misalnya; Kediri, Mataram, Jenggala, Wanasaba dan lain-lain. Banyak pula nama tempat yang dipengaruhi oleh Bali, seperti; nama-nama tempat yang berawalan Karang.

Pada aspek sosial budaya, banyak sekali tradisi adat masyarakat Lombok yang diwarnai oleh budaya Bali dan Jawa. Hal ini membuat budaya Lombok kehilangan identitas dan bahkan keraf diklaim sebagai bagian dari budaya Jawa dan Bali.

Hari ini, masyarakat Lombok memang merdeka, hanya saja SEJARAH dan BUDAYA LOMBOK MASIH DALAM SITUASI TERJAJAH sehingga sampai saat ini masyarakat Lombom belum tahu pasti indentitas dirinya dalam aspek kesejarah dan budaya.

Pada bagian ini kami menyimpulkan bahwa nenek moyang masyarakat Lombok adalah manusia, bukan bangsa jin yang dimanusiakan oleh Dewi Anjani. Nenek moyang penduduk Pulau Lombok berasal dari Deutero Melayu, yakni migrasi dari ras tipe Melayu yang diperkirakan menetap di berbagai wilayah Lombok sejak 2.000-an tahun lalu (awal Masehi). 

Bangsa Deutero Melayu diperkirakan memasuki wilayah nusantara bagian barat pada sekitaran tahun 500 SM. Mereka adalah masyarakat Indocina yang diperkirakat berasal dari Dongson (Vietnam). Mereka datang ke Indonesia membawa kebudayaan Dongson yang umumnya lebih maju dari kebudayaan Yunan (Cina) yang diperkirakan datang di nusantara bagian timur pada sekitaran tahun 1.500 SM (Proto Melayu). 

Berbagai sumber sejarah nasional menyebutkan bahwa suku-suku yang termasuk dalam golongan Deutero Melayu adalah Suku Minangkabau, Suku Jawa, Suku Banjar, Suku Bugis, Suku Makassar, Suku Bali, Suku Lombok, Suku Batak, Suku Aceh Madura, Suku Minahasa, dan puluhan suku lainnya.

Dengan demikian jelaslah bahwa nenek moyang masyarakat Lombok adalah orang-orang Dongson (Vietnam) yang diperkirakan menetap di wilayah Lombok sejak awal Masehi.(Bersambung...).
_By. Asri The Gila_



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan