logoblog

Cari

Doyan Neda, Senjata Penghancuran Sejarah Lombok

Doyan Neda, Senjata Penghancuran Sejarah Lombok

Bagian Pertama KM. Sukamulia - Siapa yang tidak tahu Motologi Doyan Neda, khususnya masyarakat Lombok. Namun tahukan anda bagaimana eksistensi mitologi

Opini/Artikel

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
08 Juni, 2019 02:19:59
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 5899 Kali

Bagian Pertama

KM. Sukamulia - Siapa yang tidak tahu Motologi Doyan Neda, khususnya masyarakat Lombok. Namun tahukan anda bagaimana eksistensi mitologi tersebut dalam menghancurkan sejarah Lombok. Bahkan bisa dikatakan bahwa Mitologi Doyan Neda adalah sejata super ampuh yang digunakan oleh para penjajah dalam menghancurkan Sejarah Lombok serta menghancurkan identitas persatuan masyarakat Lombok.

Hingga kini, sejarah Lombok seolah tidak memiliki sedikit kepastian. Sejarah Lombok senantiasa diwarnai perdebatan, belum ada kesepakatan yang dapat dijadikan sebagai dasar yang kuat untuk dijadikan sebagai fakta sejarah Lombok yang benar-benar objektif. Yang ada dan beredar, bahkan dijadikan sebagai sejarah formal dalam buku-buku sejarah dan muatan lokal Lombok hanyalah data-data bermuatan kepentingan dengan menjunjung tinggi subjektifitas keterahan.

Berbicara sejarah Lombok, kita selalu berhadapan dengan berbagai mitologi dan salah satu mitologi yang kerap dijadikan sebagai pondasi sejarah Lombok adalah Mitologi Doyan Neda dan pelindungnya yang bernama Dewi Rinjani.

Dalam Mitologi Doyan Neda terdapat tiga tokoh utama lain, yakni Dewi Rinjani sebagai tokoh inti yang menjadi pelindung penasehat tokoh utama mitologi tersebut, Tameng Muter sebagai tokoh yang sama tersohornya dengan Sigar Penjalin dan mereka berdua dijadikan sebagai tokoh penguasa yang tidak kalah saktinya dengan Doyan Neda.

Tiga tokoh utama mitologi tersebut (Doyan Neda, Tameng Muter dan Sigar Penjalin) kemudian dijadikan sebaga sumber terah yang memunculkan sirsilah penguasa Lombok yang kemudian menjadi sumber perpecahan dalam aspek sejarah dan budaya Lombok hingga saat ini.

Pertanyaannya adalah "Siapakah Tiga Tokoh tersebut, kapan mereka ada, dimana mereka berkiprah dan jika mereka benar-benar ada maka manakah bukti keberadaan mereka, seperti; bangunan tempat tinggal, makam dan anak cucu mereka ?

Perlu diingat bahwa mereka hanyalah tokoh mitologi, tokoh dalam cerita fiktif, hanya sekedar tokoh cerita rekaan belaka. Menurut hipotesa kami, "kebenaran mengenai keberadaan Doyan Neda dan dua saudara seperjuangannya bisa dipastikan 100%  tidak pernah ada dalam kisah nyata di bumi Lombok atau lainnya.

Sekali lagi, mereka hanyalah cerita mitologi yang dibuat dan disebar luaskan oleh para penjajah dengan tujuan untuk memecah belah persatuan masyarakat Lombok dan menghancurkan identitas sejati masyarakat Lombok. 

Jauh sebelum kisah Doyan Neda beredar, Lombok dikenal sebagai wilayah yang sangat kuat. Hal ini terbukti dari beberapa kali ekpansi Anak Wangsu dapat dikalahkan sehingga Anak Wungsu dan Anak Wungsu mengakui kehebatan pasukan Lombok pada piagam berupa Kentongan Perunggu yang pada bagian permukaan Kentongan Perunggu tersebut tertulis pengakuan bahwa Lombok Tidak Pernah Bisa Dikalahkan Oleh Anak Wungsu dalam beberapa kali ia melakukan penyerangan.

Hal itu tentunya sangat menyakitkan bagi bangsa Bali di zaman itu. Bagaimana tidak, Lombok memiliki potensi kekayaan alam yang sangat luar biasa. Jika mereka bisa menaklukkan Lombok maka kerajaan mereka akan hidup kaya raya.

Kekalahan itu bukan membuat bangsa Bali patah semangat untuk mendapatkan Lombok sebagai daerah kekuasaannya. Keturunan Anak Wungsu tidak diam begitu saja, mereka menyusun siasat jitu untuk dapat menguasai Lombok yang dikenal sebagai Tanah Mirah (Tanah Kayaraya). Lebih-lebih ketika Bali mulai terancam oleh cengkeraman kolonialisme Belanda.

Ketika Belanda mulai memperkuat cakar kolonialismenya di tanah Bali, banyak sekali masyarakat Bali yang merasa kecewa dan ahirnya mereka BERSUAKA ke tanah Lombok. Di Lombok mereka mencari perlindungan dan atas kemurahan hati masyarakat dan para penguasa Lombok maka mereka diterima dan ayomi dengan baik.

Beberapa lama bersuaka di Lombok, atas keuletan dan kedisiplinan serta kreatifitas kerjanya, orang-orang Bali tadi hidup makmur dan bahkan mendapat kedudukan tinggi di Lombok. Hal itu mereka manfaatkan dengan sebaik mungkin, mereka membangun kekuatan dengan nama BANJAR GETAS. Secara etimologi, Banjar berarti kelompok dan Getas berarti Pemisah atau bisa juga diartikan pemberontak.

Banjar Getas membangun kekuatan dengan memperkuat status sosial mereka. Mereka mengabdi di setiap kedatuan yang ada di tanah Lombok sambil mempelajari setrategi jitu untuk menghancurkan kedatuan Lombok. Seiring perkembangan waktu, Banjar Getas memiliki pasukan yang semakin kuat dan merekapun mengajak Anak Agung untuk mewujudkan mimpi nenek moyang mereka (Anak Wungsu), yakni menguasai tanah Lombok.

 

Baca Juga :


Bersama pasukan Banjar Getas, Anak Agung-pun mencapai mimpi nenek moyang mereka. Bali pun mendapat posisi yang sangat kuat di Lombok. Semasa berkuasa di Lombok, Bali betul-betul menghancurkan segenap aspek kehidupan masyarakat Lombok, terutama aspek sejarah dan budaya. Identitas Lombok betul-betul dihancurkan, terbukti dengan banyaknya piagam, silsilah, lontar dan bukti-bukti sejarah Lombok lainnya yang dikumpulkan kemudian dimusnahkan (dibakar dan dikubur) dan sebagian dibawa ke Bali. Strategi ini cukup jitu dalam misi penghancuran sejarah dan identitas Lombok.

Menyaksikan hal itu, orang-orang Lombok tidak tinggal diam. Mereka melakukan perlawanan dan pada ahirnya mereka harus meminta bantuan dari Belanda sebab pasukan Bali cukup tangguh untuk mereka kalahkan. Bagaimana tidak, pasukan Lombok hanya menggunakan senjata manual, sedangkan pasukan Bali sudah menggunakan meriam.

Belanda menggunakan kesempatan itu dengan baik sebab sudah lama ia ingin menguasai Bali sepenuhnya. Alhasil, atas bantuan Belanda dengan armada yang dikirimnya dari Batavia maka kekuasaan Bali di Lombok dapat ditumbangkan. Liciknya, Belanda memanfaatkan kemenangannya atas Bali untuk menaklukkan Lombok dan tanah Lombok pun dikuasai oleh kolonial Belanda.

Naif memang nasib bangsa Lombok saat itu, ia keluar dari mulut singa namun harus masuk lagi di mulut buaya. Penguasaan Bali di Lombok sudah usai, namun sejarah masa silam Lombok sudah hancur sebab bukti-bukti sejarahnya dibumi hanguskan oleh Bali.

Belanda tidak kalah kejamnya dalam masalah sejarah, bukti-bukti sejarah Lombok yang disisakan oleh Bali mereka ambil dan dijadikan sebagai harta rampasan perang. Lombok pun benar-benar kehilangan identitas.

Tidak cukup dengan itu, penguasa Belanda juga memerintah juru tulisnya untuk membuat berbagai kisah mitologi yang dapat mempengaruhi otak generasi Lombok di masa mendatang. Mitologi-mitologi itu dibuat sebagai senjata pemusnah masal sejarah dan identitas Lombok.

Salah satu mitologi ciptaan mereka yang dapat dikatakan sangat ampuh sebagai senjata pemusnah masal identitas dan sejarah Lombok adalah mitologi Doyan Neda. Mitologi ini disusun sedemikian hingga dengan melibatkan Jawa dan Bali.

Mereka menulis empat tokoh penting dalam kisah mitologi itu, yakni Dewi Anjani atau dikenal juga dengan sebutan Dewi Rinjani, Doyan Neda sebagai tokoh utama, Tameng Muter dan Sigar Penjalin yang juga bisa dikatakan sebagai tokoh utama kisah piktif itu.

Mitologi itu seolah membius alam pikiran setiap generasi Lombok yang mendengarnya, kemudian mereka mabuk dan lupa bahwa yang mereka dengar dan baca hanyalah cerita fiktif belaka. Dari cerita fiktif itu, muncullah daerah-daerah kekuasaan besar di Lombok, seperti Selaparang, Bayan, Pejanggik dan Pujut. Mitologi itu jiga memunculkan sirsilah baru penguasa Lombok yang pada ahirnya generasi Lombok teracuni oleh senjata pemusnah masal tersebut.

Di bawah pengaruh racun tersebut, penghuni Lombok sibuk membela terah mereka yang padahal dulunya mereka adalah satu ikatan keluarga yaitu keluarga besar Lombok. Paham keterahan dan daerah keterahan itu menjadi pemicu utama kesimpang siuran sejarah masa lalu tanah Lombok yang hingga saat ini tidak dapat ditemukan titik temunya. Bagaimana kita dapat menemukan titik temunya, sedangkan kita masih berbangga dengan terah dan silsilah keluarga masing-masing yang padahan terah tersebut diciptakan oleh penjajah dengan tujuan untuk memecah belah persatuan orang Lombok yang dulunya sangat menjunjung tinggi nilai kekeluargaan dan kebersamaan. 

Terah adalah bagian dari strategi Politik Pecah Bambu-nya Belanda untuk menguasai Lombok dan terah itu mereka seting dari mitologi Doyan Neda.

Mitologi itu mempengaruhi alam bawah sadar masyarakat Lombok sehingga mereka tidak segan-segan saling menghantam jika tokoh yang dianggap sebagai nenek moyang terahnya dihinakan. Ahirnya terciptalah pertikaian, perpecahan, subjektifitas pada setiap kelompok terah dan pengagungan diri atas terah yang mereka terima dari silsilah fiktif mitologi Doyan Neda. Astagfirullahalaazim, Laa haula wa laa kuata illa billa hilaliyulazim. (Bersambung....)
_By. Asri The Gila_



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan