logoblog

Cari

Inilah Kata Kunci Yang Dibutuhkan Indonesia Saat Ini

Inilah Kata Kunci Yang Dibutuhkan Indonesia Saat Ini

KM. Sukamulia - Kita (Rakyat Indonesia) adalah komoditi perdagangan pasar ilegal. Kita selalu menggunakan sudut pandang negatif terhadap segala sesuatu dan

Opini/Artikel

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
06 Juni, 2019 21:11:49
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 3757 Kali

KM. Sukamulia - Kita (Rakyat Indonesia) adalah komoditi perdagangan pasar ilegal. Kita selalu menggunakan sudut pandang negatif terhadap segala sesuatu dan kejadian. Lalu, kita bermimpi untuk bangkit, padahal Kebangkitan Nasional hanyalah basah yang menghiasi tidur lelap penghuni bangsa ini. Dan jika Kebangkitan itu hendak kita gapai maka berikut adalah kata kunci yang dibutuhkan Indonesia untuk mewujudkan Kebangkitan Nasional sebagaimana yang disampaikan Agus Fn dalam alunan syair suluk-nya yang bertajuk "Jalan Rindu".

Indonesia tidak ada bandingannya di dunia. Nusantara ini adalah potongan syurga yang dihamparkan di tengah samudera yang memancarkan kemilau ke seluruh penjuru dunia dan ahirnya seluruh dunia melirik kepadanya.

 Namun apa yang terjadi ? "Kita Merusaknya". Keindahan yang sudah dicontohkan oleh leluhur kita dahulu, kedamaian, keharmonisan, kemakmuran yang disyukuri dan kekurangan yang diridhoi, semuanya telah berubah.

Hukum yang berlaku saat ini adalah aku juluk anta mudian (bahasa sasak), artinya lebih dulu dan kamu belakangan. Hal ini tercermin pada perilaku kita di jalan. Yaa di jalan kita selalu ingin menyalip orang atau kemdaraan siapa saja yang berada di depan kita, meskipun hanya sedikit lebih dahulu dari yang lainnya. 

Apapun kemudian, peluang yang ada makan yang muncul adalah aku duluan. Perilaku ini ahirnya tertanam dan tumbuh subur di dalam diri kita.

Masyarakat kita hidup begitu damai. Namun para golongan elit kita berulah dan mereka membuat ulah. Kita tidak sadar bahwa kita dijadikan komoditi yang dijual berkali-kali. 

Tokoh adat menjual kita, "ini masyarakat saya". Tokoh agama menjual kita, "ini jamaah saya". LSM juga ikut menjual kita, "ini aktifis saya". Dan lain sebagainya. Tetapi komoditi ini tidak pernah berubah, bahkan kita diperdagangkan dari satu tangan ke tangan yang lainnya dan menjadi perdagangan ilegal. 

Hukum yang berlaku dalam kehidupan kita, hanya mengatur hukum perdagangan bukan mengatur komunitas. Hukum perdagangan itu namanya POLITIK, ini yang menghancurkan kita.

Kebudayaan menjadi alat politik dan setpiap kedudukan menjadi alat politik. Ini tercatat di dalam Al-Qur'an Surat Al-Mukminun. "Dan sesunghuhnya umat ini adalah umat yang satu, ketika mengenal tuhannya maka ia bertakwa".

Namun apa yang terjadi saat ini ? Banyak sekali yang kita tuhankan. Ketua  Partai menjadi Ana Rabbukum, bupati menjadi Ana Rabbukum, wali kota menjadi Ana Rabbukum, atasan kita menjadi Ana Rabbukum, mall menjadi Ana Rabbukum dan kita takwa kepadanya. Inilah yang terjadi sekarang.

 

Baca Juga :


Dan kenyataan yang terjadi adalah kita sibuk mengurus diri; masing-masing mengurus  kepentingannya sendiri, masing-masing menyelesaikan urusannya sendiri dan ahirnya kita menjadi terpecah belah seperti ini dan menjadi atribut kita. 

Ideologi berkembang, pemikiran berkembang dan semua menyatakan "INILAH YANG TERBAIK". Setiap kelompok menjadi bangga atas kelompoknya dan membanggakan kelompoknya sendiri. Inilah yang terjadi saat ini. Lalu kita bermimpi untuk BANGKIT. Kita peringati yang namanya Hari Kebangkitan Nasional dan kita berhiporia merayakannya. KITA BERMIMPI sungguh KITA BERMIMPI dan mari kita menunggu Hari Kebangkitan Mahsyar, itu lebih baik.

Kebangkitan Nasional akan tegapai apabila kita berani merubah cara pandang; kita tidak lagi menggunakan cara pandang politik, tidak lagi menggunakan cara pandang idialisme yang sempit. Karena perintah tuhan adalah kita harus saling memandang dengan kaca mata positif. 
Kaca mata yang berangkat dari pemahaman "tidak ada sesuatu yang diciptakan oleh Allah secara batil, secara sia-sia". 

Dengan demikian, kita harus mengambil pelajaran dari segala sesuatu dan kejadian, mengambil hikmahnya dan manfaatnya untuk kita renungkan. Hal ini dipertegas dengan cara pandang.

Dan inilah kata kunci yang dibutuhkan oleh Indonesia saat ini, "Saling pandang dengan kebaikan (ISLAH)". Islah bermakna cara pandang kebaikan. Jangan lagi kita memandang baik untuk diri kita, baik untuk kelompok kita, baik untuk kelompok mereka. Tetapi marilah kita memandang baik untuk semua, baik secara universal. 

Beranikah kita berdiri di atas kebaikan universal ini ? Hanya ini yang bisa mempersatukan Indonesia untuk bangkit. Persoalannya adalah "Beranikah kita duduk di atas kepentingan universal ?"

Kalau kita bisa berbicara benar, berbicaralah benar untuk kepentingan bangsa, bukan hanya untuk kepentingan negara. Saat ini kita hanya berbicara mengenai kepentingan negara, keadilan dan kedaulatan negara kita. Sementara isi dari negara ini dijual atas nama majunya sebuah negara dengan ciri-ciri materialisme (pembangunan modern, senjata modern), sementara kita masih hidup menggunakan cara atau pemikiran peradaban agraris maka kita menjadi pasar yang tidak bisa membeli. Ahirnya kita menjadi RAKYAT YANG TERTINDAS

Lalu siapa yang salah pada keadaan seperti ini. Untuk itu mari kita bantu mereka dengan doa. Siapapun yang benar ataupun merasa benar dalam keadaan seperti ini, mari kita ingatkan dia untuk kembali kepada Allah.
_By. Asri The Gila_



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan