logoblog

Cari

Jokiwi-Ma'Ruf Menang Atas Kehendak Tuhan

Jokiwi-Ma'Ruf Menang Atas Kehendak Tuhan

KM. Sukamulia - "Tidak ada satu mahluk-pun di jagad raya ini yang dapat menentang kebijakan tuhan", demikian petuah para nabi dan

Opini/Artikel

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
24 Mei, 2019 03:02:14
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 3808 Kali

KM. Sukamulia - "Tidak ada satu mahluk-pun di jagad raya ini yang dapat menentang kebijakan tuhan", demikian petuah para nabi dan orang-orang suci, bahkan kalimat senada termaktub dalam kitab suci. Lalu, haruskah kita menentang kemenangan Jokowi-Ma'ruf pada ajang PILPRES 2019 ini ? dan orang-orang yang memahami agama dan petuah kitab suci-nya dengan baik dan benar tentu menjawab-nya, "terima saja sebab ini adalah bagian dari ketetapan tuhan".

Pilpres 2019 sudah dilaksanakan dengan proses panjang dan penuh lika-liku. Mulai dari tahap pendaftaran capres-cawapres, penetapan capres-cawapres peserta pemilu, debat paslon, kampanye terbuka, pemilu serempak, perhitungan suara, peleno hasil perhitungan suara dari kecamatan hingga nasional, pengumuman dan penetapan pemenang.

Begitu panjang dan pelik proses pilpres ini, belum lagi pelaksanaannya yang dilakukan serempak dengan pileg dari tingkat kabupaten hingga RI yang membuat Pemilu kali ini dianggap sebagai Pemilu tergila di dunia oleh oknum-oknum yang tidak suka dengan berbagai aturan dan kebijakan pelaksanaan Pemilu di ahir rezim Jikowi-JK ini. Dan banyak lagi anggapan miring lainnya terkait pemilu kali ini, tentunya anda sudah tau hal itu.

Setelah melalui selelsi bakal calon, Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandi muncul sebagai dua paket Capres dan Cawapres RI 2019-2024. Dan perang isu dimulai, kubu 01 dan kubu 02 mulai menyebar sandi sendiri. Kedua kubu memulai proxy war dengan isu politik sebagai amunisi utamanya. Perang dimulai, hujan menghuhat, tuding menuding menjadi terending di layar tv dan lebih-lebih di media sosial. Yaa, proxy war meledak sedemikian dahsyatnya dengan pasukan yang dijuluki Cebong dan pasukan yang dijuluki Kampret sebagai pemain utamanya.

Selama proses panjang itu, Jokowi selaku petahana mendapatkan tekanan dari berbagai sudut. Belum lagi KPU yang sejak awal dituding sebagai milik Jokowi. Isu-isu miring tentang Jokowi setiap hari dibicarakan di media televisi, surat kabar, portal, media sosial, media pribadi, di kantoran, di rumah, di pangkalan, bahkan di pasar-pasar tradisional hingga setiap sudut penjuru tanah pertiwi. Isu miring tentang Prabowo juga tidak kalah hebohny,,, yaa demikianlah cara bermain politik dan itu adalah suatu kewajaran.

Tidak nyaman rasanya, jika dalam sehari saja kedua kubu tidak saling menyerang dengan informasi beraroma kebencian. Saling mencela program juga tidak kalah trendingnya di bursa media.

Semuanya hanya ribut di media, tidak di dunia nyata. Dunia nyata adem-adem saja kok, tidak terlalu banyak ditemukan orang-orang yang saling menghujat atau bertikai sebab isu politik itu. Makanya, secara pribadi saya mengatakan bahwa ini hanya proxy war.

Berbicara mengenai proxy war selama kancah Pemulu 2019 ini, bisa dikatakan bahwa sejak awal kubu Prabowo-Sandi menjadi pemenang. Bagaimana tidak, tentara kubu Prabowo-Sandi adalah manusia-manusia milenial yang menguasai strategi proxy war. Beda dengan sebagian besar pendukung Jokowi-Ma'ruf yang lebih banyak bermain di dunia nyata sebab mereka tidak terlalu suka bertikai di dunia maya. Di sinilah perbedaan mendasar antara kedua kubu.

Waktu terus berjalan, hasil survey sebagian besar dimenangkan kubu Prabowo-Sandi, belum lagi pasukan proxy war mereka yang seolah jumlahnya jauh melebihi pasukan proxy Jokowi-Ma'ruf. Tapi pemungutan suara di TPS lah penentu semuanya.

Dalam beberapa kali Debat Paslon, Jokowi-Ma'ruf terkadang mati kutu akibat argumen berilian Prabowo-Sandi. Namun tidak jarang juga Prabowo marah-marah karena merasa terpojok oleh argumen di balik senyum manis Jokowi.

Beberapa kali debat paslon di gelar, diam-diam masyarakar menyeleksi kedua sosok hebat itu. Saat itu, kemenangan masih berada di pihak 02 dan pihak 01, terpojok sedemikian hingga. Di tengah gentingnya situasi, Jokowi terus menggalang masa dengan berbagai pendekatannya, termasuk dengan pendekatan senyuman, memperkuat program pembangunan, berempati terhadap korban bencana di antero nusantara, berlaku adem ayem dan lainnya.

Persepsi masyarakat banyak mengalami perubahan setelah debat perseorangan antara Jowi dan Prabowo digelar. Emosi Prabowo waktu itu membuatnya turun reting dalam berbagai hasil survey namun di proxy, Prabowo terlihat tetap kuat dan bahkan kubunya semakin yakin bahwa Jokowi akan tumbang.

Musim kampanye dimulai, dikabarkan bahwa di berbagai daerah kampanye Prabowo mengumpulkan ledakan masa dab kampanye Jokowi dikabarkan sepi alis kurang sekali. Hal ini membuat kubu Prabowo-Sandi semakin yakin bahwa Jokowi-Amin akan keok, belum lagi isu-isu miring tentang Jokowi yang memenuhi media tv, media sosoal dan media lainnya yang membuat kubu 02 semakin yakin bahwa mereka akan memenangkan pesta demokrasi Indonesia 2019 ini.

Hari pemungutan suara semakin dekat, bersamaan dengan berahirnya masa kampanye. Kedua kubu sibuk menguatkan basis suara masing-masing. Berbagai strategi dilaksanakan demi memenangkan pertandingan. Serang menyerang di media sosial terus berlangsung dengan amunisi isu-isu miring. Ini adalah kewajaran dan sungguh suatu kewajaran dalam suatu pertarungan politik.

Rakyat terus mengawasi jalannya pertempuran sambil menimbang siapa yang pantas untuk dijadikan pilihan di tempat pemungutan suara nanti. Tidak jarang pula mereka yang bimbang dan bertanya kepada orang-orang yang dipercaya.

Pada waktu yang bersamaan tersebar isu kecurangan kubu Jokowi di berbagai tempat pemungutan suara di luar negeri. Pada saat bersamaan, ramai pula tersebar berita kemenangan Prabowi di hampir 70% tempat pemungutan suara di luar nusantara. Isu-isu ite meningkatkan suhu pesta politik 2019 ini.

Dan hari pemungutan suara tiba jua. Pagi 17 April 2019 adalah hari terpanas bagi kedua kubu dan para pendukung calon legislatif yang ikut bertanding pada pesta politik kali ini.

Pemungutan suara dimulai di setiap TPS se-Indonesia yang dilanjutkan dengan perhitungan hasil pemungutan suara sesuai dengan jadwal yang ditetapkan KPU.

Pukul 17.00, informasi kemenangan Prabowo-Sandi tersebar di media tv dan media sosial. Hitung Cepat berbagai lembaga survey seolah bersaing megumpulkan perolehan suara kedua kubu, Hitung Cepat KPU juga tidak kalah menariknya.

Di hari itu, Prabowo sudah mulai sangat percaya diri bahwa pasangan-nyalah yang memenangkan pertandingan dan beliau tidak segan-segan mendeklarasikan kemenangan. Sementara Jokowi-Ma'ruf hanya terdiam menyaksikan kelaim kekalahan mereka seraya menunggu pengumuman resmi dari KPU, sambil mengelus dada atas tuduha kecurangan yang mereka lakukan di sepanjang masa kampanye hingga pemungutan suara di seluruh Indonesia dilaksanakan.

Sungguh tontonan yang sangat menarik dan sangat sayang untuk dibiarkan berlalu begitu saja oleh rakya Indonesia. Beberapa hari setelah pemungutan suara dilaksanakan, Prabowo tanpa Sandi kembali menggelar sujud kemenangan. Hiporia itu disaksikan masyarakat dunia dan banyak pihak yang menyayangkan.

Tidak lama berselang, isu banyaknya petugas KPPS yang mininggal dunia dijadikan sebagai bagian kesalahan Jokowi dan KPU, belum lagi isu penggelembungan suara oleh pihak Penyelenggara pemilu untuk pasangan Jokowi-Ma'ruf yang membuat situasi semakin memanas.

Semua yang dilakukan oleh Jokowi dan kubunya selalu salah dalam pandangan kubu lawannya, sungguh menyedihkan.

 

Baca Juga :


KPU tidak lagi dipercayai, tudingan-tudingan miring untuk KPU terus tersebar luas dan menjadi trending topik di tv dan media sosial. Debat kusir para netizen membuat pesta demokrasi kali ini semakin seru.

Isu kemenangan Prabowo-Sandi terus menggema, seiring mencuatnya isu kecurangan kubu Jokowi-Ma'ruf dan KPU serta berbagai isu miring tentang sosok laki-kali yang identik dengan jiwa belusukan itu. Selaku Petahana, beliau bingung menghadapi semua tudingan itu, namun demikian ia selalu menyumbangkan senyum simpu saat disorot kamera awak media berbagai chanel televisi.

Suhu politik terus memanas, lebih-lebih kubu Prabowo sudah teramat sangat yakin dengan kemenangannya. Seiring dengan itu KPU terus mendapatkan tekanan sebab isu kecurangan.

Waktu pengumuman hasil pemilu semakin dekat, data yang dikumpulkan KPU RI menunjukkan bahwa perolehan Jokowi-Ma'ruf lebih tinggi dari lawannya. Sedangkan kubu Prabowo-Sandi berpendirian bahwa jagoan mereka mendapat suara nasional hingga 60% dan tentunya mereka sangat tidak setuju atas hasil yang diperoleh KPU.

Isu nasional semakin genting, lebih-lebih dengan muncul dan mencuatnya isu People Power untuk menuntut keadilan jika pengumuman yang dikeluarkan KPU memenangkan Jokowi-Ma'ruf. Tanggal 22 Mei 2019 seperti tanggal sakti bagi perhelatan politik kali ini.

Persiapan People Power memunculkan isu baru, yakni Jihat bagi kubu Prabowo dan Makar bagi kubu Jokowi. Kubu Prabowo mengangkat bahwa pergerskan People Power adalah bagian dari kegiatan ber-Jihad sebab pergerakan itu murni bertujuan menuntut keadilan.

Beda lagi menurut kubu pemerintah atau yang menurut kubu Prabowo bahwa hal itu adalah diinisiasi oleh Jokowi, intinya kubu ini membumingkan isu Makar. Para inisiator People Power diperiksa dan diamankan sebab gerakan mereka dicurigai merupakan bagian dari kegiatan Makar alias menggulingkan pemerintahan yang syah.

Isu tersebut membuat situasi semakin memanas, di sisi lain KPU mencari pertimbangan bagaimana supaya pengumuman hasil pemilu nasional tidak diwarnai insiden langsung.

Atas dasar berbagai pertimbangan dan tentunya didasari undang-undang, maka KPU mengeluarkan pengumuman lebih awal dan bahkan pengumumannya dilaksanakan dini hari 21 Mei 2019 dengan hasil Jokowi-Ma'ruf jadi pemenang.

Pagi 21 Mei 2019, kubu 02 menilai langkah yang diambil KPU tersebut dianggap tidak sesuai undang-undang dan merupakan suatu kezaliman. Mereka semakin yakin bahwa KPU berpihak pada Jokowi. Hal itupun menjadi trending topik di media tv dan media sosial.

Pengumuman dari KPU memicu semangat jihad kubu yang mengatakan bahwa KPU curang dan menzalimi rakyat. Pergerakan People Power pun dimulai. Ribuan manusia berbondong-bondong menuju Jakarta dengan tujuan berjihad menuntut keadilan.

Aksi 21 dan 22 Mei 2019 berahir ricuh, masalah baru muncul dengan berbagai isu yang intinyanya adalah menyalahkan aparat yang mengamankan aksi itu, isu banyak aparat adalah keturunan cina dan isu lainnya. Entah isu itu benar atau salah, yang jelas aparat dan massa People Power ricuh dan berujung pada pembatasan penggunaan fitur media sosial oleh pemerintah RI dengan alasan mengurangi beredarnya berita hox.

Waktu terus berjalan, massa People Power semakin melemah. Dan berbagai tudingan serta tuntutan para penuntut keadilan terus berkembang dengan berbagai dalih yang melibatkan agama dan hak asasi manusia.

Sudah terlalu panjang dan pelik proses yang dilalui selama pemilu 2019 ini. Berbagai tuntutan sudah dilayangkan dan dikroscek oleh pihak-pihak yang berkewajiban. Pengumuman KPU sudah dilaksanakan melalui prosedur dan pengawasan pihak-pihak yang bertugas dalam hal tersebut. Pergerakan People Power juga sudah dilaksanakan. Namun, Jokowi-Ma'rus lah pemenang pesta demokrasi nasonal 2019.

Mau dibilang curang, mau dibilang pemilihnya dari bangsa jin, mau dibilang apapun, toh Yang Maha Kuasa sudah mengatur sekenario hidup dan perjalanan segenap ciptaannya dalam kitab lauh yang ditulis oleh Kalam-Nya. Pemilu kali ini juga tentunya sudah termuat dalam sekenario kitab Lauh yang ditulis Tuhan dengan kalam-Nya.

Melihat peliknya perjalanan pemilu kali ini dan berbagai strategi kubu lawan untuk mengalahkan Jokowi-Ma'ruf, namun mereka tetap juga menjadi pemenang pertandingan, maka sebagai seorang hamba yang beriman dan mengaku diri beragama islam, saya percaya sepenuhnya bahwa kemenangan Jokowi-Amin adalah bagian dari sekenario Tuhan Yang Maha Kuasa untuk bangsa Indonesia dan dunia pada umumnya. Singkatnya, Jokowi-Ma'ruf menanga atas kehendak tuhan.

Marilah kita berpulang kepada keputusan tuhan agar hati kita tidak diliputi dendam. Segala yang ada di jagat raya ini sudah di atur oleh Yang Maha Kuasa, kita selaku manusia adalah anak wayang yang digerakkan oleh kuasa-Nya.

Demokrasi adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Demokrasi bangsa ini dibangun atas azaz ketuhanan dan kekeluargaan. Negeri ini dibangun atas azas pancasila yang sangat mengutamakan azas ketuhanan, kebhinekaan dan kekeluargaan.

Oleh sebab itu, mari kita jadikan perjalanan pesta politik tahun 2019 sebagai pelajaran penting bagi kehidupang kebangsaan dan jalannya demokrasi bangsa ini di masa mendatang. Marilah kita legowo dalam berdemokrasi, mari kita terima hasil pemilu kali ini dengan lapang dada.

Yakinlah bahwa ini adalah bagian dari ketetapan tuhan dan yakinlah bahwa Jokowi-Ma'ruf adalah pilihan tuhan. Dan di sebalik itu, tuhan sudah menyiapkan rencana yang terbaik untuk bangsa kita.

Salam perdamaian untuk kita semua. Mari kita saling memandang secara positif dan berdiru untuk universal, bukan untuk kubu atau kelompok masing-masing. Semoga bangsa ini segera aman dan kondusif lagi. Mari kita berpulang kepada ketetapan tuhan.
_By. Asri The Gila_



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan