logoblog

Cari

Kajian Siti Jenar Oleh Paox Iben

Kajian Siti Jenar Oleh Paox Iben

KM. Sukamulia - Secara umum, berbicara tentang Siti Jenar dipandang sebagai sebuah aib dalam konteks kajian islam di nusantara. Namun demikian,

Opini/Artikel

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
17 Mei, 2019 01:14:30
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 2363 Kali

KM. Sukamulia - Secara umum, berbicara tentang Siti Jenar dipandang sebagai sebuah aib dalam konteks kajian islam di nusantara. Namun demikian, peserta Kajian Siti Jenar yang hadir di Kalakuma malah merasa bangga membicarakan sosok Siti Jenar secara pulgar sebab mengkaji sosok islam yang satu ini juga penting demi mendapatkan kejelasan mengenai asal muasal, sejarah hidup hingga konsep ajaran seorang Siti Jenar.

Tidak banyak komunitas ataupun lembaga pendidikan dan sejenisnya yang berani membuka diskusi publik mengenai Siti Jenar, hal itulah yang melatar belakangi komunitas Kalikuma yang bermarkas di Kedai Kalikuma Taman Sari Mataram membuat tema "Kajian Siti Jenar" sebagai pokok bahasan diskusi mingguannya yang di selenggarakan Rabu malam (15 Mei 2019).

Diskusi Kalikuma dibuka untuk umum dan dilaksanakan dua kali dalam seminggu, yakni Rabu malam dan Sabtu malam. Untuk bulan Ramadhan di tahun 2019 ini, diskusi Kalikuma fokus membahas kajian tokoh islam dan pada Rabu malam (15/05/19) diskusi tersebut mengangkat Kajian Siti Jenar dengan Paox Iben sebagai pematerinya.

Diskusi yang berlangsung bakda tarawih hingga pukul 12.00 wita ini dihadiri oleh puluhan Kalikumaker dan pencinta Siti Jenar. Selaku pemateri, di awal diskusi, Paox Iben memaparkan sejarah masuknya islam di nusantara, asal muasal Siti Jenar, sejarah hidup dan kontek ajaran Siti Jenar, serta hal-hal lain yang berkaitan dengan sosok yang dipandang sebagai tokoh sesat oleh sebagian tokoh penyebar islam nusantara pada masanya.

"Berbicara mengenai historografi Siti Jenar banyak sekali versi, banyak kuasinya, banyak pemalsuan-pemalsuannya, banyak mitosnya. Misalkan, berbicara mengenai dimana beliau lahir, dimana beliau mati. Beberapa versi mengatakan beliau lahir di Iran, namun Iran-nya dimana kita tidak tahu, versi lain lagi mengatakan beliau lahir di Cirebon, ada versi lain lagi bahwa beliau lahir di Jepara. Begitu juga tentang kematiannya, setau saya ada tiga makam Siti Jenar", papar penulis berambut gimbal yang menjadi Presiden Of Revublik Seruput itu di awal penyampaian materi diskusi.

Paox Iben kemudian memaparkan mengenai alur masuknya islam di nusantara. Beliau menyatakan bahwa ada 2 teori besar mengenai masuknya islam ke Indonesia, yang pertama adalah teori bahwa islam masuk di nusantara sejak pertama Hijriah dibawa oleh para pedagang dan teori kedua, islam masuk di nusantara pada abad ke-13 M. 

Menurut Paox Iben, kedua teori itu benar sebab waktu itu nusantara sudah dikenal oleh seluruh dunia, kecuali Amerika dan waktu itu nusantara adalah magnet yang menyebabkan para pedagang dunia berdatangan ke nusantara, termasuk para pedagang dari Persia sehingga sangat memungkinkan bahwa Islam masuk di nusantara sejak pertama Hijriah dan berkembang pesat di ahir abad 13 Masehi.

"Kaum-kaum awal yang masuk ke Indonesia sebagian besar berasal dari Selat Hormus (masyarakat Persia). Pada waktu itu memang sebagian besar berasal dari kaum Parsi Kurdi. Misalnya, kita bicarakan Siti Jenar yang dikatakan bahwa asal usulnya dari Persia. Saya lebih setuju bahwa orang tuanya yang lahir di Persia dan beliau (Siti Jenar) lahir di Cirebon dan orang tuanya adalah seorang syah bandar sebab pada masa itu sebagian besar syah bandar berasal dari tanah Arab dan Persia, yaki daru Guzarat sampai wilayah tengah Persia", papar Iben.

Secara kronolohis Paox Iben membahas mengenai masuknya islam di nusantara yang nantinya melahirkan tokoh-tokoh islam nusantara, termasuk Siti Jenar. 

Beliau bahkan menyatakan bahwa kerajaan islam pertama nusantara adalah Kerajaa Ternate dengan sultan pertamanya bernama Mudapar syah yang diperkirakan dari Iran Suni, bukan kerajaan Samudra Pasai.

Selanjutnya, dijelaskan bahwa islam awal lebih dekat dengan kebudayaan persia yang cenderung ke syah-syahan. Dijelaskan juga bahwa Majapahit merupakan sebuah kekaisaran fedrasi. Misalnya Majapahit pernah membangun pangkalan penting di Singapura pada masa Tribuana Tunggadewi untuk membendung ekpansi Mongol dan Portugis.

Majapahit menjadi negara super power yang sangat diperhitungkan oleh kekuasaan dari luar, semisal Cina dan India di masa Hayamuruk. Setelah Hayamuruk tumbang, Majapahit Pecah jadi dua dan ahirnya terjadi perang parekrek. Setelah itu muncullah persekutuan-persekutuan baru. Ada 9 kota dagang yang membentuk satu dewan bersama yang dikenal dengan Wali Songo dan Raden Patah yang nama aslinya Jim Bun ditunjuk sebagai raja. 

"Jika dilihat dari segi namanya, maka raja islam pertama nusantara itu ber-etnis Cina. Islam di nusantara berasal dari 2 jalur, yaitu Mongol yang diislamkan dan Persia", tegas Pox Iben ditengah riuhnya peserta diskusi yang agak keheran-heranan terkait dengan penegasannya mengenai Raden Patah yang ber-etnis Cina.

Pada kesempatan itu, laki-laki berpenampilan Regemania itu juga menyampaikan bahwa, ada juga teori yang mengatakan bahwa Wali Songo itu adalah utusan sultan Mehmed untuk melemahkan Majapahit. Peralihan Majapahit menuju kerajaan islam membawa angin segar. Pada saat kekuasaan Demak mulai berkembang dan untuk memperkuat pengaruh Demak, maka muncullah seorang sosok yang bernama Abdul Jalil yang dikenal dengan sebutan Siti Jenar.

 

Baca Juga :


Syeh Siti Jenar adalah penganut paham Wujudiah atau esensialisme. Dalam waktu yang cepat pengaruh ajaran Siti Jenar berkembang pesat, terutama pada golongan eks bangsawan Majapahit yang tersingkir. Maka muncullah kekuatan baru dalam melawan kekuasaan Demak.

"Dalam kontes ajaran teologi, Siti Jenar terkenal dengan ajaran Manunggaling Kaulo Gusti yang artinya Raja dan Rakyat tidak ada jarak. Hal itu menyebabkan hilangnya batas antara raja dan rakyat, terbukti dengan pengikut Siti Jenar yang berbicara dengan golongan bangsawan dengan bahasa keseharian, tidak ada bedanya saat mereka berbicara dengan sesama kaulo", papar Iben.

"Dalam konteks idiologi, ajaran Siti Jenar adalah hal yang baru bagi idiologi di seluruh dunia. Tidak ada perbedaan antara sesama manusia, bahkan Jenar mengajarkan bahwa manusia tidak ada jaraknya dengan tuhan. Konsep filsafat seperti itu sebenarnya sudah lazim di dunia idiologi Persia", sambung Iben.

Di dalam konteks Siti Jenar, pada dasarnya di dalam ajaran Siti Jenar tidak ada bedanya dengan wali lainnya. Terbukti setelah Siti Jenar wafat, ajara atau idiologi yang sama banyak dipakai oleh para pengikut Sunan Kali Jaga yang konon mengeksekusi mati Siti Jenar.

Mengacu dari hal itu maka dieksekusinya Siti Jenar bukan karena masalah idiologai, melainkan sebab benturan politik semata, yakni benturan politik antara pribumi dan pendatang.

Benturan politik yang dimaksud adalah antara Sunan Kudus dengan Sunan Kali Jaga. Sunan Kudus adalah keturunan Palestina dan Sunan Kali Jaga adalah keturunan pribumi yang merupakan satu-satunya wali yang tidak pernah ke Arab dan tidak bisa berbahasa Arab. Namun di tangan Kali Jaga-lah islam berkembang dengan sangat pesat di nusantara dengan mengembangkan konsep ajaran Jenar.

Dalam konteks zaman itu Siti Jenar dianggap benar-benar merusak tatanan kekuasaan, dimana ada kesultanan baru yang sedang menyusun negara dengan ajaran kontra syariat, yaitu paham esensialisme. 

Apa yang dilakukan oleh Siti Jenar itu dianggap merusak syari bukan merusak esensi. Atas dasar itu, Siti Jenar harus disingkirkan sebab keberadaannya mengancam kekuasaan politik pribumi yang waktu itu dalam pangkuan Kali Jaga. Maka Kali Jaga mengeksekusi Siti Jenar atas tudingan penyebar ajaran sesat yang pada dasarnya eksekusi itu dilakukan sebab masalah politik kekuasaan.

Mengacu dari paparan Paox Iben tadi, maka jelaslah bahwa ajaran Siti Jenar tidak ada bedanya dengan konsep ajaran islam wali yang lainnya. Perbedaannya hanya pada cara atau metode atau pendekata pengajaran yang mereka gunakan dalam berdakwah. Dieksekusinya Abdul Jalil atau Siti Jenar bukan sebab idiologi, melainkan atas dasar masalah politik kekuasaan antara golongan pendatang dan golongan pribumi. Kali Jaga sebagai pimpinan golongan pribumi dan Siti Jenar memper kuat golongan pendatang yang waktu itu dipegang oleh Sunan Kudus yang mempersiapkan Siti Jenar sebagai penggantinya.

Diskusi selama hampir tiga jam itu rasanya sangat tidak cukup untuk mengupas tuntas Kajian Siti Jenar beserta eksitensinya dalam memperluas ajaran islam di nusantara. Namun demikian, apa yang telah di sampaikan oleh sastrawan kondang bernama Paox Iben beserta tanya jawab dengan para peseta diskusi Kalikuma kiranya dapat memberikan pencerahan atau tambahan pengetahuan bagi diri saya peribadi dan semoga bermanfaat bagi para pembaca tulisan ini. Salam dari Kampung.
_By. Asri The Gila_

 



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan