logoblog

Cari

Merajut Persatuan Yang Memudar Di Tubuh Indonesiaku

Merajut Persatuan Yang Memudar Di Tubuh Indonesiaku

Memahami Indonesia tentu harus kita maknai keberagaman yang ada pada tubuhnya. Negara besar yang terdiri dari ribuan pulau dengan ribuan pulu

Opini/Artikel

Yas Arman Al Yhok
Oleh Yas Arman Al Yhok
11 Maret, 2019 10:38:45
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 4879 Kali

Memahami Indonesia tentu harus kita maknai keberagaman yang ada pada tubuhnya. Negara besar yang terdiri dari ribuan pulau dengan ribuan pulu sukunya. Bangsa yang bermartabat dengan kehidupan toleransinya yang sangat kuat, menjadikan Indonesia sebagai Negara yang kuat dengan akar persatuan. Kita tahu bahwa Negara ini telah menggoreskan sebuah catatan tinta sejarah yang sangat panjang sebelum berdirinya Indonesia. Sebelum berdiri, Negara ini telah melakukan kamuflase perubahan yang panang. Dimulai dengan munculnya kerajaan-kerajaan Nusantara yang dikenal sebagai cikal bakal berdirinya Negara, kemudian masa dimana para penjajah eropa menguasai Indonesia sampai beberapa perubahan system pemerintahan dari orde lama, orde baru kemudian reformasi seperti yang kita rasakan saat ini.

 

Keberadaan catatan sejarah ini, tidak bias kita munafikkan kebenarannya, bahwa dengan ribuan pulau dan ribuan suku dengan bahasa daerah berbeda dan dengan agama yang berbeda pula mampu di satukan dalam sebuah Negara besar yang kita sebut sebagai Indonesia. Mendirikan sebuah Negara yang di dalamnya jelas terdapat perbedaan tentu tidak mudah, harus di temukan sebuah formula tepat agar mampu diterima oleh seluruh kalangan dan golongan.

 

Jika kita petakan secara geografis misalnya, jika Indonesia dibagi sesuaidengan keberadaan waktu hari ini yakni Waktu Indonesia Barat (WIB), Waktu Indonesia Tengah (WITA) dan Waktu Indonesia Timur (WIT) seakan Indonesia ini telah dibagi dengan keberadaan agama. Kita ketahui bersama misalnya Indonesia bagian barat (WIB) dari mulai aceh sampai pulau jawa adalah keberadaan dari kerajaan-kerajaan besar islam. Pulau Sumatra misalnya, sejarah mencatat keberadaan kerajaan islam terbesar dan pertama di Indonesia berada di sana yakni kerajaan Samudra Pasai. Di wilayah barat ini juga dapat di kategorikan sebagai wilayah dengan penganut muslim paling banyak. Wilayah bagian tengah (WITA), keberadaan pulau dewata Bali, merupakan sentral agama hindu terbesar di Indonesia sedangkan Indonesia bagian timur (WIT) merupakan penganut agama Kristen dan katolik terbesar di Indonesia.

 

Namun, keberadaan agama yang beragam, tidak pernah dijadikan sebagai benteng untuk permusuhan, perbedaan ini malah menjadikan Indonesia hidup dengan damai, dan saling menghormati antar sesama. Di pulau Lombok misalnya, pulau yang di kenal dengan sebutan pulau seribu masjid ini ternyata tidak seluruh masyarakatnya adalah penganut agama islam, namun dibeberapa wilayah di kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat ada beberapa lingkungan yang seluruhnya beragama hindu, namun mampu hidup bergandengan dengan bingkai persatuan. Bahkan di sebuah desa di kecamatan Narmada terdapat sebuah masjid yang berhadapan langsung dengan pura tepatnya di desa buwun mas.

 

Namun, hal yang dicita-citakan oleh fanding father Negara ini, mulai memudar. Akhir – akhir ini miris kita melihat persatuan sesame anak bangsa mulai rapuh dan memudar. Sikap saling hina dan mencaci antar sesama anak bangsa mulai bermunculan. Saling salah menyalahkan, saling bermusuhan bahkan saling ancam mengancam. Miris memang, sikap keberagaman dalam bingkai persatuan mulai di tinggalkan. Kondisi Negara kita hari ini mau tidak mau harus kita iyakan bahwa sikap persatuan mulai memudar. Kenapa demikian?

 

Pesta demokrasi yang jatuh pada tanggal 17 April 2019 mendatang merupakan salah satu penyebab memudarnya semangat persatuan. Ini terjadi karena perhelatan pilpres lagi-lagi mempertemukan dua rival persis sama di 2014 lalu. Tentu ini sedikit memperkeruh suasana, karena hanya terdapat dua pasangan calon. Jika sipulan tidak berada pada paslonA maka pasti dia berada pada paslon B, begitu juga sebaliknya. Perbedaan ini kemudian semakin diperparah hari demi hari ketika masing-masing kubu saling menyerang. Layaknya di film, jika anda tidak menyerang maka anda siap diserang begitu seterusnya.

 

Baca Juga :


 

Setiap hari, seakan-akan Negara ini dihiasi dengan perdebatan antara kubu A dan B, tak jarang kemudian bebrapa di antara mereka saling caci, fitnah, saling menghina bahkan memproduksi dan menyebarkan berita bohong (HOAX), tidak sedikit dari mereka harus berhadapan dengan hokum atas apa yang mereka lakukan. Jika ini terus dilakukan, maka ikatan semangat yang di bingkai dengan persatuan lambat laun akan robek juga. Efek dari pesta demokrasi ini memnag sudah sangat nyata kita lihat di lingkungan sekitar. Perbedaan pendapat kerap kali menjadi pemicu emosi yang tak terbendung.

 

Harus ada iktikat baik dari seluruh elemen guna menyadarkan masyarakat terkait bahayanya sikap tersebut. Negara ini terlalu besar jika harus bercerai berai akibat dari perbedaan pilihan. Semua pihak, tentu harus ikut terlibat, tidak hanya menunggu aparat kepolisian untuk menghentikannya, apa lagi menunggu para elit atas.

 

Harus di ingat betul, bahwa Indonesia berdiri tidak secara instan, namun ada sederet panjang yang harus di ingat. Campur tangan pendirian Negara ini, tidak serta merta hanya orang muslim saja, tidak suku jawa saja, tidak golongan satu saja apa lagi berhubungan dengan kubu paslon A atau B, namun mendirikan Negara ini adalah campur tangan seluruhnya. Sebagai anak cucu pendiri bangsa, sikap persatuan harus menjadi kunci dalam merajut kembali keberagaman di Indonesia. Perbedaan tentu mutlak adanya, namun perbedaan ini tidak boleh menjadi akar permusuhan sesama anak bangsa.

 

Ada gelombang besar yang harus sama-sama kita bendung untuk mempertahankan Negara ini, ada kelompok-kelompok besar diluar sana yang ingin memecah persatuan kita. Maka jika cinta Negara ini, kita harus bendung bersama, kita kokohkan kembali semangat persatuan itu. Jangan hanya tinggal diam melihat sedikit demi sedikit kelompok ini merong-rong akar persatuan. Pesata demokrasi hanya sekali 5 tahun, baik dan buruknya Negara kita bantu perbaiki bersama, siapa pun yang terpilih, dialah putra terbaik bangsa yang dipercaya oleh amant rakyat, dan kita bantu menjalankan kebijakannya. Yang sulit kita jaga hari ini adalah mempertahankan semangat persatuan, karena semangat inilah kunci merajut keberagaman, menuju Indonesia bermartabat yang nantinya di takuti dunia.



 
Yas Arman Al Yhok

Yas Arman Al Yhok

Baca yang seharusnya diBaca Fikir yang seharusnya diFikirkan Kerja yang seharusnya diKerjakan Kampung Medianya PMII admin @Yas Arman Al Yho Baca-Fikir-Kerja

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan