logoblog

Cari

Indonesia Memilih: Menikmati Pementesan Pilpres 2019

Indonesia Memilih: Menikmati Pementesan Pilpres 2019

Genderang peraang sudah di tabuh oleh sang juri dalam pertandingan, iya mereka Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) sebagai penengah

Opini/Artikel

Yas Arman P Al Yhok
Oleh Yas Arman P Al Yhok
06 Maret, 2019 10:45:00
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 986 Kali

Genderang peraang sudah di tabuh oleh sang juri dalam pertandingan, iya mereka Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) sebagai penengah jalannya pertandingan pemilihan langsung 2019 mendatang. Masyarakat tentu menunggu siapa putra terbaik bangsa yang akan menjjadi pemegang kekuasaan tertinggi dalam periode 5 tahun kedepan. Masyarakat Indonesia tentu hari ini sedang menimbaang-nimbang siapa yang akan mereka pilih untuk menjadi presiden dan wakil presiden Republik Indonesia.

Sejak pemilu tahun 2004 lalu, pemilihan presiden (pilpres) dan kepala daerah dilakukan langsung oleh rakyat, tidak lagi menggunakan voute di DPR atau DPRD. Ini tentu adalah pembelajaran yang baik bagi demokrasi Indonesia, karena rakyat sendirilah yang langsung menentukan siapa yang memang terbaik memimpin negara besar ini. Pemilu 2019 tinggal menghitung hari lagi, bahkan daapat kita katakan sudah tak ada waktu lagi, rakyat indonesia semestinya sudah harus bisa terbayang siapa yang layak untuk mejadi pemenang. Jika kita melihat jalannya pertandingan, layaknya pertandingan bola waktu-waktu sekarang adalah waktu dimana seluruh kontestan untuk menyerang, karena sudah mendekati injuri time.

Pilpres 2014 lalu, adalah pertandingan face to face bapak Prabowo Subianto melawan bapak Joko Widodo, dengan bapak Joko Widodo keluar sebagai pemenang. Di tahun 2019 ini, pertarungan itu kembali mempertemukan mereka pada arena yang sama hanya pendampingnya saja yang berbeda. Bapak Prabowo Subianto 2014 lalu memilih bapak Hatta Rajasa sebagai wakil, namun pada pilpres kali ini menjatuhkan pilihannya pada Sandiaga Salehudin Uno. Sedangkan bapak Joko Widodo 2014 lalu berpasangan dengan Jusuf Kalla sebagai wakil, namun di pilpres ini karena JK tersandung undang-undang bahwa tidak boleh mencalonkan diri lagi sebagai wakil karena sudah 2 periode, sehingga pak Joko Widodo menjatuhkan pilihannya pada KH. Ma'ruf Amin.

Ada yang menarik kita lihat dari komposisi para capres dan cawapres di tahun 2019 ini, yang memang layak untuk di jadikan sebagai bahan diskusi. Pertama soal bapak Prabowo Subianto dengan bapak Joko Widodo. Publik tentu tahu bahwa beliau berdua merupakan putra terbaik bangsa saat ini. Prabowo seorang abdi negara dalam milter yang di katakan pernah menjadi komando kopasus, yakni satuan khusus dalam Tentara Negara Indonesia (TNI). Sebagai seorang prajurit komando, tentu sikap nasionalis kenegaraan Prabowo tidak bisa di tawar-tawar lagi. Berbeda dengan Prabowo, saang rival bapak Jokowi adalah seorang pengusaha mebel sukses di solo, yang produksinya telah eksport kebeberapa negara di dunia. Selain sukses menjadi pengusaha, Jokowi juga sukses menjadi walikota solo dan gubernur DKI Jakarta.

Di awal tahun 2018 kemarin, ketika getol-getolnya para elit politik mencari dan saling menjajaki untuk membangun sebuah koalisi di pilpres 2019 ini, ada isu menarik waktu itu ketika ada wacana pak Jokowi ingin meminang pak Prabowo sebagai cawapresnya. Waktu itu masyarakat menghela nafas panjang menunggu kabar baik itu terealisasi, namun ternyata harapan itu hanya isapan jempol saja, pertandingan tetap mempertemukan mereka kembali. Suksesnya pak Jokowi dalam meraih simpati rakyat memang harus kita akui ada campur tangan besar pak Prabowo di belakangnya. Misalnya ketika mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI Jakarta, pak Jokowi bergandengan dengan Basuki Tcahya Purnama alias Ahok di dukung penuh oleh koalisi PDIP dan Gerindra. Ingatan kita di pemilu 2004 dan 2009 pun koalisi ini seakan dekat ketika bu Megawati berpasangan dengan Prabowo di pilpres tahun itu namun harus tumbang oleh pak SBY dan JK. Jika kita perhatikan, ini layaknya sebuah pementasan drama, yang ketika di awal di sayang, di sanjung kemudian karena pembagian harta sebuah keluarga bercerai berai lalu kemudian bermusuhan. Maka tidak menutup kemungkinan bahwa, suatu saat mereka kembali akan bersatu untuk merebut harta yang di kuasai oleh bukan dari pihak mereka. Bukan tidak mungkin, karena politik tidak ada yang mutlak, dia dinamis sesuai dengan kebutuhan sesamanya.

Prabowo sangat lihai mencari pasangan dalam pilpres ini, dengan mengambil wakil seorang milenial muda dan sukses dalam bisnisnya. Pilihan Prabowo tentu tidak sembarangan, Sandiaga Uno merupakan gambaran kaum muda, yang siap menjalankan amanah rakyat. Mengambil wakil milenial tentu bidikannya jelas adalah suara milenial, mengingat suara milenial di pemilu 2019 ini 30-40%. Selain milenial, kesuksesan Sandiaga Uno dalam berbisnis juga menjadi point besar. Keahlian mengelola ekonomi tentu di harapkan untuk mengelola anggaran negara nantinya. Bagaimana dengan Jokowi?

Jokowi juga tidak kalah lihai dalam menentukan pasangan cawapresnya, memilih KH. Ma'ruf Amin tentu merupakan pertimbangan panjang para elit koalisi. Mengingat, banyaknya tawaran cawapres dari tim koalisi. Namun memilih KH. Ma'ruf Amin bukan hanya sekedar pilihan, mengingat beliau adalah salah satu penggagas keuangan berbasis syariah di Indonesia. Sudah tentu, soal ekonomi tidak bisa di ragukan lagi, selain itu beliau juga merupakan Rais Aam PBNU yang merupakan organisasi terbesar di Indonesia. Ini tentu point besar yang ingin di ambil Jokowi guna pengamanan suara di 2019 mendatang.

 

Baca Juga :


Masyarakat Indonesia harus pahami bahwa hari ini kita sedang menonton opera dalam pilpres 2019 ini. Para elit politik kita di Jakarta sana sedang mencoba memainkan peranan dan karakter masing-masingnya. Misalnya, setiap hari kita di pertontonkan dengan perkelahian pendapat antara kubu satu dengan kubu yang lainnya. Perbedaan pendapat ini melahirkan sebuah perdebatan yang ujungnya tidak ada sama sekali. Bahkan tidak heran, perdebatan pendapat itu kini sudah masuk kedalam sendi sosial kita. Masyarakat awam, yang tidak mengerti dengan apa yang di perdebatkan mengakibatkan munculnya sikap emosional dan fanatikisme terhadap calonnya, sehingga konflik sosial sudah tak bisa di hindarkan lagi.

Dalam tulisan ini, penulis ingin memberikan sebuah gambaran kepada masyarakat bahwa, ini hanya sebuah pertandingan, sebuah kompetisi bukan perang antar saudara. Kompetisi layaknya sebuah drama film, pementasan opera, ketika waktu tayangnya kita melihat ekspresi para aktor sesuai dengan karakternya namun setelah waktu tayangnya habis maka semuanya itupun hilang. Sebagai aktor, tentu elit politik kita memerankan karakternya dia sedemikan rupa agar betul-betul terlihat asli dan nyata. Misalnya, ada elit yang setiap hari kerjaanya membuat kontroversi dengan ucapannya. Kemudian menjadi perbincangan, bahan diskusi, bahan perdebatan dan seterusnya. Sehingga muncul beberapa respon masyarakat tentang pernyataannya. Apakah kemudian pernah kita tanyakan apa dampak positif bagi kita semua di bawah memperdebatkan itu? Apakah ketika kita memenangkan perdebatan itu lantas kita menjadi sukses? Kita menjadi kaya misalnya?

Atau contoh lain pementasan yang menggunakan bumbu-bumbu sara sedikit, apa lagi soal agama. Misaalnya salah seorang elit politik berpidato dengan bahasa provokasi, mengancam, mencaci bahkan menghina saudara kita dengan sebutan kotor lalu di bumbui dengan ayat agama dan di akhiri dengan menyebut kebesaran tuhan. Setelah pementasan selesai muncul respon berbagai kalangan, ada yang dengan tegas menolak bahkan ada yang keras membela. Lantas pernahkan berfikir dengan membelanya apakah kita masuk syurga? Lantas apakah dia tuhan sehingga kau percayai melewati tuhan itu sendiri? Ini hanya sebuah pementasan, ini hanya sebuah pertunjukan bukan perang saudara.

Pada pilpres 2019 ini, masyarakkat harus tahu bahwa ini adalah pesta demokrasi, layaknya sebuah pesta ini hanya bersifat sementara. Ini hanya soal memilih presiden bukan sedang perang yang membuat kita saling benci dan saling tidak menyukai antar tetangga dan teman kerabat. Setelah ini selesai, kita masih tetap sama seperti kemarin, pagi berangkat kerja sore pulang kumpul bersama keluarga. Yang berusaha kerja keras dapat hasil, yang pemalas tetap menjadi orang pemalas. Tak ada selesai pilpres, pilihan anda menang lalu orang pemalas dapat kerja bagus lalu sukses. Lantas apa yang sekarang dilakukan? Tentu kita nikmati pementasan ini.

Masyarakat sebagai konstituen adalah pemegang suara, yang dimana nantinya akan memberikan mandat itu kepada sang calon. Maka mulai sekarang sisa waktu beberapa hari ini kita nikmati pementasan ini. Layaknya menonton film, tentu anda akan merasakan senang terhadap salah satu aktor, dan merasa tidak senang pula pada aktor yang lainnya. Tentu ini adalah sikap wajar, namun aktor yang anda suka , belum tentu tetangga bahkan kerabat anda suka juga, sehingga cukup anda saja yang tahu apa yang anda suka. Masyarakat tidak perlu harus meluapkan itu secara emosional. Sebagai masyarakat, mari kita duduk manis menonton pementasan ini sampai selesai, tanpa gaduh, dengan aman dan damai.



 
Yas Arman P Al Yhok

Yas Arman P Al Yhok

Baca yang seharusnya diBaca Fikir yang seharusnya diFikirkan Kerja yang seharusnya diKerjakan Kampung Medianya PMII admin @Yas Arman Al Yho Baca-Fikir-Kerja

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan