logoblog

Cari

Genosida Lombok Part 2

Genosida Lombok Part 2

KM. Sukamulia - Sejarah suku bangsaku hanya menyisakan catatan-catatan kuno oknum-oknum berkepentingan. Catatan-catatan itu ditulis oleh mereka yang rela menjual kebenaran

Opini/Artikel

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
01 Maret, 2019 00:45:17
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 425 Kali

KM. Sukamulia - Sejarah suku bangsaku hanya menyisakan catatan-catatan kuno oknum-oknum berkepentingan. Catatan-catatan itu ditulis oleh mereka yang rela menjual kebenaran demi uang, jabatan, dan demi menyelamatkan nyawanya yang dipegang oleh penguasa-penguasa ordenya. Yaaa sejarah memang kerap kali ditulis atas keinginan ordenya. Sebab itulah aku tidak heran atas kerancauan sejarah suku dan bangsaku.

Gold, glory, dan gospel. Tiga kata itu adalah semboyan para penjajah. Tiga kata itu adalah misi wajib setiap bangsa yang menjajah bangsa lainnya. Tiga kata itu tidak terpisahkan; pencarian kekayaan, perolehan kekuasaan/kejayaan, dan penyebaran agama atau paham pundamental. Tiga kata itu dijalankan beriringan dengan konsep step by step (bertahap).

Gold atau yang umum kita sebut dengan nama Emas, itu adalah lambang kekayaan yang menjadi alasan setiap penjajah mendatangi target  nya. Untuk mendapatkan kekayaan itu, mereka melakukan berbagai strategi, mulai dari pengelabuan hingga peperangan. Pulau tempat tinggal ku termasuk dalam administratif nusantara yang konon dijajah selama 3,5 abad oleh bangsa Belanda. Dengan demikian, dari sudut gold; pulau tempat ku dilahirkan bernasip sama dengan pulau-pulau lainnya. Kekayaan alamnya dikuras hingga penghuninya terjangkit wabah miskin di ladang emas dan lumbung padi.  Wabah itu diwariskan hingga kini. Tanah ku kaya raya, hasil buminya melimpah ruah. Hanya saja, kekayaannya memperkaya orang asing dan memenuhi lumbung-lumbung emas kaum kapitalis. Dan hingga detik ini, kemiskinan pun mewabah sedemikian ngeri.

Glory (kekuasaan), para penjajah berduyun-duyun membangun benteng di tanah jajahan mereka, termasuk di atas tanah yang ku huni. Benteng-benteng itu mereka hiasi dengan identitas mereka yang melampaui identitas daerah jajahannya. Strategi terampuh kolonialisme dan infrealisme adalah penghapusan identitas melalui pengaburan sejarah.

Ya, mereka berupaya memperoleh kekuasaan dengan menghapus identitas jajahannya, dengan cara menghapus sejarah masa lampau jajahannya dan kemudian mengadu domba masyarakat jajahannya dengan politik belah bambu. Politik belah bambu dijankan sebagai setrategi ampuh untuk memecah kesatuan dan persatuan suku dan bangsa yang hendak dikuasainya. Masyarakat jajahannya dibodohi dengan catatan-catatan palsu yang mereka buat demi kejayaan yang mereka kehendaki. Catatan-catatan palsu itu mereka sakralkan dan mereka wariskan dengan penuh kebanggan, sedangkan catatan-catatan sejarah yang sesungguhnya mereka bumi hanguskan. Suku yang daku cintai juga termasuk di dalam bagian dari sekian banyak korban strategi penguasaan tersebut. Itulah sebabnya sehingga sampai detik ini suku bangsa ku trus membertengkarkan garis keturunan (terah) yang tanpa mereka sadari bahwa terah itu adalah media ampuh yang dibuat kaum kolonial dan infreal untuk memecah belah kesatuan mereka dan untuk menghilangkan identitas asli suku mereka. Dan hingga kini kejayaan masih ditangan kaum kolonial, sedangkan kita terus menikmati kejayaan yang tidak ubahnya seperti mimpi basah yang ketika kita tersadar, ternyata kita hanyalah boneka yang setiap saat mereka mainkan.

Kejayaan sejarah kita direbut oleh mereka (kaum kolonial dan kaum infreal). Hampir segenap aspek kehidupan kita diwarnai oleh bayang-bayang kejayaan mereka; sejarah, budaya, hingga sistem ritus kita dipengaruhi oleh bingkai kejayaan mereka. Dan hal itu teramat sangat kita lupakan sehingga kita berbangga dan berdifusi dalam penetrasi kekuasaan mereka.

Menyadari hal itu, tentunya kita akan merasa muak, pasti muak dan berkomitmen untuk merebut kejayaan masa lalu kita yang mereka porak-porandakan demi kejayaan mereka. Sayangnya, kepengecutan membuat kita pura-pura tidak tahu akan hal itu. Sayangnya, kita sudah terlalu lelap dalam mantera ninabobok yang mereka susupkan di seluruh elemen kehidupan kita, sehingga kita enggan untuk bangun dan membuka mata untuk bangkit dan melawan guna memerdekakan suku bangsa kita yang identitasnya dipasung dalam sarkofagus.

Gospel (agama), kata ini simpel dan mudah sekali untuk dihafal oleh anak-anak usia dini hingga para lansia. Ya, kata ini memang teramat sangat sederhana, namun maknanya menjadi dasar dari segalanya. Agama dijadikan sebagai landasan hidup, sumber dari segala sumber hukum dan bahkan merupakan konsep awal dan ahir kehidupan di seluruh jagad semesta yang dikuasai oleh Tuhan Yang Maha Tunggal.

Salah satu misi yang tidak kalah pentingnya bagi kaum kolonial dan infreal adalah menyebarkan agama dan paham yang mereka anut. Setelah kekuasaan politik dan ekonomi mereka dapatkan, merekapun berusaha membuat kaum jajahannya untuk mengikuti ajaran agama dan paham yang mereka bawa. Strategi pembudayaan paham dan ajaran agama mereka susupkan pelan-pelan melalui jalur pendidikan, penekanan melalui politik ekonomi, dan bahkan dengan jalan pembantaian. Para penjajah selalu dibekali misi gospel oleh penguasanya.

Kenyataannya, kini nusantara mewarisi berbagai paham keagamaan yang sesungguhnya itu adalah bagian dari warisan kaum kolonial. Hal serupa juga terjadi di atas tanah kelahiran ku yang suku mayoritasnya disebut dengan nama suku sasak.

 

Baca Juga :


Gold, Glory dan Gospel adalah misi umum kaum penjajah, termasuk kaum penjajah lokal. Di nusantara sendiri, hampir semua wilayah nusantara merupakan bagian dari kekuasaan dan pengaruh Majapahit; itu lah yang tercatat di dalam Sejarah Nasional Indonesia yang dikuatkan oleh catatan kuno yang disebut Negara Kertagama. Amukti Palapa adalah satu-satunya misi tersukses dalam menyatukan nusantara yang terpecah oleh berbagai situasi. Amukti Palapa yang dijalankan oleh Gajahmada merupakan keberlanjutan dari Ekspedisi Pamalayu di masa sebelumnya. Dengan demikian, Amukti Palapa merupakan keberlanjutan Ekspedisi Pamalayu yang belum sukses sepenuhnya sebab penggulingan kekuasaan.

Terlepas dari hal itu, kita perlu bertanya: Apakah Negara Kertagama itu berisi fakta ataukah hanya catatan yang ditulis oleh sejarawan istana atas kehendak rajanya (Sapda Pandita Ratu) ?, apakah Negara Kertagama betul-betul objektif? dan ataukah Negara Kertagama itu ditulis untuk kepentingan kekuasaan/kejayaan Majapahit belaka ?. Mari kita kaji dengan mengutamakan objektivitas.

Tentang Gajahmada pun kita perlu bertanya: siapakah dia? siapa ibu dan bapaknya? siapa nenek moyangnya? dimana ia lahir dan dibesarkan? benarkah namanya gajah mada atau nama itu hanya julukan belaka? dan mengapa sejarah hidupnya dirahasiakan hingga saat ini yang padahal ia adalah sosok terhebat pemersatu nusantara, mengapa? mungkinkah ia terlahir dari bangsa jin sebagaimana mitologi kemunculan suku sasak lombok?

Sebelum pertanyaan-pertanyaan itu terjawab secara objektif dengan bukti-bukti autentik maka tidak salah kiranya bila siapapun boleh mengakui bahwa Gajahmada adalah ber
asal dari sukunya, semisal beberapa suku di tanah Jawa mengakui bahwa Gajahmada berasal dari suku mereka, orang Bali, Sumatra, Sulawesi dan bahkan penghuni pulau Lombok pun boleh mengaku bahwa sosok tersohor itu dilahirkan dan dibesarkan di atas tanah pulaunya. Itu wajar-wajar saja.

Namun demikian, patutlah kita bersyukur sebab atas dasar Negara Kertagama dab Amukti Palapa Gajahmada lah nusantara bersatu padu dalam satu lingkaran kebangsaan yang kemudian menjadi pondasi bangsa ini mencapai kemerdekaannya dari cakar kolonialisme dan infrealisme bangsa asing.

Mengacu dari hal tersebut, maka bisa dikatakan bahwa Negara Kertagama dan Gajahmada adalah bagian dari misi gold, glory dan gospel yang dimuat sebagai misi kolonialisasi suatu daerah atau suku terhada daerah atau suku lainnya demi menciptakan suatu kiblat (sentralisasi) kekuasaan. Sekali lagi, mari kita kaji hal tersebut seobjektif mungkin agar supaya masing-masing kita (suku bangsa) dapat menemukan identitas kita yang sesungguhnya; termasuk kita yang mengaku bersuku bangsa sasak yang selama ini terjebak di tengah lautan kebingungan atas identitas asli dan sejarah kita.

_By . Asri The Gila_



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan