logoblog

Cari

Mengorek Arah Politik Kaum Milenial Dalam Pemilu 2019

Mengorek Arah Politik  Kaum Milenial Dalam Pemilu 2019

Pesta demokrasi lima (5) tahun sekali, akan kembali di gelar di Negara luas yang penuh dengan kekayaan budaya, agama, ras, suku

Opini/Artikel

Yas Arman P Al Yhok
Oleh Yas Arman P Al Yhok
27 Februari, 2019 17:18:17
Opini/Artikel
Komentar: 1
Dibaca: 2550 Kali

Pesta demokrasi lima (5) tahun sekali, akan kembali di gelar di Negara luas yang penuh dengan kekayaan budaya, agama, ras, suku adat dan istiadat. Tahun dimana seluruh masyarakat akan kembali menjadi penentu arah Negara untuk 5 tahun kedepan. Peseta demokrasi yang disebut sebagai Pemilihan Umum (pemilu) 2019. Ada yang berbeda dengan tahun 2019 ini, dimana untuk pertama kalinya rakyat Indonesia akan memilih 5 perwalikannya langsung, yakni presiden dan wakil presiden, Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) tingkat Provinsi dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten dan Kota. Menarik memang, pada demokrasi kali ini seluruh rakyat Indonesia akan menjadi penentu siapa-siapa yang layak dan pantas menduduki kursi-kursi yang di perebutkan tersebut.

Genderang perang sudah di tabuh, mulai dari bulan September 2018 lalu, seluruh kontestan diperbolehkan melakukan kegiatan-kegiatan kampanye untuk menawarkan dirinya masing-masing untuk dilirik bahkan di pilih nantinya oleh rakyat pada tanggal 17 april 2019. Segala macam strategi, berbagai cara tehnik dilakukan, guna menarik simpati rakyat untuk dipilih. Dimulai dengan strategi lama, sampai dengan yang baru, sampai tradisional menuju cara milenial. Masyarakat Indonesia tentu hari ini sudah mulai mengorek-ngorek kemana hati akan berlabuh di pemilu 17 april mendatang.

Data yang di dapat penulis, pada pemilu tahun 2009 angka golput di Indonesia ternyata masih tinggi tercatat sebesar 29,1% kemudian di tahun yang sama di gelar pilpres dengan persentase masyarakat yang tidak menggunakan hak pilihnya sebesar 28,3%. Ini mengalami pengurangan hanya sebesar 0,8%. Pada pemilu berikutnya, di tahun 2014 ternyata angka ini menurun ketika pileg yang berada pada 24,89%, namun pada saat pilpres di tahun yang sama malah kembali naik di angka 30% lebih.

Jika melihat data tersebut diatas, setidaknya ada hal menarik yang perlu di ungkap, salah satunya pada pemilu 2014 lalu. Pada pelaksanaan pemilu 2014 lalu, PDI Perjuangan lahir menjadi pemenang dengan meraup suara rakyat sebesar 23.681.471 suara atau sekitar 18,95%. Namun, jika melihat partisipasi pemilih di tahun itu, pemenang sesungguhnya adalah “Partai Golput” dengan jumlah suara 46.252.097 atau sekitar 24,89% dari tingkat partisipasi pemilih di Indonesia mencapai 75,11%. Jika melihat persentase ini, maka sudah dipastikan bahwa di Indonesia hari ini tidak ada satu partai politik yang dapat di kategorikan sebagai partai besar, jika merunut ke angka tersebut diatas sejatinya masih dalam kategori kelas partai menengah.

Pada tahun 2014 lalu, kontestan peserta pemilu pada pileg sebanyak 12 partai yakni, Nasdem, PKB, PKS, PDI Perjuangan, Golkar, Gerindra, Demokrat, PAN, PPP, Hanura, PBB dan PKPI. Di tahun 2019 ini, kontestan peserta pileg terjadi penambahan jumlah parpol sebanyak 4, yakni Garuda, Berkarya, Perindo dan PSI, maka di tahun 2019 ini jumlah parpol yang bersaing mendapatkan hati rakyat sebanyak 16 parpol. Untuk kontestan pilpres, tidak jauh berbeda dengan pilpres 2014 lalu, yakni persaingan tetap pada dua tokoh terbaik bangsa yakni Ir. Joko Widodo dengan Prabowo Subianto, namun pada tahun 2019 ini, Joko Widodo bergandengan dengan KH. Ma’ruf Amin setelah Jusuf Kala tidak bias mencalonkan diri sebagai wakil presiden kembali karena terbentur UU, sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Salehudin Uno.

Pemilu 2019 tinggal menghitung hari lagi, segala upaya telah dilakukan oleh para kontestan, namun tetap pemenang hanya ada pada hati rakyat. Pada tulisan kali ini, penulis ingin mengurai sedikit tentang, ke arah mana nantinya kaum milenial akan melabuhkan pilihannya, baik di pileg maupun pilpres. Kata milenial ini, akhir-akhir ini santer terdengar diberbagai forum dan diskusi-diskusi, lantas sebenarnya kaum seperti apa milenial ini.? informasi yang di himpun penulis, hasil survey LIPI menyebutkan 35% - 40% suara pada pemilu 2019 mendatang adalah milenial. Jika demikian, sudah dapat dipastikan bahwa suara milenial menjadi kunci di pemilu 2019 mendatang. Penulis mencoba mengorek-ngorek arah pemilih milenial ini melalui beberapa cara diantaranya adalah

Pemilih yang Rasional

Karakter rasional adalah karakter yang sangat melekat pada diri generasi milenial hari ini. mereka akan memilih secara kesadaran dan penilaian dari diri mereka sendiri. Penilaian ini di dapat dari interaksi social mereka secara langsung, dan informasi yang mereka dapatkan. Perkembangan teknologi menjadikan mereka hari ini menerima informasi dan berinteraksi sangat cepat.

Para kontestan pemilu 2019, dapat memanfatkan karakteristik rasional milenial ini sebagai senjata awal untuk menggaet mereka menjadi pemilih anda, gunakan konten-konten positif dan kreatif guna mengajak mereka masuk ke wilayah anda. Hal ini sudah mulai di lakukan oleh beberapa partai politik seperti PPP, PSI dan PKS. PPP misalnya ketua umumnya menggunakan style anak muda aman sekarang sebagai style berpakaian, PSI menggunakan gaya bahasa anak muda “Bro” dan “Sis” dan PKS menggunakan beberapa mascot salah satunya yang “Dilan” yang memang sedang booming di Indonesia di kalangan remaja.

Masuk kedalam dunia mereka dengan menggunakan gaya (style), bahasa dan lainnya akan menjadi daya tarik bagi pemilih milenial ini, karena mereka berfikir rasional, inilah yang mengerti kita, inilah yang pahami kita dan inilah yang pas mengikuti gaya kita maka pilihan pasti akan dijatuhkan kepada yang mereka fikirkan..

 

Baca Juga :


Tidak Pernah Jauh dari Gadget

Karakter yang satu ini sudah tidak menjadi rahasia lagi, yang membedakan generasi x dengan generasi milenial adalah soal Gadget (dunia teknologi). Ada yang sesumbar bahwa jika ingin menentukan anda masuk ke generasi mana dapat terlihat ketika bangun pagi, jika anda bangun pagi yang pertama kali di pegang adalah Gadget berbahagialah anda adalah generasi milenial.

Kebiasaan tidak bisa lepas dari gadget merupakan karakter utama yang harus diikuti oleh kontestan pemilu 2019. Jika anda adalah peserta maka sudah saatnya anda harus memulaikan diri akrab dengan social media. Data We Are Social menyebutkan dari 265,4 juta populasi Indonesia ada sekitar 130 juta orang Indonesia aktif di media social. Ini berarti sekitar 49%, hamper setengah dari angka populasi.

Keberadaan social media ini sudah sangat besar dirasakan oleh beberapa kontestan pemilu 2019, hamper seluruh kontestan baik parpol maupun pasangan presiden, menggunakan akun-akun media social untuk melakukan kampanye menarik pemilih milenial. Tidak jarang kemudian akun yang dibuat di platform media social secara resmi. Misalnya di twetter, instagram, youtube dan lain lain. Ini membuat para milenial, mampu menilai dan mengorek-ngorek informasi sendiri dengan menfollow (mengikuti) akun-akun resmi tersebut, dan tentunya menentukan penilaian secara langsung mana dari kontestan yang terbaik dan mengerti keinginan mereka saat ini dan untuk masa depan.

Generasi Kreatif

Karakter yang satu ini memang wajib ada pada diri seorang milenial. Bukan generasi milenial namnya jika tidak mampu melakukan hal-hal kreatif setiap harinya. Lihat saja, ketika debat capres dan cawapres, di media social belum selesai sudah bergentayangan meme-meme kreatif baik untuk lucu-lucuan sampai dengan yang serius. Ini tentu buatan anak milenial, bukan generasi x. suka atau tidak, para kontestan pemilu harus mampu mengikuti nya karena inilah dunia mereka, dunia untuk berimajinasi dan menciptakan kreatifitas. Dunia kreatif ini sudah memang sangat luar biasa di tunjukkan oleh para generasi ini, dan tentunya kontestan harus juga ikut kedalam dunia ini. Beberapa parpol ternyata sudah memanfaatkan inisebagai media kampanye, misalnya seperti PPP Muda. Tim kreatif PPP Muda membuat konten-kontent kreatif yang dapat menjadi pemicu kreatifitas pada anak muda saat ini. konten untuk mengajak anak-anak muda sholawat, mengaji belajar hadist dan sebagainya.

Tingginya angka persentase pemilih milenial ini tentu harus menjadi perhatian lebih bagi para kontestan pemilu 2019. Kita tentu berharap bahwa, para kontestan memberikan pendidikan politik yang terbaik bagi kelompok milenial ini. mereka adalah cerminan pemilih-pemilih rasional yang secara sadar memilih karena keinginan dan kesukaan mereka pada sesuatu, tidak lagi tercampur dengan bumbu-bumbu politik masa lalu. Mereka menjadi penentu arah bangsa 5 tahun kedepan. Kita ketahui bersama di akhir-akhir ini, pemanfataan media-media social yang penuh dengan konten-konten tidak mendidik, menjurus kepada provokatif dan mengadu domba, pemberitaan dan penyebaran berita Hoax, ini harus menjadi perhatian kita bersama, agar kaum milenial tidak dimanfaatkan untuk menggunakan media social kea rah negative, mari kita ajarkan politik yang bersih, komunikasi yang humanis, penuh kesantunan dan tentunya saling menghormati antar sesama.



 
Yas Arman P Al Yhok

Yas Arman P Al Yhok

Baca yang seharusnya diBaca Fikir yang seharusnya diFikirkan Kerja yang seharusnya diKerjakan Kampung Medianya PMII admin @Yas Arman Al Yho Baca-Fikir-Kerja

Artikel Terkait

1 KOMENTAR

  1. burex muridmacel

    burex muridmacel

    28 Februari, 2019

    KM MUTIARA HEBAT.....


 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan