logoblog

Cari

Program Jagung (zea Mays Sp) , Rahmat Atau Bencana ?

Program Jagung (zea Mays Sp) , Rahmat Atau Bencana ?

[Program Jagung (Zea mays sp) , Bagaimana Menurutmu ? #AnakAwam] Sebuah tulisan kecil awam yang mencoba menuangkan apa yang ada dipikirannya

Opini/Artikel

Tri Dewi Febrianti
Oleh Tri Dewi Febrianti
06 Februari, 2019 22:21:48
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 2754 Kali

[Program Jagung (Zea mays sp) , Bagaimana Menurutmu ? #AnakAwam]

Sebuah tulisan kecil awam yang mencoba menuangkan apa yang ada dipikirannya melalui sebuah tulisan sederhana. Semoga ada satu dua kata yang bermanfaat untuk kita semua. Selamat membaca❤️
.
Ketika berkesempatan jalan-jalan ke Kecamatan Kilo, Kabupaten Dompu. Sepanjang perjalanan dari awal melewati Teka Sire hingga menuju Kilo hampir seluruh lahan perbukitan terdapat tanaman jagung yang luasnya bisa saya katakan sangat luas sekali hingga mendominasi seluruh kawasan, tidak jarang pula di beberapa lahan rumah wargapun mereka tanami jagung.

Produksi palawija khususnya jagung menunjukkan penigkatan dari tahun ke tahun, salah satunya didaerah Dompu. Dompu memang terkenal sebagai kabupaten di Provinsi NTB yang tergolong sukses mengembangkan komoditi jagung, bahkan Menteri Pertanian masih mempercayakan dan mengandalkan NTB sebagai daerah produsen jagung nasional. Namun beberapa tahun terakhir sejak program Jagung diluncurkan menjadi program unggulan daerah, polemik jagung mulai bermunculan. Banyak pro kontra yang terjadi, terkait hadirnya program ini.  Para petani sangat antusias karena peluang ekonomi mereka akan meningkat, masyarakat lainpun berlomba-lomba menanam jagung meski hanya sekedar untuk dikonsumsi pribadi. Namun tak sedikit pula yang antusias mengkritik program jagung tersebut, karena dianggap lambat laun akan memicu datangnya bencana khususnya masyarakat disekitar lahan hutan yang akan menerima dampak langsung.

Pengalihfungsian lahan hutan menjadi lahan jagung kini semakin melebar luas sehingga keberadaan pohon2 yang seharusnya menjadi penunjang dan penahan aliran air dari gunung , tidak lagi dapat diharapkan. Beberapa bulan terakhir juga, banjir bandang terjadi di beberapa wilayah di daerah Dompu. Apa yang bisa dikatakan ? Banyak yang mengatasnamakan program jagung inilah sumber dari bencana banjir yang belakangan terjadi, apalagi ketika musim penghujan datang dengan intensitas yang tinggi.

Permasalahan terkait jagung memang sudah banyak disinggung banyak pihak. Program ini memang program yang sangat bagus, dan bahkan terprogram dengan baik oleh pemerintah setempat. Namun, rakusnya masyarakat tidak bisa terelakkan. Ibarat kata orang Dompu "Kau mu Ngaha, na Ngoho" yang artinya Disuruh makan malah Rakus. Perambahan kawasanpun semakin dalam dan meluas, tak jarang sesekali info mengatakan bahkan kawasan hutan lindung pun sudah mulai dijejali oleh kaum-kaum lambung gendut (istilah gue). Pembalakan terjadi hampir di beberapa titik. Tidak hanya Dompu, bima pun ikut merasakan hal yang sama ternyata (yaa efek satu suku maybe :v).

Dibeberapa artikel yang saya baca terkait permasalahan ini, beberapa menyatakan bahwa hal ini dapat terjadi karena kurangnya pengawasan dari pihak-pihak terkait. Pemda sendiri tidak bisa berbuat banyak karena kewenangan sudah berada di pihak Pemprov NTB.

Jika diingat kembali, tahun lalu saya pernah menanyakan terkait hal ini pada Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup NTB, Bapak Madani Mukarom di kesempatan Diskusi Publik yang diselenggarakan oleh Himasylva PC-UNRAM di Fave Hotel. Beliau menjawab bahwa pihaknya sedang melakukan pendampingan dan pemberdayaan masyarakat untuk terus mengawasi pelaksanaan program jagung ini. Dan juga melakukan kolaborasi dengan tetap memastikan pohon akan tetap ada sebagai penunjang dan penahan air pegunungan (Semoga saya tidak salah ingat, wallahu'alam).

 

Baca Juga :


Jagung memang salah satu tanaman pertanian yang sulit dikolaborasikan dengan pohon2 kehutanan, karena memang sepengetahuan saya pribadi jagung merupakan tanaman intoleran (sangat membutuhkan sinar matahari), sehingga ketika ada pohon yang lebih tinggi atau tanaman yang menaunginya justru akan menghambat pertumbuhannya sehingga hasilnya tidak akan maksimal.

Pemberdayaan masyarakat sangat urgent untuk dilakukan secara mendalam, bukan sekedar sosialisasi belaka tanpa adanya pendampingan terkait lokasi dan pelaksanaan program. Kolaborasi dan keterlibatan pemda provinsi, pemda kabupaten, kph2 serta stakeholder lainnya kunci utama program ini bisa berlangsung tanpa menimbulkan lebih banyak masalah baru.

​​​​​

(Jika ada kesalahan pada tulisan ini, semoga Allah memaafkan dosa-dosa saya, dan mohon dikoreksi oleh teman-teman pembaca semua)🤗



 
Tri Dewi Febrianti

Tri Dewi Febrianti

Kelahiran Dompu, 26 Februari 1999. Sedang menempuh pendidikan S1 Kehutanan di Universitas Mataram. Relawan Sosial, Pendidikan, dan Lingkungan.. email : tridewifebrianti@gmail.com call/wa : 085338734687

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan