logoblog

Cari

Literasi Ilmu Pengetahuan Dalam Konteks Kepemimpinan

Literasi Ilmu Pengetahuan Dalam Konteks Kepemimpinan

“Literasi Ilmu Pengetahuan Dalam Konteks Kepemimpinan” Dalam khazanah literatur islam, kekuasaan itu disematkan pada golongan manusia yang bernama “Umara”. Umara

Opini/Artikel

Ery Suryanto
Oleh Ery Suryanto
31 Januari, 2019 14:23:55
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 3553 Kali

“Literasi Ilmu Pengetahuan Dalam Konteks Kepemimpinan”

Dalam khazanah literatur islam, kekuasaan itu disematkan pada golongan manusia yang bernama “Umara”. Umara hearts bahasa arab Yang merupakan Bentuk jamak Dari “amir” Yang Berarti Pemimpin, golongan Penyanyi biasa di sebut dalam al, qur'an sebagai “ulul amri”
Orang Yang dikatakan sebagai Pemimpin Adalah orangutan Yang mempunyai otoritas, besarbesaran mempunyai kewenangan mengambil Keputusan Yang dampaknya bisa mencakup semua orang dan wilayahnya meliputi kawasan tertentu.
Ada orang yang wilayahnya berkuasa, melampirkan Desa, menghemat, daerah atau menggunakan Negara, menambah, jumlah orang di pimpinya adalah satu Desa, Satu Kecematan, satu Daerah dan bahkan Satu Negara.
Ada Pula pemimpin yang wilayah kekuasaannya hanya sebatas Rumah Tangga. artinya, jumlah orang yang ada di pimpinya hanyalah sejumlah anggota. Akan tetapi ada juga yang hanya memimpin dirinya sendiri. Itupun tak kurang mempertimbangkan tanggung jawab yang harus diembannya, mempertimbangkan tindakan pribadi tetap pada orang lain.
Pendek kata ”semua orang adalah pemimpin, dengan otoritas yang luas dan jumlah orang yang di pimpin berbeda-beda, tergantung dari otoritas, tugas, dan tanggung jawabnya. Dalam Surat "Al Baqarah ayat 30, bahwa Allah SWT tidak pernah mengumumkan malaikat tentang niat untuk membuatnya Khalifah: Aku sedang membuat Khalifah di muka Bumi ini"
Ternyata, khalifah yang dimaksudkan oleh Allah itu dikembalikan kepada Nabi Adam As yang kemudian menjadi nenek moyang seluruh umat manusia. Dari ayat tersebut kemudian bisa di pahami, pada saat semua manusia yang di buat setelah Nabi Adam adalah Khalifah di muka bumi ini.
Selanjutnya dalam sebuah Hadist yang diuraikan oleh “Bukhari, Rasulullah SAW menganggap“ Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban Atas apa yang dipimpinya. ” berakal adalah pemimpin. Tentu saja, masing-masing dengan otoritas yang bertingkat-tingkat. Tergantung dari situasi dan kondisinya.
Jika berkuasa dipersonifikasikan sebagai laki-laki, maka diharapkan ia tidak bisa hidup menyendiri (Menjomblo). Kekuasaan itu terus-menerus remaja yang sedang mabuk Kepayang yang Emosinya labil. Suasana tenang gampang berubah. Mudah marah dan sedih, kadang-kadang beringas dan angkuh, namun terkadang kala juga meminta santun, gembira dan penuh kasih sayang.
Kekuasaan bisa keras bagai Cadas, tetapi kadang juga bisa lembut Seperti salju. ”Agar emosinya stabil_kecemasan tidak terkendali dari tensi yang satu ke tensi yang lain_memilih pakaian yang harus didampinggi oleh pasanganya, kekasih sejatinya. Pertanyaa kemudian yang Muncul adalah: siapakah cinta sejati dari kekuasaan itu? , apa hal yang paling dibutuhkan untuk mencapai keseimbangannya? Itulah orang yang berilmu.
Orang berilmu dalam bahasa Arab disebut sebagai orang 'alim, yang bentuk jamnya adalah' Ulama, Ulama atau yang biasa di sebut sebagai “Ulul Albab” ini adalah golongan pemikir yang dianugerahi pemahaman tentang seluk beluk tentang pemasok. Sunnatullah yang kemudian di kenal dengan Hukum-hukum alam. Pantas saja, kompilasi berbicara tentang Kehidupan, Al'qur'an selalu dilengkapi dengan Ilmu.
Ayat Al'qur'an yang pertama diturunkan berbunyi: Iqra. sebuah permintaan tegas dari Allah untuk membaca surat-surat dari Allah, baik yang tersurat juga, yang tersirat. Hal mana dengan tegas menganjurkan manusia untuk senangtiasa manusia untuk mendapat ilmu pengetahuan. Ajuran menuntut ilmu juga diwacanakan oleh Rasulullah SAW dalam himbauanya bagi manusia untuk menuntut ilmu, bahkan jika perlu sampai ke Negeri Cina, pun dalam berbagai Hadist lainya.
Dalam perdebatan kehidupan, Al'qur'an juga mengecam orang yang tidak mau menggunakan Ilmu Pengetahuan dalam menyelesaikan masalah. dalam pandangan Islam, setiap orang harus belajar, dapat dilakukan dan menyebarkanluaskan kebenaran. Allah meminjam kita melakukan sesuatu jika tidak didasari dengan Ilmu. Melakukan sesuatu tampa, ilmu, memulai, menantang, mengkompilasi, mengalahkan, memintakan, bekerja tampa, didampingi Ilmu. Maka ia bisa menjelma menjadi senjata yang diaktifkan, menjadi petaka bagi orang yang lebih besar ia lindungi, bahkan menjadi penghancur bagi sesuatu yang membutuhkan ia bangun.
Kekuasaan tampa Ilmu jauh lebih sulit dibandingkan apa pun yang menantang. Oleh karena itu diperlukan Ilmu untuk menuntun Anda menguasai. Ilmu tidak dicari. Jika tidak sanggup sekolah tinggi-tinggi, cari orang yang ber'Ilmu. Mereka ada di mana saja, yang harus dilakukan adalah bertanya, dengan menyesuaikan meminta Anda dan Ilmu yang diperlukan.
Seperti memenangkan Kekuasaan, ilmu juga memiliki tingkatannya. Orang berilmu memiliki keluasan dan kedalaman pemahaman sendiri-sendiri. Semakin dalam ia belajar, semakin banyak yang ia dapatkan, akan tetapi intinya, orang yang berilmu senantiasa Belajar. Tak pernah berhenti menyelami keluasan Ilmu Allah yang tak terhingga. Pencarian ilmu, dengan demikian, menjadi perjuangan abadi manusia yang tidak akan pernah berkesudahan.
"Jadi untuk para penguasa dan pemilik ilmu, bersandinglah dalam Cinta, jadikan Ilmu sebagai pasangan sejati kekuasaan, agar kekuasaan itu bermanfaat, dan ilmu pengetahuan itu bermakna."

# Risa, 31 Januari, 2019 #

 

Baca Juga :


 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan