logoblog

Cari

Luar Biasa, Tata Ruang Masyarakat Adat

Luar Biasa, Tata Ruang Masyarakat Adat

Kita sama-sama mengetahui, hampir seluruh wilayah di Indonesia memilki tata ruang, begitu juga dengan Provinsi, Kabupaten, sampai tingkat Desa. Dalam kontek

Opini/Artikel

Renadi
Oleh Renadi
09 Januari, 2019 21:15:29
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 2635 Kali

Kita sama-sama mengetahui, hampir seluruh wilayah di Indonesia memilki tata ruang, begitu juga dengan Provinsi, Kabupaten, sampai tingkat Desa. Dalam kontek wilayah kepemerintahan, mesti memiliki konsep untuk wilayahnya masing-masing yang disesuaikan dengan bentang alam, kondisi penduduk, potensi yang dimiliki, bahkan sampai pada tahap kerawanan alam setempat. Wilayah ditingkat Desa, jika digabung secara keseluruhan merupakan wilayah kesatuan Negara Republik Indonesia (NKRI).

Dalam perencanaan harus dilihat pada batasan wilayah berdasarkan peraturan yang ada, dimana sudah diatur ranah masing-masing untuk pengelolaannya. Wilayah di Desa ada beberapa yang pengelolaannya ditingkat pusat seperti Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) yang ada di Lombok (salah satu contoh), tetapi TNGR merupakan wilayah administratif beberapa Desa diantaranya Desa Senaru, Bayan, Loloan, Sambik Elen, beberapa Desa di Kecamatan Kayangan, bahkan menjadi wilayah beberapa Desa yang ada di Kabupaten Lombok Tengah, dan Lombok Timur.

Hak otonom yang diatur dalam peraturan yang sudah memberikan penjelasan tentang batasan-batasan tersebut, baik dalam hak masing-masing maupun kewajiban. Tetapi dalam tulisan ini lebih membahas tentang tata ruang Masyarakat Adat Bayan, karena berbicara tata ruang tingkat Negara sampai Desa sudah ada beberapa pihak yang lebih memahami. Gambaran diatas merupakan salah satu contoh perbandingan yang nantinya pembaca bisa menjadikan acuan dalam memahami apa yang saya sampaikan melalui tulisan ini, karena konsep tata ruangnya harus juga dilihat dari berbagai sisi seperti, tata kuasa, tata guna, tata kelola, dan tata manfaat.

Masyarakat Adat Bayan merupakan salah satu kelompok Masyarakat Adat yang ada dikaki Gunung Rinjani, yang sampai saat ini masih menjalankan segala bentuk kehidupan dengan aturan-aturan adat yang diyakini. Ritual-ritual yang dijalankan sejak baru lahir sampai ritual kematianpun masih dilakukan oleh Masyarakat Adat Bayan. Adat Gama/Ritual Keagamaan tiap tahun selalu menjadi praktek rutin oleh para pejabat adat dan juga masyarakat.

Kesejarahan yang membentuk komunitas local yang ada di Kabupaten Lombok Utara bagian timur menjadikan nilai-nilai local sebagai solusi untuk menjaga hubungan yanga ada, baik itu hubungan dengan sang Pencipta, hubungan dengan alam, bahkan hubungan sesama manusia itu sendiri. Hubungan harmonis harus tercipta untuk bisa membentuk hubungan yang baik dalam unsure-unsur tersebut, sehingga awik-awik atau aturan lokalpun terbentuk yang memang sudah disepakati sejak zaman dahulu.

Awik-awik yang dibuat dalam bentuk lisan untuk menjaga tiga unsure (hubungan dengan Tuhan, Alam, dan sesam Manusia) yang kemudian dimasukan dalam tata ruang. Ok, kita akan coba membahas tata ruang dalam masing unsure tersebut.

Pertama, Tata Ruang dalam menjaga hubungan Manusia dengan Tuhannya. Lombok merupakan salah satu wilayah bentang alam dibentuk oleh letusan Gunung Samalas (Rinjani merupakan sisa letusannya), pada perkembangan selanjutnya dihuni oleh sekelompok manusia, datanglah Gajah Mada dari Majapahit (dapat dilihat dari situs sumur Majapahit yang ada di Sambik Elen), masuknya Islam dari jalur timur (Sulawesi) yang kemudian menjadikan daerah hasil letusan Samalas dengan nama Bayan, masuk juga Islam dari barat (Jawa) dan mendirikan Masjid Kuno/Masjid Beleq Bayan , Belanda juga pernah masuk, kedatangan Anak Agung dari Karang Asem yang membuat strukrur Adat Bayan terbentuk. Tata Ruang dalam menjaga hubungan dengan sang Pencipta ini dapat dilihat dalam pengembangan tempat-tempat peribadatan (tempat ibadah) dengan posisi beberapa Masjid yang ada seperti di Barung Birak, Bayan, Anyar, Semokan, Sembageq, Gumantar, Sesait dan masih ada lagi lainnya. Kyai merupakan pelaksana dalam menjaga hubungan Manusia dengan Tuhannya, peran ini dapat dilihat dari berbagai ritual yang dilaksanakan harus ada keterlibatan dari Kayai tersebut. Dalam Masyarakat Adat Bayan menyepakati tanggung jawab ini akan dibebankan kepada Kepembekelan Loloan (Urusan Akhirat/Agama), dengan garis koordinasinya adalah Kepembekelan Timuq Orong (Bayan Timur).

Kedua, Tata Ruang dalam menjaga alam. Masyarakat Adat Bayan memiliki bentang alam dari pegunungan sampai lautan (Rinjani sampai laut Jawa). Pelaksana untuk menjaga gunung diberikan kepada 3 pejabat adat yaitu, Amaq Lokaq Senaru di bagian barat, Amaq Lokaq Torean dibagian tengah, dan Amaq Lokaq Sajang bertugas menjaga gunung Rinjani di bagian timur. Laut Jawa yang berada di bagian utara dari wilayah Bayan dijaga oleh Pejabat Adat yang disebut dengan Perumbaq Lauq, dimana terdpat juga beberapa team kerjanya seperti Amaq Lokaq Sahbandar dan beberapa pejabat yang berada dipesisir pantai. Untuk para pejabat adat yang menjaga kawasan gunung sampai laut merupakan tanggungjawab dari Kepembekelan Karang Bajo dengan garis koordinasi adalah BaT Orong/Bayan Barat, karena Karang Bajo dan Bat Orong bertugas untuk urusan dunia.

Ketiga, adalah Tata Ruang untuk menjaga hubungan Manusia dengan sesama. Hubungan antara manusia merupakan bagian yang sangat penting, karena dua hubungan lainnya dikendalikan oleh manusia itu sendiri. Setiap aturan atau awik-awik yang dibuat dan disepakati berdasarkan masing –masing wilayah kepembekelan, tetapi khusus untuk aturan yang menyangkut hajat hidup orang banyak akan menjadi aturan bersama untuk keseluruhan kepembekelan atau pemerintahan Adat Bayan secara utuh.

Manusia  yang hidup memenuhi kebutuhan hidupnya dari alam, menjalankan keyakinan sebagai bentuk praktek dan spiritual demi ketenangan batin (rohani), dan menjaga 2 hal tersebut dari sifat manusia yang memilki hawa nafsu (terdapat sisi manusia memilki sifat merusak), kesemuanya itu menjadi kesatuan yang utuh.

 

Baca Juga :


Maka, Masyarakat Adat Bayan memiliki konsep Tata Ruang yang mengakomodir secara penuh dan utuh. Banyaknya sisi yang harus digali dan disampaikan, membuat saya juga memilki keterbatasan untuk mengungkapkan hal tersebut dalam tulisan ini, tetapi untuk gambaran, saya akan coba ceritakan beberapa contoh yang mengakomodir dari tiga unsure tersebut.

Terdapat empat jabatan Agama yang penting untuk urusan Keagungan Kyai yaitu, Kyai Penghulu, Kyai Lebe, Kyai Ketib, dan Kyai Mudim. 4 petinggi urusan agama tersebut diangkat di Timuq Orong dan Keagungan (sapuq) juga disimpan ditempat tersebut (tempat khusus), tetapi Kyai-Kyai tersebut tidak diangkat oleh Kepembekelan Timuq Orong, justru yang berperan adalah Kepembekelan Lolan. 4 Kyai tersebut dalam Masyarakat Adat Bayan menyebutnya ke-Agungan Petak (Sapuq Putih).

Kegungan Biru (sapuq biru) merupakan ikat kepala yang digunakan oleh para pejabat adat untuk urusan dunia. Sapuq atau keagungan disimpan di Bat Orong, tetapi yang berhak mengangkat pejabat adatnya adalah dari Kepembekelan Karang Bajo.

Beberapa pejabat adat harus memilki tempat tinggal, bahkan memilki satu tempat yang memang menjadi lokasi dalam menjalankan tugas, Semua bangunan yang ditempati merupakan bahan alam. Bahan bangunan untuk pembuatan rumah sudah disiapkan lokasi tertantu, baik tempat untuk mendapatkan kayunya, bamboo, bahkan atap ilalangnya. Diatur juga pejabat yang memang khusus bertugas untuk memimpin dalam setiap tahapan seperti, pejabat adat yang bertanggung jawab untuk menebang kayu, dan pejabat adat yang memulai proses pembangunan.

Tanah Pecatu sebagai sumber penghasilan dalam mencukupi kebutuhan hidup pejabat adat dan sebagai sumber bahan makanan dan jenis lainnya untuk kebutuhan ritual sudah menjadi bagian tata ruang yang begitu komplek, hal ini dapat dilihat dari Pecatu yang ada dalam 2 bentuk yaitu, pecatu tanaq mataq (lahan kering) dan pecatu tanaq masak ( lahan basah/sawah). Hasil dari pecatu tanaq masak/sawah itu berupa padi bulu yang digunakan sebagai bahan makanan keluarga pejabat adat, dan sebagain sebagai bahan pokok makanan dalam melaksanakan ritual adat. Untuk kebutuhan seperti kapas akan ditanam untuk pecatu tanaq matak, sebagai bahan pembutan kain pejabat adat dan juga kebutuhan kain di Masjid Kuno/Masjid Beleq. Waktu pembuatan kain itupun sudah diatur waktu dan pelaksananya, dimana waktu penanaman kapas mendekati Gawe Alip, sementara musim lainnya bisa ditanami dengan palawija dan jenis lainnya. Pelaksana untuk membuat kain dipimpin oleh pejabat adat khusus, yaitu Amaq Lokaq Jintaka (Pejabat Adat Khusus yang memimpin dalam menenum ke-Agungan pejabat adat lainnya).

Begitu detail konsep Tata Ruang yang sudah dibuat oleh Masyarakat Adat menyebabkan saya berfikir untuk membandingkan konsep Tata Ruang dibuat oleh Negara dan pemerintah ditingkat daerah dan Desa, dimana saat ini kita ketahui banyak yang tumpang tindih.

Tulisan ini sebenarnya ungkapan yang ada dalam diri penulis, dimana setelah NKRI merdeka justru Masyarakat Adat Bayan tidak mampu lagi malaksanakan Gawe Alip, yang seharusnya itu dilaksanakan sekali dalam 8 tahun. Penyebab utamanya adalah pecatu yang menjadi hak masyarakat adat banyak menjadi miliki pribadi (sertifikasi), bahkan dijadikan sebagai aset pemerintah. Karena Masyarakat Adat merupakan bagian kesatuan dari alam yang ditempati, menyebabkan tidak adanya pecatu berpengaruh terhadap ritual yang seharusnya dilaksanakan.

He he he he…………………..Mungkin dalam tulisan ini banyak pihak yang tidak memahami isinya, saya minta maaf, karena kemampuan untuk merangkai kata dan kalimat sangat terbatas, apalagi dengan minimnya kosa kata yang saya miliki. Apalagi membahas Adat Bayan sama halnya dengan membahas Negara, karena begitu rumit dan detailnya segala sisi yang ada, dan semuanya itu hampir tidak ada dalam dokumen berbetuk buku/tulisan. Terdapat beberapa buku hasil penelitian dari berbagai pihak, tetapi tidak membahas detail, hanya pada sisi –sisi terkecil saja.



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan