logoblog

Cari

Pemerintah Juga Membutuhkan Trauma Healing!

Pemerintah Juga Membutuhkan Trauma Healing!

Oleh :  Lina             Sebelumnya, saya ingin menegaskan bahwa tulisan saya ini bukan menunjukkan bahwa saya lebih berpihak kepada pemerintah atau

Opini/Artikel

Lina
Oleh Lina
09 Desember, 2018 00:49:21
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 1870 Kali

Oleh :  Lina

            Sebelumnya, saya ingin menegaskan bahwa tulisan saya ini bukan menunjukkan bahwa saya lebih berpihak kepada pemerintah atau bersikap pro pada pihak tertentu. Namun, saya berusaha bersikap netral, karena saya yang sehari-hari masih seorang pelajar, mungkin tidak memilii pengetahuan yang cukup, sehingga saya tidak ingin mengatakan atau bahkan menyalahkan sesuatu yang saya belum tahu kebenarannya. Saya hanya ingin mengajak pembaca sekalian, untuk  me-refresh pikiran kita, untuk berpikir secara lebih logis dengan menimbang suatu permasalahan dari berbagai sudut pandang, bukan hanya berdasarkan pandangan kita masing-masing. Membersihkan hati kita dari segala kotoran yang disebabkan oleh banyak prasangka dan saling salah-menyalahkan antarsesama. Selamat membaca.

. . .

            "Sudah usai" pikir kita, cukup untuk membuat lega orang-orang yang sekian lama telah terngiang-ngiang perasaan akan tergoncangkan lagi, begitupun saya. Sekitar 3 bulan yang lalu, kita sudah merasakan bagaimana dahsyatnya gempa tersebut, sejak 29 Juli 2018 pada pagi hari dengan magnitudo 6,5 SR, 5 Agustus 2018 dengan magnitudo 7 SR, dan pada tanggal 19 Agustus 2018 dengan magnitudo 7 SR, gempa susulan pun terus-menerus terjadi hingga saat ini. Betapa dahsyatnya bumi milik sang Ilahi ini berguncang, entah sebagai teguran, atau bahkan azab, yang jelas hanya Dia-lah yang mampu berkehendak. Kita sudah melihat dengan mata kepala kita sendiri bagaimana dahsyatnya bencana ini, rumah-rumah dan bangunan hancur tak tersisa, bahkan tanah tempat kita berpijak pun naik dan turun, seakan-akan "bernapas" seperti kita. Kita pun beramai-ramai tersungkur untuk bersujud, ucapan dzikir menggema dimana-mana, masih teringat jelas kala malam itu. kalang kabut rasanya, entah kemana kita harus pergi, di saat malam yang gelap tanpa penerangan, sepi tanpa riuh-riuh kesenangan. Ada rasa penyesalan tiada berarti, untuk hari-hari yang lalu, yang terkadang kita lupa untuk mensyukuri.

            Lantas kita tentu saja tidak berlarut-larut dalam rasa sedih dan duka. Masih ada harapan dari saudara-saudara kita yang peduli akan keadaan masyarakat NTB. Berbagai bantuan datang silih berganti, dari mereka yang berasal dari daerah, suku, agama, ras, golongan, organisasi yang berbeda-beda, namun memiliki tujuan yang sama, membantu sesama saudara mereka yang sedang ditimpa musibah. Mulai dari memberikan bantuan logistik, memberikan bantuan medis, membangun hunian sementara sederhana, membangun kembali fasilitas-fasilitas yang rusak akibat terdampak gempa, memberikan trauma healing kepada masyarakat, khususnya anak-anak, dan lain-lain. Semua itu dilakukan atas dasar rasa kemanusiaan dan solidaritas yang tinggi terhadap sesama, mereka yang mungkin pernah mengalami peristiwa yang sama, mendorong mereka untuk bangkit kembali dan tidak berputus asa atas musibah yang dihadapi. Semua bantuan yang kita terima secara sukacita, tentu menumbuhkan semangat baru dan kita menyadari bahwa kita tidak sendirian, banyak orang lain yang mengulurkan tangannya demi terciptanya kehidupan yang aman, damai, dan tenteram.

            Akan tetapi, tidak sedikit rintangan-rintangan yang dihadapi untuk segera bangkit dari keterpurukan. Dalam hal ini yang menjadi fokus permasalahan adalah pemerintah sebagai penerima amanah dari masyarakat untuk melaksanakan penanganan bencana gempa yang menimpa Pulau Lombok, tidak sedikit kinerja dari pemerintah justru mendapat kritikan dari sebagian masyarakat. Entah karena perkembangan pesat teknologi informasi, menjadikan setiap masyarakat dengan mudahnya mendapat informasi yang beragam, bahkan terlihat bahwa masyarakat kini "diserang" oleh membanjirnya informasi, tanpa tahu akan kebenaran informasi tersebut, dengan mudahnya orang-orang tidak bertanggungjawab “memoles” sedemikian rupa hoax dan menyebarkannya demi kepentingannya sendiri. Selain itu, munculnya kebebasan untuk berekspresi di sosial media, menjadikan setiap orang bebas untuk menyampaikan apapun, entah itu pujian, kritikan, sindiran, nyinyiran yang bisa mempengaruhi orang lain, bisa menuju arah yang baik atau buruk.

            Banyak isu-isu yang diarahkan kepada pemerintah terkait dengan penanganan gempa Lombok baru-baru ini. Saya hanya menyebutkan beberapa saja yang cukup ramai dibicarakan. Pertama, ketidakakuratan pemerintah dalam memberikan informasi terkait gempa. Saat gempa dengan magnitudo besar terjadi bulan Juli-Agustus lalu, masyarakat sempat ramai mengeluhkan tentang “anggapan” kekeliruan informasi bahwa gempa dengan magnitudo 7 SR merupakan gempa utama, sehingga tidak akan terjadi lagi gempa besar selanjutnya. Namun, kenyataannya gempa dengan kekuatan besar melanda Pulau Lombok dan sekitarnya sehingga menambah jumlah korban. Perlu diluruskan kesalahpahaman masyarakat, bahwa beberapa gempa tersebut merupakan gempa dengan sumber yang berbeda. Jadi, gempa besar yang terjadi tidak berkaitan satu sama lain, dan pemerintah tidak bias memprediksi kejadian tersebut, karena gempa adalah bencana yang sulit diprediksi kapan terjadinya. Selain itu, banyak diantara masyarakat yang terbawa oleh beberapa akun asing di media sosial, yang menganggap bahwa ia adalah ahli gempa dan bisa memprediksi gempa, namun informasi tersebut tidak bisa sepenuhnya dipercaya.

            Kedua, Melesunya sektor-sektor ekonomi, terutama sektor pariwisata setelah terjadinya gempa. Gempa yang terjadi menyebabkan sarana prasarana di Pulau Lombok mengalami kerusakan, termasuk fasilitas-fasilitas public seperti hotel, restoran, pusat perbelanjaan, dll.. Hal ini tentu butuh waktu untuk segera pulih. Karena, masyarakat yang notabene termasuk pelaku usaha, khususnya pariwisata tentu mengalami trauma setelah gempa. Akibatnya, bukan hanya sektor ekonomi, sektor-sektor lain tentu memerlukan waktu untuk segera pulih dengan membutuhkan kerja sama antara pemerintah dengan masyarakat.

 

Baca Juga :


Ketiga, proses rehabilitasi dan rekonstruksi berupa bantuan dari pemerintah kepada masyarakat yang berlangsung lambat. Pemerintah daerah, yaitu pemerintah Provinsi NTB dan pemerintah kabupaten / kota dianggap lamban karena bantuan yang tak kunjung cair. Namun, perlu diingat lagi bahwa pemerintah daerah juga ikut terkena dampak dari gempa, mulai dari gedung-gedung dinas, aparatur sipil negara, dan fasilitas lainnya. Oleh karena itu, saya sebutkan bahwa pemerintah juga butuh “Trauma Healing” dengan memperbaiki sistem birokrasi secara perlahan namun pasti dan menghadapi banyaknya masukan dari masyarakat, sehingga pemerintah juga butuh waktu untuk berbenah. Selain itu, kita juga sudah tahu bencana alam juga terjadi di beberapa wilayah lain, seperti gempa di Sulawesi Tengah, atau banjir yang disebabkan Indonesia mulai memasuki musim penghujan. Tentu ini juga menjadi tugas tambahan bagi pemerintah pusat, sehingga masyarakat ada baiknya untuk bersabar dan ikut andil dalam proses pemulihan pasca bencana.

            Semakin seringnya kita lihat kritikan masyarakat terhadap pemerintah, daripada pemerintah yang mengkritik masyarakatnya sendiri. Masyarakat terlalu bergantung kepada pemerintah, walaupun memang pemerintah mengemban amanah untuk bekerja keras dalam rangka tercapainya kemakmuran yang sebesar-besarnya bagi rakyat. Apa yang menyebabkan kita seperti ini? Sikap individualitas yang tak bisa dihindari lah penyebabnya, hanya mementingkan diri sendiri, tapi tak mau melihat kepentingan orang lain. Kita memang tak bisa menyalahkan sepenuhnya teknologi yang dengannya urusan-urusan kita menjadi mudah. Namun, ingatlah falsafah hidup kita, falsafah hidup yang berpedoman pada Pancasila, dan dalam agama kita masing-masing yang mengajarkan sikap toleransi, saling tolong menolong, dan bahu membahu dalam menyelesaikan masalah secara musyawarah agar tercapai mufakat antar warga masyarakat. Masyarakat-masyarakat sekarang kebanyakan tak tahu berterima kasih, kita meminta hak-haknya dipenuhi sebagai rakyat, namun apakah kita sudah bercermin, apakah kontribusi yang sudah kita berikan terhadap negara?

            Yang saya tekankan dalam tulisan saya ini adalah, kita sebagai masyarakat yang cerdas tidak hanya harus menilai bagaimana kinerja pemerintah, atau mengkritik kekeliruan-kekeliruan yang ada pada pemerintah, tetapi kita harus turut serta berintegrasi dengan pemerintah dalam mewujudkan rehabilitasi dan rekonstruksi gempa Lombok dan sekitarnya yang berkeadilan dan berpihak pada rakyat. Dengan selalu melihat kekhilafan pemerintah yang ada padanya akan membuat hati kita kotor, selalu berprasangka buruk terhadap pemerintah. Terlebih, masyarakat Pulau Lombok yang mayoritas beragama Islam, termasuk saya tentu tahu bahwa mencela pemerintah adalah hal yang batil, dengan melakukan hal tersebut kita melupakan banyaknya kebaikan, pengorbanan, atau kerja keras yang diberikan pemerintah dalam Dalam mewujudkan pertahanan dan keamanan yang mengikutsertakan rakyat sebagai salah satu komponennya saja kita mengenal Sishankamrata (Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta), tentu kita pasti bisa mewujudkannya dalam hal ini juga. Mulailah dengan kita saling bahu-membahu dalam membantu pulih dari musibah, agar kita dapat bangkit dari keterpurukan dan bisa mewujudkan NTB yang gemilang. NTB bangkit!

Mataram, 24 November 2018

(Sumber Foto: Hasil Dokumentasi)



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan