logoblog

Cari

Tutup Iklan

Roh Kebudayaan Dan Kota Tepian Air

Roh Kebudayaan Dan Kota Tepian Air

Oleh: Muhammad Sahrain (Peneliti Genius NTB) KM-BOLO- Tersebutlah nama Sultan Bima ke 13: Muhammad Salahuddin. Nama yang agung. Di balik nama

Opini/Artikel

KM Bolo
Oleh KM Bolo
03 Desember, 2018 23:33:47
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 612 Kali

Oleh: Muhammad Sahrain (Peneliti Genius NTB)

KM-BOLO- Tersebutlah nama Sultan Bima ke 13: Muhammad Salahuddin. Nama yang agung. Di balik nama itu, sejarah mencatat ada kehidupan yang luhur pada zamannya. Berkembang peradaban yang kuat. Berbudaya, Islami, dan berkarakter. Setiap pembangunannya memiiki roh kebudayaan.

Kini, zaman tuan sultan memimpin Bima, telah berlalu. Tapi namanya tertulis pada tiket-tiket pesawat, yang mendarat di Bandara Muhammad Salahuddin. Di Bandara itulah, nama tuan sultan yang bergelar "Makakidi Agama" ini disematkan. Sebagai tanda penghormatan. Harapannya, setiap penumpang membaca nama itu, mencari, menggali, dan membaca narasi sejarahnya. Bahwa manusia yang tidak sempat hidup di zaman tuan sultan, mereka dapat belajar dari perjalanan dan visi membangun Bima di zamannya. Untuk  sekarang dan menata yang esok. Mungkin demikian, amanat nama tuan sultan di Bandar Udara yang berlokasi di Belo itu.

Jika penumpang pesawat tadi bertujuan ke Kota Bima, dari Bandara Sultan Muhammad Salahuddin, mereka akan memilih salah satu dari dua jalur. Pertama,  melalui bukit,  menikmati angin di ketinggian tertentu, memanjakan mata dengan pemandangan tambang garam di bagian barat laut.  Di bukit ini, teluk Bima ditelanjangi melalui pemandangan landscape. Melewati Pacuan Kuda, Desa Panda.  Kedua,  jalur lingkar pesisir, sembari menikmati angin laut, menyisir bibir pantai, dari Kalaki hingga gerbang Kota Tepian Air: Kota Bima. Sepanjang itu juga dapat dijumpai para penjual jagung bakar dan kelapa muda.

Memasuki Kota Bima, Lawata, dan Amahami, dapat juga dijumpai tongkrongan kopi, penjual jagung bakar, juga kelapa muda. Terkait ini, salah satu utusan Tim Perumus Gerakan Seniman Masuk Sekolah, Provinsi NTB terheran. "Di sepanjang landscape pantai yang luar biasa itu sulit ditemukan penjual ikan, jagung dan kelapa muda," kata Dr. Lalu Ari Irawan. Berbeda dengan penataan pinggir pantai Lowang Baloq, dan Pantai Gading, Kota Mataram. Pantai Pandanan, dan Nipah di Lombok Utara. Semuanya berbaris rapi para penjual ikan. Sebagaimana citra pantai.  Apakah tidak ada budidaya jagung di Lombok? Di jalur lingkar selatan Lombok Barat menuju Bandara terdapat hamparan kebun jagung. Tapi pemerintah pandai mengatur citra penataanya,

Jika bicara spot wisata, landscape Kota Bima  sangat berpotensi destinasi wisata. Di bagian timur pantai, ada taman-taman sepanjang bibir pantai. Di barat, pandangan kita akan diarahkan ke Doro Donggo (bhs Mbojo: Doro; Gunung. Donggo; Nama kecamatan di bagian barat teluk). Hidup pula kekayaan sejarah, demikian juga corak kebudayaannya.

Selain teluk, Kota Bima sebenarnya sangat potensial wisata bukit. Orang Bima terkadang menyebut bukit adalah doro. Doro Raja, tempat beberapa pembesar Bima dimakamkan. Gunung Dua di Raba. Yang ini agak terkenal dengan leluconnya. Doro Bedi, di Kelurahan Bedi, timurnya Paruga Na'e. Bukit Jatiwangi, beberapa tahun belakangan ini dibuka. Masih banyak lagi bukit-bukit yang belum terjamah yang berpotensi distinasi wisata. Singkatnya, Kota Bima kaya dengan bukit-bukit. Di NTB, sulit ditemukan kota dengan landscape bukit-bukit seperti itu. Tapi Kota Bima lebih memilih label Kota Tepian Air dari pada Kota Bukit.

Roh Kebudayaan sebagai Rohnya Kota

 

Beberapa hari yang lalu,  Sabtu, 1/12/18. Pentas seni digelar. Tamu-tamu dari Tim Perumus Gerakan Seniman Masuk Sekolah diundang. Salah satu dari mereka menilai, Kota Bima sangat potensi akan keseniannya. Kalero dari Donggo ikut tampil, memeriahkan malam itu. "Sesaat sunyi, lampu dimatikan, lilin di tangan para penari menyala. Ada juga penampilan yang tidak kalah menariknya. Mereka sangat luar biasa, saya sangat bangga, potensi kesenian anak daerah ini sangat besar dalam membangun NTB," demikian komentar Dr. Lalu Ari Irawan. Komentar positif juga muncul dari Tim Perumus lainya, Lalu Abdurahim. "Melihat semangat kreasi anak-anak di Bima, kita di Lombok juga ingin yang demikian."

 

Namun, potensi pariwisata, tata letak kota, dan  pelaku-pelaku keseniannya masih swadaya. Kendati demikian,  roh kebudayaan tidak total dihadirkan dalam konstruksi pembangunan daerah. Demikian juga konstruksi tata letak kota, belum mampu memaksimalkan ciri kebudayaan lokal. Pembangunan taman Ama Hami, misalnya. Tidak mencirikan konstruksi kebudayaan yang berkarakter kelokalan. 

 

Betapa indahnya Kota Tepian Air ini, taman-taman di pinggir pantai diisi dengan kegiatan-kegiatan kesenian. Namun ekspresi kebudayaan diberbagai aspek pembangunan belum menampakkan rohnya.  Pemerintah perlu menfasilitasi dalam setiap kreasi mereka.

 

Baca Juga :


 

Di sisi lain, sebagian besar destinasi wisata, seperti bukit-bukit, taman-taman kota, baik di pinggir pantai, juga di tengah kota belum maksimal dengan narasinya. Jika dibandingkan dengan Kota Mataram, Kota Bima sebetulnya jauh lebih unggul dari segi landscape. Tapi Kota Bima harus belajar dari kemampuan Kota Mataram, meng-cover destinasi wisata dengan narasi sejarah, dan filosofi kebudayaan yang luhur.

 

Kota Bima juga harus belajar dari Lombok Tengah. Setiap awal tahun, pantai selatan dari kabupaten bermotto Tatas, Tuhu, Trasna ini ramai dikunjungi wisatawan. Tentu saja kemaraian ini diperkuat oleh narasi Putri Mandalika yang menjelma jadi Nyale. 

 

Kota Bima perlu menggali narasi-narasinya sendiri. Ketika narasi-narasi ini terbangun, saat itulah para tour guide berperan.  Di Kota itu tidak dikatakan pariwisatanya tidak maju, tidak juga mengatakan perhatian pemerintah mendesainya kurang progres. Namun, pariwisata yang memanfaatkan nilai kelolakan jarang ditemukan.

 

Terlepas dari strategi pembangunan kota tersebut, terlebih dahulu tuntutan pemimpin bervisi kebudayaan, harus dipenuhi di tanah itu. Penafsiran visi melalui program-program harus memberi ruang kebudayaan untuk mewarnai setiap pembangunan, baik itu membangun yang dikelola maupun yang mengelola.

 

Semuanya bernapas kebudayaan melalui nilai, norma, ekspresi hingga institusi. Napas Islam tentunya, sebagaimana Islam itu berdiri kuat di masa silam. Bima juga harus punya pusat gerbang kebudayaan. Sebagai poros kekuatan dalam rangka mempertimbangkan setiap kebudayaan baru, yang mencoba melakukan expansi di Dana Maja Labo Dahu ini. Sebagaimana pula kekuatan Bima masa kesultanan: memblokir corak kebudayaan yang bertentangan dengan nilai Islam di masa penjajahan, dan menghapus pemahaman men-Tuhan-kan benda, dan membendakan Tuhan.

 

Kearifan-kearifan agama harus diterjemahkan ke dalam sistem nilai melalui pengelolaan sejarah, kebudayaan dan peradabannya. Di Kota Bima, kebutuhan akam pemimpin yang bervisi kebudayaan sangat utama, saat ini. Dengan begitu, ekonomi dan kearifan akan berjalan seirama, berkeadaban, dan berkemajuan.



 
KM Bolo

KM Bolo

Koordinator: SURYADIN Alamat : Jl. Lintas Sumbawa No.53 Desa Rasabou Kecamatan Bolo Kabupaten Bima Prov. NTB Admin: Agus Setiawan (082339467728) email:kmbolo@ymail.com Kontak Person: 085-25332-3535 ANGGOTA: Didin, Buhari, Rahmi, Can

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan