logoblog

Cari

Tutup Iklan

Caleg Mileneal, Pemahaman Tradisional

Caleg Mileneal, Pemahaman Tradisional

Suhu makin panas bukan karena trik matahari namun karena gerah para pengejar kursi perwakilan rakyat. Mereka adalah wakil rakyat yang dipertuan

Opini/Artikel

Efoel Avicenna
Oleh Efoel Avicenna
29 November, 2018 20:41:58
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 510 Kali

Suhu makin panas bukan karena trik matahari namun karena gerah para pengejar kursi perwakilan rakyat. Mereka adalah wakil rakyat yang dipertuan agungkan makanya disebut sebagai Dewan. Saya, Anda, dan mungkin bersama para penghayat demokrasi lainnya di Nusantara ini, kerap tertawa sendiri, kadang kita dibuat terpingkal geli dan terbahak keras namun sejenak tawa itu lalu terdiam bersamaan dengan pandangan kosong namun otak terus saja liar berfikir.

Bangsa ini dengan masyarakatnya yang berjibun tapi tetap harus diakui masih tetap mempunyai selera humor yang tinggi itu kenapa di indonesia ini banyak yang berprofesi sebagai pelawak karena banyak sekali bahan lawakan yang jadi bahan candaan kadang menukik kadang juga membuat semua artinya miring. Selera humor yang tinggi ini karena katak dalam tempurung para politikus yang saya rasa kurang piknik sehingga semua pada rusuh dan tegang.
Oknum-oknum tempurung ini ingin mengelola kantong-kantong negeri, mungkin kalau hanya sekedar unsur elit politik kita tidak akan melongo keheranan tapi coba dihitung dan dilihat mereka, mereka dari kalangan elit agama (tuan Guru, Ustazd), eli budaya, elit ekonomi, pensiunan (PNS, TNI, Polri), wartawan, para akademisi, novelis, pelawak dan masih banyak unsur lainnya yang tiba-tiba mereka menjelma menjadi orang yang serius kehilngan selera humor mereka maka tugas tertawa ini dibebankan ke rakyat. 

Pembebanan selera humor ke rakyat ini dibarengi dengan ketersinggungan mereka sebagai orang yang kehilangan selera humornya jadi mereka berganti posisi hanya menjadi tukang marah-marah, protes-protes aturan, ancam-ancam giliran masyarakat yang mengatakan ayok ngopi bro biar selera humornya kembali.

Kontestasi 2019 yang harus membuat mereka menjadi orang-orang yang selera humornya kurang, kadang bukan hanya selera humornya yang hilang namun sampai otaknya yang selalu berfikir miring kepada teman bahkan saudara kandung sendiri sambil yakin dan santai mereka “berkata inilah politik bro”, pengetahuan pas-pasan mereka meyakinkan diri dalam kebingungan. Hal semacam ini sampai kepada ilmuwan dan akademisi terus mencocok-cocokan diri menjadi cendikiawan menara gading dengan tingkat kepusingan ilmiah paling memuakkan. Sehingga pencocokan diri dengan tanpa parameter yang jelas ahirnya mereka sama dengan politikus, mereka kerap bicara yang mereka sendiri tidak mengerti dan orang lain tidak paham. Tiba-tiba jangkauan pengelihatannya hanya sampai pada kue itu saja sehingga mereka kerumuni.

Memang, mereka ini sangat kreatif, pada saat yang sama paling senang membual dan aneh-aneh, bahkan sampai tingkat paling absurd dan konyol. Persis ketika melihat anak kecil yang kita ingin lihat bahagia dengan segala cara berjoget, menyanyikan lagu yang tidak jelas tanda dan tangga nadanya apalagi sy’irnya atau bahkan bahasa yang sulit dijangkau dan tidak pernah mampu akan digapai. Tapi tujuannya satu hanya ingin membuat sang bayi tertawa terpingkal.

Begitulah kira-kira fenomena yang terjadi saat ini dalam alam demokrasi, ksering kita menemukan para kontestan baru yang kerjaannya hanya protes-protes, marah-marah, ancam-ancam yang kemudian tidak jelas visi dan misi menjadi Dewan yang akan mewakili rakyat. Mereka hanya datang untuk menebar konsep yang sendiri tidak tahu besok rimba aturan seperti apa. Keecenderungan berfikir dan bekerja secara tradisional yang mereka andalkan tanpa mampu melihat ruang-ruang perubahan. Kalau sekedar konsep atau dia mau ngapain setelah naik atau duduk dikursi Dewan itu terlalu jauh. Ukuran sederhananya saja tahapan kampanye yang sedang berjalan, memang pemilu tahun 2014 dengan pemilu tahun 2019 sangat jauh berbeda baik dari segi pengaturan alat peraga kampanye, bahan kampanye maupun, maupun cara kampanye lainnya. Pemilu tahun 2014 misalnya undang-undang pemilu menyebut para kontestan sebagai peserta pemilu yang kemudian disaign alat peraga kampanye dan bahan kampnaye tidak semikian diatur namun pemilu ini terkait tentang alat peragakampanye atau bahan kampanye sudah diatur sedemikian rupa. Hal ini bisa dilihat di Undang-Undang & Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum dan Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) 23 dan 33 tentang kampanye. 

Perubahan aturan ini ternyata tidak dibarengi dengan berubahnya pengetahuan para kontestan, ketidak pahaman ini kemudian melahirkan bahsa yang tidak seharusnya keluar dari mereka selaku kontestan, bahsa yang keluar adalah “kalau dulu tidak ada aturan itu, kenapa baru sekrang dikasi tahu, kenapa aturannya ribet banget dan bahasa-bahasa yang kalau dinilai tidak cocok keluar dari para kontestan”. Siap berkontestasi maka harus tau dong aturan main dalam kontes yang diikuti, menjadi sesuatu hal yang aneh kalau seorang kontestan tidak tahu aturan maen yang diikuti. Caleg mileneal rasa tradisioinal begitulah kira-kira bahsa yang tepat digambarkan, hidup dizaman yang sangat cepat perkembangan namun masih saja mereka melakukan hal-hal yang sifatnya tradisional, cara-cara tradisional pun mereka tidak faham apa dan bagaimna untuk mewujudkannya. 

 

Baca Juga :


Saya ingin meminjam ajakan seorang dosen filsafat yang sering saya sebut dengan sebutan Gus Dhofir, ajakannya seperti ini “Nah, kalau Anda (khususnya para pria, termasuk yang tuna asmara dan tuna pustaka) ingin merasakan sensasi hamil muda, tontonlah berita politik, ikuti dagelan-dagelan kelas coro para politikus gemblung niretika, lalu tekuni infotainment dengan khusyuk, lalu berselancarlah di dunia maya, lalu datanglah ke kampus, lalu ke terminal, lalu ke pasar-pasar, seberapa banyak di antara mereka yang cuti nalar dan libur moral? Berapa persen di antara meraka yang membuat Anda mual-mual? Adakah yang bukan kepalsuan dari itu semua? Sekrang masihkah mereka bekerja untuk mewakili aspirasi mu?

Lebih lanjut ya mengatakan "Perlu diketahui bahwa tidak ada satu pun dari pembangunan yang tidak ditulangpunggungi oleh kepentingan politis dan hasrat untuk berkuasa. Kerajaan-kerajaan adidaya semacam Majapahit runtuh oleh karena banyaknya tempurung jahat bermental penjilat yang  berebut kuasa dengan perang saudara, bahkan tak kurang dari 127 keturunan Brawijaya V sendiri yang berambisi menjadi raja, belum lagi serbuan Portugis dan bencana alam. Ritme aristokrasinya masih cenderung sama, pola hegemoninya nyaris sama, motif (neo)paternalistiknya juga sama, birokrasi (neo)patrimonialnya juga begitu-begitu saja, klasik, hanya bungkus saja yang dipercanggih di abad 21 ini. Masihkah Anda percaya ninabobo NKRI harga mati atau bahasa saya ini akan memeprjuangkan hak mu ketika aku naik?".

Dulu Soeharto cuma satu, saat ini semua ingin jadi Soeharto. Dahulu korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) amat sentralistik berdasarkan sistem oligarki berkaki tiga, kini KKN sampai ke level desa dan kampung, bahkan di tempat-tempat ibadah. Tak tanggung-tanggug, sebagian oknum tokoh agama juga ingin menjadi Soeharto dengan tambahan Haji Muhammad di depan namanya. Lalu semua orang kesoeharto-soehartoan, mabuk agama, mabuk politik, mabuk segala kepalsuan. Benarkah masih ada kesadaran kritis dan bukan kesadaran dogmatis pada generasi milenial?

Masihkah Anda percaya ninabobo para Dewan Perwakilan mu? Nah, kalau masih percaya, ada banyak hal yang harus kita sudahi, sebanyak yang kita harus mulai, tentu saja dengan tidak lupa Piknik dan ngopi sambil memelihara selera humor kita.



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan