logoblog

Cari

Kami Baru Mengenal Kami Karena DIA

Kami Baru Mengenal Kami Karena DIA

5 Agustus 2018 Mentari  kembali keperaduannya. Sunyinya malam mulai terasa. Beberapa keluarga masih duduk santai sembari menikmati hangatnya kopi. Remaja masih

Opini/Artikel

Kami Baru Mengenal Kami Karena DIA


Sindi Nopita Agustina
Oleh Sindi Nopita Agustina
22 November, 2018 13:24:00
Opini/Artikel
Komentar: 1
Dibaca: 3400 Kali

5 Agustus 2018

Mentari  kembali keperaduannya. Sunyinya malam mulai terasa. Beberapa keluarga masih duduk santai sembari menikmati hangatnya kopi. Remaja masih sibuk dengan bercekrama dengan gadget dan media sosial. Malam itu tak ada bedanya dengan malam lainnya. Angin malam masih berhembus dengan tenang. Suara kodok bernyanyian dengan penuh cinta.

Jam dinding menunjukan 19.50 Wita, saat umat Muslim harus meninggalkan aktivitasnya untuk bertemu dengan Tuhannya. Tiba-tiba suasana malam berubah secara dratis. Manusia berkerumunan untuk keluar dari rumahnya, sesak tanggis saling bersahutan, bangunan pun tak ingin kalah saing satu sama lain, ia  saling berjatuhan. Malam itu gelap gulita, hanya cahaya kedap kedip smartphone menemani semua orang. Panggilan Masuk dan panggilan keluar saling bergantian, menjadi teratas dicari saat itu.

Allahu Akbar!! Allahu Akbar!!  Allahu Akbar!!

Tolong !!! Tolong !!! Tolong !!

Gempa !! Gempa !! Gempa !!

Pulau Seribu Masjid sekejap berubah nama menjadi seribu tenda. Ribuan manusia meninggalkan rumah tercinta bahkan menjadi saksi sanak keluarga telah tiada. Saat itu semuanya merasakan ketakutan, gelisah bahkan sedih mendalam. Ambulance berselingan membawa korban terluka. Lombok mulai berduka. Ribuan rumah datar dengan tanah, lalu banyak manusia pun harus kembali ke tanah. Dinginnya malam tak ada yang peduli, tidur hanya beralasan rumput pun tak menjadi masalah, rasa haus, rasa lapar mulai tersingkirkan. Derita  itu belum terhenti, saat berbagai penyakit melanda, malaria belum lagi ISPA.  Air bersih pun menjadi penyumbang lara, harus rela membawa ember untuk antri bahkan membentuk ular panjang, yang didapatkan pun hanya seadanya untuk memenuhi kebutuhan saja. Akses jalan pun porak-poranda, harus memiliki keberanian tinggi untuk melewatinya.

Saat dikehidupan biasa mungkin semua orang akan, mengeluh, saling acuh tak acuh, untuk bersilaturahmi antar tetangga saja dianggap membuang waktu. Maka bencana mengabungkan semua menjadi satu, dibalik luka ia mengajarkan kita untuk memperkuat silaturahmi. Saat makan hanya sebungkus nasi harus dibagi berdua, saat segelas air harus diirit mengingat hari esok. Saat dihari biasa kita akan menerobos antrian namun tidak saat bencana rasa empati tumbuh dengan sendirinya, rasa toleransi,  membuang ego pribadi pun mulai terasa. Beberapa pengungsi tak segan untuk mengambil bagian jika saudaranya membangun tenda, bahkan rela berbagi untuk sesama. Belum lagi tetesan air mata dipengusian yang terus mengingat Tuhannya. Zikir, shalawat, suara ngaji saling bersahutan. Pesan di  telepon genggam pun bertebaran bukan lagi dengan hujatan namun ajakan kebaikan. Untuk saling mengingatkan, menuju kepada Sang Pecipta.

Cerita luar biasa dibalik gempa, saat kekuatan 6,4 SR kita dibangunkan untuk  menjalankan kewajiban shalat isya. Dengan gempa berkekuatan 7,0 SR kita terbangun lagi untuk untuk menjalankan shalat subuh. Bagaimana rindunya Tuhan untuk dekat dengan umatnya. Namun umatnya kadang lupa dan terlena dengan dunia. Maka di balik pengungsian timbul rasa untuk berbenah, saat tempat sempit namun tetap mempriotaskan membangun  rumah ibadah sederhana. Saat sakitnya bebatuan menjadi alas untuk sujud namun kewajiban itu tetap dilaksanakan. Sebuah fenomena menjadi sisi lain saat gempa Lombok, bahwa hampir semua bagian NTB merasakan menjadi pengungsi dan korban. Namun pengungsi tersebut masih memikirkan pengungsi lainnya yang lebih terkena dampak bencana. Mereka saling membantu untuk membuat kotak donasi lalu berjejer di pinggir desa untuk mengambil donasi. Menyusuri panasnya terik mentari, keringat menjadi salah satu bukti bahwa sesama  pengungsi pernah berkontribusi. Barisan pemuda pun kembali ke desa masing-masing untuk membangun desanya.

Pelajaran berharga lainnya yang kita dapatkan yaitu sifat ikhlas. Salah satu sifat yang mudah diucapkan namun sulit untuk direalisasikan. Saat gempa ribuan keluarga harus rela kehilangan rumah, maka yang ada hanya hunian sementara. Bentuk bangunannya sama, tidak ada yang membedakan anatara Si Kaya dengan Si Miskin. Saat itulah semuanya harus belajar sifat ikhlas yang luar biasa. Kehilangan orang tercinta pun menjadi salah satu cerita pilu namun keluarga yang ditinggalkan  kembali melemparkan senyum keikhlasan dan berkata “Bahwa dunia hanya sementara”.

 

Baca Juga :


Dibalik itu semua ada pesan menarik didalamnya yaitu kita baru megenal sifat terpendam yang ada pada diri kita, tidak mudah mengeluh, rasa empati dan simpati yang luar biasa, sabar dan ikhas yang menjadi satu padu, lalu bagaimana romantisnya Tuhan menegur dan mengetuk hati manusia untuk kembali kepadaNya. Jika dikehidupan lainnya kita masih engan untuk beribadah maka bencana sebagai pengingat kita, saat silaturahmi hanya sebatas melalui media sosial maka bencana mengabungkan semuanya untuk saling mengenal. Saat ada perbedaan kasta antara Si Kaya dan Si Miskin maka yang ada kini rumah hunian dengan bangunan yang serupa. Saat kita lebih banyak berdiam diri maka saat ini harus bekerja lebih keras lagi untuk mengembalikan kondisi sebelumnya. Tidak heran banyak masyarakat yang saat ini memiliki kreatifitas lebih tinggi pasca gempa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bagaimana Tuhan memaksa dan mengajari dengan caraNya yang indah. Bahwa manusia juga perlu belajar lagi untuk memanusiakan manusia.

Saat rasa tidak mudah pantang menyerah, sabar,  ikhlas, toleransi, lalu empati dan simpati menjadi satu padu dan diterapkan bukan hanya saat terkena bencana namun dikehidupan selanjutnya maka penulis percaya NTB mampu Bangkit.

“ Bencana sebagai pengingat, jangan lupa untuk taat, karena NTB harus bangkit”

“ Mengenal diri sendiri kadang sangat susah, kita membutuhkan perantara dan media, bisa jadi bencana dan keterbatasan menjadi alasan bahwa kita belum mengenal siapa seutuhnya diri kita’

Mataram, 22 November 2018

Sindi Nopita Agustina

#LombaNTBKita



 
Sindi Nopita Agustina

Sindi Nopita Agustina

Sindi Nopita Agustina Mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Menulis bukan sekedar hobby, namun menulis karena untuk menginspirasi Yuks tetap menulis 😀 You can find me on IG :Sindi Nopita Fb : Sindi Nopita

Artikel Terkait

1 KOMENTAR

  1. pariz21

    pariz21

    23 November, 2018

    bagus, selalu ada cerita dan catatan di balik itu semua. semangat karena kita kuat. teruslah berbuat baik sekecil papun itu. terima kasih


 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan