logoblog

Cari

Tutup Iklan

Nilai Akademis Bukan Satu-satunya Penentu Kesuksesan

Nilai Akademis Bukan Satu-satunya Penentu Kesuksesan

Kesuksesan seseorang diraih dengan berbagai cara, salah satunya melalui pendidikan. Tak ayal, pendidikan menjadi hal yang sangat penting bagi masyarakat. Setiap

Opini/Artikel

Putri Arifatul Fajriyah
Oleh Putri Arifatul Fajriyah
09 November, 2018 10:41:10
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 391 Kali

Kesuksesan seseorang diraih dengan berbagai cara, salah satunya melalui pendidikan. Tak ayal, pendidikan menjadi hal yang sangat penting bagi masyarakat. Setiap orang berlomba-lomba memperoleh pendidikan tinggi di berbagai sekolah ternama demi tercapainya kata “sukses”.

Kebanyakan orang mendefinisikan “sukses” dengan berhasilnya seseorang di dunia pendidikan, seperti mendapat nilai akademis tinggi, lulus dengan nilai memuaskan, diterima di tempat kerja yang bergengsi, dan bisa hidup dengan bergelimang harta. Mirisnya, untuk meraih definisi “sukses” tersebut, kebanyakan orang cenderung menuntut anak-anaknya untuk menguasai berbagai bidang akademis tanpa peduli apakah anak tersebut mampu atau tidak pada bidang akademis yang dipelajari.  Bahkan, banyak orang tua yang memaksakan anak-anaknya untuk mendapat nilai akademis tinggi. Jika tidak, anak tersebut akan diberi “sanksi”. Padahal, setiap anak tentu memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing dan memiliki keahlian pada bidang yang berbeda-beda.

Akibat terlalu fokus pada peningkatan nilai akademis anak-anak, para orang tua sering lupa akan adanya pendidikan lain yang tidak kalah penting dan butuh untuk ditingkatkan nilainya setiap saat. Pendidikan tersebut adalah pendidikan moral dan agama.

Pendidikan moral dan agama yang paling dasar sesungguhnya didapatkan dalam kehidupan keluarga dengan orang tua sebagai gurunya. “Jika Ibu adalah madrasah pertama, maka Ayah adalah Kepala Sekolahnya.” Kalimat tersebut mungkin sudah sering terdengar, dan sesungguhnya kalimat itu bukanlah sekedar istilah semata. Orang tua sebagai “guru” pertama bagi setiap anak dapat menjadi penentu akan seperti apa anak tersebut di masa depan.

Sebelum menghadapi dunia luar, orang tua haruslah memberi dasar-dasar nilai moral dan agama yang kuat pada anak-anaknya, agar kelak anak tersebut dapat menjadi pribadi yang “tahu diri” dan selalu sadar bahwa ia bukanlah individu yang bisa sukses tanpa adanya campur tangan Tuhan dan campur tangan orang-orang di sekitarnya.

 

Baca Juga :


Nilai moral dan agama dalam keluarga sangatlah penting. Itulah mengapa banyak pejabat tinggi atau orang-orang dengan kekuasaan tinggi yang setelah meraih kata “sukses” justru berubah menjadi pribadi yang egois, “lupa daratan”, dan banyak menzholimi orang-orang yang dianggap lebih “rendah”. Hal tersebut terjadi karena kurangnya pemahaman terhadap pendidikan moral dan agama dalam dirinya.

Selain itu, pendidikan yang tidak kalah penting adalah pendidikan di masyarakat. Setiap individu akan dihadapkan pada lingkungan yang lebih luas dengan berbagai permasalahan sosial yang terjadi. Di sinilah peran pendidikan masyarakat sangat diperlukan. Pendidikan masyarakat diperoleh dari hasil interaksi individu dengan masyarakat luas. Interaksi tersebut menjadi media penerapan berbagai ilmu yang telah didapatkan seseorang dalam keluarga dan pada setiap jenjang satuan pendidikan. Pola pikir, kepekaan dan keaktifan setiap individu akan sangat terasah ketika “terjun” langsung di masyarakat, karena ilmu yang diperoleh tentunya lebih luas dan mencakup semua bidang kehidupan. Saat di lingkungan masyarakat iniah proses pendewasaan bagi individu akan benar-benar berjalan.

Apabila pendidikan moral, agama, serta pendidikan yang diperoleh di tengah-tengah masyarakat seperti bagaiamana menjadi seorang pemimpin yang bijaksana sedari dini telah mampu diamalkan dengan baik, maka kesuksesan yang diharapkan akan datang dengan lebih mudah. Anak-anak akan terbiasa berperilaku jujur dan bertanggungjawab, sebagaimana ciri-ciri pemimpin dan orang-orang sukses yang sesungguhnya. Saat di dunia akademis, anak-anak yang memiliki dasar nilai moral dan agama yang kuat akan lebih memahami pentingnya belajar, memahami tujuan menuntut ilmu, hingga mengetahui dengan baik bahwa menyontek adalah perbuatan yang tidak baik sehingga anak tersebut tidak akan melakukannya. Memang terdengar sangat klise dan sederhana, namun hal tersebut adalah hal kecil yang akan sangat berdampak pada kebiasaan anak tersebut di masa depan, serta dapat menjadi gambaran jalan seperti apa yang akan anak tersebut pilih untuk meraih kesuksesan. Apakah dengan “menghalalkan” berbagai cara demi mendapat nilai yang bagus, atau dengan belajar tekun sambil menikmati proses yang penuh pelajaran berharga hingga benar-benar mencapai kesuksesan. ()



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan