logoblog

Cari

Tutup Iklan

Pariwisata Usai Gempa

Pariwisata Usai Gempa

Belum terlalu lama bagi kita untuk mengingat kembali gempa besar yang mengguncang Lombok tiga bulan lalu. Gambaran dampak gempa itu begitu

Opini/Artikel

Iin Farliani
Oleh Iin Farliani
05 November, 2018 06:12:41
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 1581 Kali

Belum terlalu lama bagi kita untuk mengingat kembali gempa besar yang mengguncang Lombok tiga bulan lalu. Gambaran dampak gempa itu begitu jelas tergurat dalam ingatan. Cerita-cerita tentangnya terus mengalir seolah peristiwa gempa itu baru terjadi kemarin. Gempa, kehadirannya yang begitu tiba-tiba menyisakan pesona keterkejutan yang tak habis sebab peristiwa tak terduga itu tak hanya meluluhlantakkan bangunan, namun juga memberi guncangan pada kesadaran kita betapa berartinya hari-hari penuh ketenangan yang pernah dilalui. Ketenangan tanpa perlu menaruh curiga pada setiap pertanda yang sekiranya akan memicu gempa. Meski jika diingat sekarang terdengar sangat jenaka tiap kali mati listrik, orang-orang langsung berhamburan dari rumah karena mengira gempa akan datang. Hal itu terlihat kentara sekali saat pemadaman listrik di pusat-pusat perbelanjaan kota Mataram. Orang-orang yang sedang asyik berbelanja tiba-tiba menjadi kasak-kusuk dan siap memasang langkah seribu ketika supermarket mendadak gelap. Teriakan langsung bergema, “gempa!”. Betapa peristiwa gempa menjadi teror di kehidupan sehari-hari dan menciptakan ilusi tiap kali ada sedikit saja hal-hal yang kemunculannya dipercaya menjadi pertanda gempa susulan.

Dampak gempa memiliki rantai yang panjang apabila diurai kembali. Tidak hanya melumpuhkan kenyamanan sehari-hari dimana kita terbiasa nyaman tidur di kamar sendiri kemudian setelah gempa, mulai membiasakan diri beradaptasi tidur dalam satu tenda bersama saudara-saudara kita yang turut menjadi pengungsi. Gempa tentu saja melumpuhkan sektor-sektor besar yang turut menunjang aktivitas ekonomi masyarakat. Tak terkecuali, sektor pariwisata. Pariwisata selalu menjadi bahan perbincangan yang menarik. Di satu sisi masih banyak pertentangan yang datang padanya karena lazimnya pengertian “wisata” sebagai “pusat hiburan” tak luput dari sesuatu yang dapat mencenderai “moral” atau apa yang dipercaya sebagai nilai-nilai luhur oleh masyarakat. Tapi, di sisi lain tak sedikit pula anggota masyarakat bahkan kerabat terdekat kita sendiri yang menggantungkan hidupnya pada geliat pariwisata. Daerah tempat tinggalnya pun menjadi ikon wisata yang maju, tujuan utama relaksasi dari hiruk-pikuk pekerjaan kota menuju apa yang disebut sebagai “surga dunia”, tercetak dalam gambar-gambar eksotik dalam brosur-brosur promosi destinasi.

Lalu langkah apa saja yang sudah diambil oleh pemerintah demi memulihkan kembali pariwisata NTB umumnya dan Lombok khususnya? Berdasarkan pembacaan di surat kabar kita sudah mengetahui beberapa upaya yang dilakukan seperti yang dikutip baru-baru ini dari berita di Lombok Post (25/08/2018) mengenai pertemuan Ketua BPPD (Badan Promosi Pariwisata Daerah) NTB dengan Gubernur NTB membicarakan keberpihakan pemerintah pada sektor Pariwisata. Salah satunya mengupayakan adanya kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition). Kegiatan MICE ini dianggap dapat membantu tujuan dari pemulihan pariwisata itu sendiri yakni soal kepercayaan dari wisatawan bahwa industri pariwisata NTB sudah siap dikunjungi kembali pascagempa.

Kepercayaan dari wisatawan adalah hal yang mutlak sebab “berpelesir” kita tahu adalah kegiatan yang mengutamakan kesenangan. Tidak mungkin orang dapat bersenang-senang apabila masih was-was akan gempa. Pariwisata sebagai industri yang diandalkan perlu menggunakan strategi-strategi pemasaran yang jitu sebagai jalan menuju keterbukaan dan kesiapan daerah-daerah di NTB untuk menghidupkan kembali item wisata yang menjadi ciri khasnya. Tentu tiap daerah di NTB memiliki ciri khas yang sudah tertanam lama di benak wisatawan yang pernah berkunjung seperti daerah Lombok Utara yang terkenal dengan wisata Gili MATRA (Meno, Air, Trawangan). Tetapi, citra Lombok sebagai daerah yang pernah dilanda gempa besar berturut-turut tak akan hilang begitu saja meski setiap sektor daerah sudah membenahi dirinya secara bertahap.

Justru, citra sebagai daerah yang dilanda gempa dapat menjadi nilai lebih. Sebagaimana kita tahu, kegiatan pariwisata mencakup item-item yang secara tidak langsung menampilkan kehidupan kultural suatu masyarakat tertentu seperti jajanan lokal, adat istiadat, peninggalan purbakala, tempat historis, hingga keindahan alam. Dan mereka para wisatawan akan mengadakan semacam laku perbandingan terhadap item-item yang ada dengan budaya asalnya. Bagaimana gempa berpengaruh terhadap kegiatan pariwisata di masyarakat akan menghasilkan proses timbal balik antara upaya masyarakat dalam penanggulangannya dan rasa keingintahuan yang besar dari para wisatawan yang datang berkunjung.

Pemulihan kepercayaan agar semakin banyak wisatawan yang berkunjung ke daerah pascagempa tentu harus dimulai dari pihak-pihak terkait dalam bidang industri pariwisata itu sendiri. Persoalan keamanan yang utama serta sarana berupa akses jalan yang memadai merupakan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses pembenahan sektor pariwisata. Sebelum membangun kepercayaan di kalangan wisatawan, pihak-pihak yang bersinggungan langsung dengan masalah pariwisata perlu pertama-tama membangun kepercayaan di kalangannya sendiri. Harus ada kepercayaan yang saling bersinergi dan komitmen bersama dalam mengupayakan pembangunan kembali bagian-bagian dari sektor pariwisata yang sempat lumpuh pascagempa.

Dengan membangun kepercayaan di kalangan pelaku-pelaku pariwisata, maka upaya itu juga akan menjalar kepada pemulihan kepercayaan di kalangan wisatawan. Lombok telah siap dikunjungi tentunya bersama pembenahan yang terus menerus dilakukan. Wisatawan perlu diyakinkan bahwa tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Upaya pemulihan kepercayaan wisatawan sangat penting dilakukan sebab secara tidak langsung wisatawan dapat berperan sebagai agen promosi. Mereka bisa saja bercerita kepada teman-temannya yang juga berniat ke Lombok tentang apa saja yang mereka temui di sini. Apabila mendapat pelayanan baik, tentunya mereka juga akan menyebarluaskan kesan positif yang diperoleh dan itu dapat menjadi ajang promosi yang komunikatif antar wisatawan.

 

Baca Juga :


Pariwisata adalah sektor yang memiliki peluang sangat besar untuk melibatkan usaha formal maupun informal. Setiap kalangan masyarakat dapat terlibat langsung karena pariwisata menyediakan kesempatan untuk berkreativitas sebesar-besarnya. Masyarakat dapat menuangkan ide-ide kreatifnya dalam bentuk barang dan jasa. Tak bisa dipandang sebelah mata pedagang-pedangan asongan yang menjual aneka kerajinan tangan di setiap pantai Lombok. Mereka dapat meraup untung banyak selama wisatawan berseliweran di sekitarnya. Juga bentuk-bentuk usaha lainnya yang tak lepas dari kehadiran wisatawan dan bagaimana proses timbal balik itu dapat terus berjalan dengan adanya ikatan kepercayaan antara pelaku dan konsumen pariwisata.

Bencana memang meninggalkan duka yang belum usai. Bagaimanapun untuk saat ini, di tengah kondisi ekonomi yang perlahan-lahan membaik, kita tidak ketinggalan menikmati setiap momen sederhana dalam keseharian kita. Tidak peduli meski politisasi bencana masih terjadi dimana-mana, tak ada yang dapat menghalangi kita untuk menghembus napas lega pada setiap kesempatan baik yang diberikan. Tak terkecuali juga untuk berseru lantang, “NTB Bangkit!”

#LombaNTBKita #LombaNtbKita #GeliatPariwisata #GeliatPariwisataPascaGempa

Sumber Gambar: https://www.lombokinfoterbaru.com/wp-content/uploads/2017/05/lombok-info-terbaru-senggigi.jpg

 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan