logoblog

Cari

Tutup Iklan

Jangan Jadikan Aksi Bakar Bendera HTI di Garut Sebagai Pemecah Persaudaraan Sesama Muslim

Jangan Jadikan Aksi Bakar Bendera HTI di Garut Sebagai Pemecah Persaudaraan Sesama Muslim

Pembakaran bendera HT (Hizbut Tahrir) di lapangan Alun-alun Limbangan, Garut Jawa Barat pada pelaksanaan Perayaan Hari Santri Nasional (HSN) ke-3 oleh

Opini/Artikel

Aryo Bimo
Oleh Aryo Bimo
24 Oktober, 2018 10:49:41
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 1836 Kali

Pembakaran bendera HT (Hizbut Tahrir) di lapangan Alun-alun Limbangan, Garut Jawa Barat pada pelaksanaan Perayaan Hari Santri Nasional (HSN) ke-3 oleh oknum anggota Banser menuai polemik ditengah-tengah masyarakat. Beberapa ormas Islam di beberapa provinsi bahkan di NTB juga sudah menyampaikan pernyataan sikap yang mengecam aksi pembakaran tersebut. Terlepas kejadian tersebut dimanfaatkan oleh segelintir oknum untuk komoditas politik dalam momen Pemilu 2019, namun permasalahan tersebut perlu untuk disikapi dengan tenang agar tidak menimbulkan perpecahan terhadap persatuan dan kesatuan bangsa apalagi sampai menimbulkan konflik diantara sesama umat muslim.

Mengutip Al-Quran surat al Hujurat ayat ke 10 yang menyebutkan “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara..”, kita bisa memahami bahwa Siapapun dia, asalkan Mukmin, maka mereka adalah bersaudara. Sebab, dasar ukhuwah (persaudaraan) adalah kesamaan akidah. Ayat ini menghendaki ukhuwah kaum Mukmin harus benar-benar kuat, lebih kuat daripada persaudaraan karena nasab dan lainnya. Oleh karena itu perselisihan yang saat ini terjadi diantara umat muslim harus lah didamaikan. Keutamaan perdamaian dan mendamaikan kedua saudara muslim adalah hak sesama muslim sebagai mana disebutkan dalam lanjutan ayat ke 10 surah Al Hujarat “…karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”.

Atas dasar itulah, perdamaian lebih penting daripada perselisihan. Sebab perselisihan dapat menjadi awal peperangan. Tentunya kita tidak ingin terjadi perang diantara saudara sesama muslim seperti apa yang dialami sudara-saudara kita di Suriah. Kita juga tidak ingin perdamaian, ketenangan dan kenyamanan yang sudah terbangun dengan baik ini hilang berganti dengan ketegangan akibat perang saudara. Oleh karena itu, sepelik apapun perselisihannya, konflik tidak boleh terjadi, terutama di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat pada umumnya dan Kabupaten Lombok Barat pada khususnya. Konflik wajib dihindari karena energi kita akan habis apabila itu terjadi sementara masyarakat di NTB saat ini masih berduka dan tengah berupaya bangkit pasca bencana gempa bumi yang menelan banyak korban jiwa dan harta benda beberapa waktu yang lalu.

Penulis merasa memiliki kewajiban untuk berkontribusi dalam menciptakan perdamaian di Gumi Lombok dan Dana Sumbawa. Oleh karena itu, pernyataan sikap damai yang disampaikan oleh Ketua MUI NTB, Prof Syaiful Muslim kemarin (24/10) di Kantor Kesbangpoldagri NTB perlu untuk disebarluaskan. Pernyataan sikap tersebut turut ditandatangani oleh Danrem 162/WB, Dirintelkam Polda NTB, Plt Ketua PW NU NTB, Sekretaris GP Ansor NTB, tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda. Adapun isi pernyataan sikap tersebut sebagai berikut :

  1. Menghimbau kepada seluruh elemen masyarakat Nusa Tenggara Barat agar tetap menjaga keutuhan, ketentraman dan ketertiban masyarakat dan tidak berbuat hal – hal yang merugikan bagi persatuan dan kesatuan bangsa jika ditemukan indikasi permasalahan yang menganggu persatuan dan kesatuan bangsa.
  2. dalam menghadapi pemilu2019, kita perlu mewujudkan pelaksanaan pemilu yang damai, demokratis dan berintegritas serta tidak menyebarluaskan isu-isu negatid yang dapat merusak nilai persatuan dan kesatuan banga.
  3. Terkait dengan peristiwa pembakaran bendera HT di Garut, Jawa Barat, sepenuhnya diserahkankepada aparat kepolisian untuk melakukan penegakan hukum.
  4. Mengingatkan kembali, bahwa kita masih dalam suasana duka terkait dampak gempa yang terjadi di wilayah Nusa Tenggara Barat. Untuk itu, kita perlu memperkuat semangat kebersamaan sebagai upaya menuju Nusa Tenggara Barat bangkit kembali.
  5. Dihimbau kepada seluruh masyarakat Nusa Tenggara Barat apabila ditemukan indikasi permasalahan serupa agar segera dilaporkan kepada aparat keamanan TNI-POLRI dan dimohon kepada masyarakat untuk tidak main hakim sendiri guna mencegah terjadinya konflik.
  6. Meminta kepada pemerintah daerah dan aparat keamanan untuk meningkatkan kewaspadaan terkait dengan berkembangnya berita hoax dan ujaran kebencian di media sosial yang dapat merusak nilai persatuan dan kesatuan bangsa.

Sebagai penutup, penulis mengingatkan kepada masyarakat NTB bahwa, tahun ini adalah tahun politik sehingga setiap peristiwa seperti pembakaran bendera HTI tersebut dapat dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk membuat kegaduhan sehingga terjadi kekacuan ditengah-tengah masyarakat. Jika itu terjadi, maka tahapan Pemilu 2019 akan terganggu.

 

Baca Juga :


Bahkan bisa saja terhenti karena kegaduhan terus berkembang menjadi konflik SARA yang meluas dan massif. Maka dari itu, agar terhindar dari hal-hal demikian, masyarakat NTB baik yang pro maupun kontra diharapkan tetap tenang dan tidak terpancing provokasi dari salah satu pihak. Mari kita serahkan segala permasalahan di daerah ini kepada aparat kepolisian sebagai penegak hukum. Dengan begitu tidak aksi main hakim sendiri yang dapat memicu terjadinya konflik dapat dihindari.  

Penulis : Aryo Bimo M.Si (Alumnus Kajian Ketahanan Nasional Universitas Indonesia)



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan