logoblog

Cari

Tutup Iklan

Penamu Seakan Kehabisan Tinta

Penamu Seakan Kehabisan Tinta

INDONESIA - Negara kita yang kaya akan segalanya, Mulai dari Kaya Sandang Pangan Papan, Kaya Budaya, Hingga Kaya Hoax. Didalam semua kenyataan itu kami masih

Opini/Artikel

SATARIYA MADAYIN
Oleh SATARIYA MADAYIN
19 Oktober, 2018 14:54:34
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 935 Kali

INDONESIA - Negara kita yang kaya akan segalanya, Mulai dari Kaya Sandang Pangan Papan, Kaya Budaya, Hingga Kaya Hoax. Didalam semua kenyataan itu kami masih sibuk bertanya-tanya, Bagaimana agar panen kami tetap rimbun seperti dulu. Merajuk dari lirik lagu, "Mungkin Tuhan Mulai Bosan" dan kami seolah-olah hanya bertanya pada rumput yang bergoyang.

Dalam kenyataan, Bencana itu silih berganti, Gempa Bumi, Tanah Longsor, dan lain sebaginya sesui keahliannya Mengguncang dan menimbun semua yang ada di dekatnya. Andai wacana itu mengerti jeritan kami, mungkin Ladang da Sawah itu akan tersenyum bahagia. Namun kenyataannya, Pepohonan itu banyak yang tak berbuah.

Wahai Engkau yang disana, jangan kau tutup telingamu dengan omongan, jangan kau genggam kata-kata dengan separuh jari, perhatikanlah bahwa disini ujung penamu kadang kala merintih kehabisan tinta. Perhatikanlah bahwasanya, Buku-Buku itu banyak jenisnya hingga ia mampu merubah pendapat menjadi kenyataan. Tapi jangan kau kira teori itu selalu tepat, sebab dalam kenyataannya Engkau bahkan sama sepertiku yang tidak mampu melukis penomena sawah dan ladang yang indah.

Desa Kami Menangis, Pulau Kami diguncang, banyak keluargaku, keluargamu, keluarga kita semua yang menjadi korban. Jangan kau tambah lagi dengan korban perasaan. Kau ingin agar kami bahagia, namun aku merasa engkau tak percaya, dan mungkin engkau merasa rugi karena kami, engkau merasa lelah mengurus kami.

Benar bahwa aku keras kepala, tapi engkau hanya mendengar keluhan kami lewat media sosial, engkau hanya mengunjungi kami beberapa kali saja. Dan disini, setelah kepergianmu, se-usai penjelasanmu, kami sesak, mengetahui penjelasanmu yang tak sesuai dengan kenyataan.

Betapa aku tidak merangkai kata-kata, seindah gunung itu yang ku lihat dari kejauhan, begitulah kenyataan hidup ini. Jangan heran, jangan tuding aku dengan kata "Bodoh", tapi perhatikanlah apa alasan kami melakukannya.

Tahun silih berganti, kini usiaku semakin bertambah, aku menduga Negeri kita semakin maju, akupun melihat betapa banyaknya sandiwara, dan sayangnya aku juga menerima informasi kepedihan merajalela, Salah Siapa...?, Dosa siapakah itu...?. Kami hanya mampu memohon semoga hari esok lebih baik daripada hari ini.

Kini tak ku dengar lagi nyanyian timangan Ibuku, yang kudengar malah suaranya yang bertanya, Berapakah Uangmu Untuk Kita Beli Pupuk...?. Berapakah Uangmu Untuk Berobat Ayahmu...?. Adakah Uangmu Untuk Sekolah Anakmu...?. Punyakah Engkau Jaminan Kesehatan...?.

Nak, tak guna kau Juara jika engkau tak bisa bertani...!
Nak, tak guna kau bicara jika engkau tak punya uang...!
Nak, tak guna kau memohon jika kau tak punya gelar...!
Nak, tak guna kau berpendapat jika ia tak mengerti...!
Nak, diamlah jika kau dimarahi...!
Nak, menjauhlah jika kau disakiti...!
Nak, ingatlah pesanku, jadilah orang bijak...! Arungilah hidup ini sebagaimana lebah madu yang senantiasa menghimpun madu dan melindungi madunya sebisanya....!

Demikian pesan orang tuaku waktu itu, yang masih selalu ku ingat. Lalu aku berfikir, apa guna kami sekolah jika untuk diperbodoh...? Apa guna kami mengadu jika tak didengar...? Apa guna kami berpendapat jika tak di hiraukan...? Apaguna orang faham jika tak di fungsikan...?.

Ini Negara kita bukan negaramu, Nasi Putih Itu dari Sawah dan Ladang, Sayur Mayur itu, Roti Mentega itu, minuman berkelas itu, seisi Kantor, Hotel berbintang, dari Pondasi hingga atapnya, semua. Jangan ucapkan kata "Aku Lebih Baik dari kamu atau juga mereka...!".

Bencana-bencana itu mungkin peringatan agar kita lebih saling memiliki dan menjaga satu sama lain, agar kita saling mendengar, agar kita saling percaya, saling bahu membahu, bersama bersyukur menyejahterakan Negara ini.

Jika menurutmu aku ini melakukan kesalahan, perhatikanlah semut-semut itu, yang mungkin satu di antaranya telah mati kau injak, padahal mereka bersusah payah mempertahankan hidup, ketahuilah bahwa mereka selalu tolong menolong.

Ingatlah bahwa, Engkau Dari Rakyat, Oleh Rakyat, dan Untuk Rakyat. Bukan untuk dirimu dengan kelompokmu....!

 

Baca Juga :




 

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan