logoblog

Cari

Tutup Iklan

Arsitektur Lokal Tahan Gempa ala Adat Bayan Lombok

Arsitektur Lokal Tahan Gempa ala Adat Bayan Lombok

Saat ini kita sangat ingin dengan segala sesuatu yang berhubungan terkini atau kekininan. Baru adalah merupakan kata-kata yang terkesan bagus dan

Opini/Artikel

Renadi
Oleh Renadi
09 Oktober, 2018 11:53:37
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 3587 Kali

Saat ini kita sangat ingin dengan segala sesuatu yang berhubungan terkini atau kekininan. Baru adalah merupakan kata-kata yang terkesan bagus dan baik, termasuk dalam arsitektur. Sebutan untuk bangunan lama sering kita kenal dengan kuno, makanya ada istilah Masjid Kuno atau Mesigit Kuno, begitu juga dengan rumah yang arsitektur lokal sering kita menyebutnya rumah zaman dulu.

Beberapa ungkapan tersebut sudah membedakan antara yang baru dengan yang lama. Ironisnya, ungkapan terrsebut telah menjadikan kearifan lokal sebagai pengetahuan yang terbelakang, sehingga zaman sekarang ini hampir seluruh masyarakat selalu orientasinya pada arsitektur yang baru.

Oleh pemerintah sendiri sudah membuat standarisasi  rumah yang layak sebagai tempat tinggal, dimana lantainya minimal semen, dindingnya minimal batako, dan atapnya seng. Untuk mencapai rumah masyarakat yang layak huni berdasarkan standar tersebut, sehingga pemerintah juga memprogramkan Rumah Tidak Layak Huni atau masyarakat sering menyebutnya dengan Program Rumah Kumuh yang anggarannya dari pemerintah pusat. Ada juga program dari Pemerintah Daerah, kalo di Lombok Utara ada istilah Jubah.

Di Lombok Utara terdapat beberapa kelompok Masyarakat yang tidak mengambil program tersebut, mereka adalah Masyarakat yang tinggal ditanah adat, yaitu di Kecamatan Kayangan ada sekitar 3 titik, dan Kecamatan Bayan ada sekitar 5 titik. Kecamatan Kayangan terdapat di Desa Gumantar yaitu Dusun Desa Beleq, Sesait, dan Salut. Kecamatan Bayan terdapat di Senaru, Karang Bajo, Sembageq, Semokan, dan Bayan Timur/Timuq Orong.

Pada tulisan ini hanya membahas beberapa titik yang bangunan rumah masyarakatnya masih dengan arsitektur lokal yang tinggal secara kolektif yaitu di Sembageq, Senaru, dan Desa Beleq.

Tahun 2018 ini, telah terjadi gempa besar antara 6,0 SR sampai 7,0 SR. Kejadian gempa besar ini terjadi sekitar 5 kali, dari tanggal 29 juli sampai bulan agustus 2018. Akibat gempa tersebut telah memporak –porandakan Lombok dan juga beberapa wilayah di Pulau Sumbawa.

Khsusus Lombok Utara yang ada di 2 Kecamatan, yaitu Kayangan dan Bayan, ternyata masih ada rumah masyarakat yang utuh, yaitu di Desa Beleq, Sembageq, dan Senaru. Rumah tersebut merupakan arsitektur lokal yang dikenal dengan Rumah Masyarakat Adat Bayan.

 

Baca Juga :


Jika kita melihat dari kejadian alam ini, tentu bisa kita simpulkan, bahwa yang baru atau kekinian terlihat bagus tetapi tidak baik, justru arsitektur lokal yang kita anggap kuno emnjadi tempat tinggal yang baik atau aman.

Setiap orang yang meneliti tentang arsitektur, rata-rata hanya melihat pada sisi ekonomis dan juga kenyamanannya, tetapi mereka tidak melihat pada sisi kemanan terhadap penomena alam yang ada didaerah tersebut. Padahal, arsitektur lokal itu terbentuk melalui banyak tahapan pengalaman yang dialami oleh para orang tua sejak dahulu.

Saat ini, tidak ada lagi orang yang teriak tentang arsitektur lokal itu kumuh, tidak lagi ada yang berbicara tentang arsitektur lokal itu tidak sehat, tidak lagi ada berbicara tentang arsitektur Masyarakat Adat Bayan itu tidak layak huni, karena alam telah menunjukan kesederhanaan yang dibangun oleh Masyarakat Adat merupakan jawaban penomena alam yang rawan dari bencana gempa. Bahkan program rumah kumuh atau rumah tidak layak huni menjadi penyumbang banyaknya korban jiwa di Lombok Utara.

Bangunan lokal yang di Masyarakat Adat Bayan tidak hanya memiliki rumah untuk tahan gempa, tetapi banyak nilai yang terkandung dari setiap arsitektur yang ada. Nilai-nilai yang bisa dilihat adalah hubungan antara manusia dengan alam, hubungan dengan keyakinan (ibadah dan ritual), bahkan hubungan manusia itu sendiri dengan sesama.

Nilai-nilai yang ada akan hilang bersamaan dengan bentuk arsitektur baru yang sudah ditawarkan oleh pemerintah dan juga teknologi baru yang telah mengenyampingkan nilai lokal. []



 
Renadi

Renadi

Pengelola Pendidikan Masyarakat Adat dan Pariwisata Budaya Bayan

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan