logoblog

Cari

Tutup Iklan

Plagiat...? Masak Sih...?

Plagiat...? Masak Sih...?

Akhir—akhir ini saya selalu dimintai kejelasan tentang sebuah postingan youtube yang berjudul “Gara- gara gempa, cewek Lombok ini stress berat tapi

Opini/Artikel

SAPA LOMBOK
Oleh SAPA LOMBOK
30 Agustus, 2018 15:17:07
Opini/Artikel
Komentar: 0
Dibaca: 12767 Kali

Akhir—akhir ini saya selalu dimintai kejelasan tentang sebuah postingan youtube yang berjudul “Gara- gara gempa, cewek Lombok ini stress berat tapi lucu” atau rekaman suara yang tersebar di WhatsApp yang berisi suara wanita sedang meracau tentang kondisi gempa bumi yang mengguncang Lombok sebulan ini, dengan seluruh dampak yang terjadi akibatnya. Audio tersebut menggunakan Bahasa asli suku sasak, sehingga sudah pasti banyak yang akan tidak mengerti, bahkan orang yang sudah lama tinggal di Lombok sekalipun namun bukan asli sasak mendengar celotehan tersebut pun tidak dapat point lucunya.

Suara perempuan tersebut adalah suara saya, Farah B Nurani dan merekamnya bukan untuk tujuan komersil, tujuan untuk dikenal atau tujuan lainnya. Suara itu pertama kali direkam atas permintaan seorang sahabat - Ratna yang sulit memahami dan melafalkan bacaanya atau disebut dengan pronunciation dengan benar atas sebuah tulisan dengan bahasa sasak yang dikirim melalui pesan WhatsApp.

Karena sahabat saya bukan asli Lombok, berinisiatiflah saya untuk membantunya. Mengapa saya rekam? Karena akan sangat kesulitan untuk saya memberinya contoh via chat WhatsApp, misalkan saya menulis frase "bengkel" dengan maksud menunjuk sebuah daerah di Lombok Barat, tentu dia akan berfikir saya memyebut tempat sevice motor. Sejauh ini kita sepakat ya dengan contoh ini?

Lantas dari mana saya dapatkan narasi yang saya rekam tersebut? Narasi itu didapat dari group Wahtsapp. Tidak ada sama sekali informasi mengenai siapa penulis narasi tersebut. Layaknya info broadcast group Whatsapp pada umumnya; anonim. Sama halnya dengan seseorang yang menulis joke, tebakan atau bahkan jebakan yang sering kali di forward, kemudian jadi booming ini just for fun.

Lantas siapa yang menyebar dan membagikannya? Ini zaman digital kawan..! eranya internet addict, social media menjadi kebutuhan utama setelah beras. Cekrek... upload... hempassss. Dan untuk video youtube tersebut, itu bukanlah channel youtube milik saya. Sehingga seluruh keriuhan yang terjadi saya pun tidak tau sama sekali.

Baru setelah dikonfirmasi saya tau pemilik tulisan itu adalah Igor Amtenar. Well, setelah saya melihat seluruh postingannya saya sangat terkesan, namun sangat disayangkan statement tentang plagiat. Sesuai dengan definisi plagiat menurut web resmi perpustakaan UGM (https://goo.gl/fKeeR7) ada beberapa definisi dari berbagai sumber

  1. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan RI Nomor 17 Tahun 2010 dikatakan: “Plagiat adalah perbuatan sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilai untuk suatu karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau seluruh karya dan atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai”
  2. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) disebutkan: “Plagiat adalah pengambilan karangan (pendapat dan sebagainya) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat) sendiri”.

Sedangkan pada case ini saya tidak mengambil nilai, manfaat atau bertujuan komersil untuk hal ini, dan kemudian saya tidak mengklaim narasi tersebut hasil buah pikiran saya dalam rekamannya, karena memang konteks diawal membantu melafalkan narasi tersebut.

 

Baca Juga :


Kemudian dari segi objek plagiat disana dijelaskan adalah sebuah karya ilmiah yang mana menurut Wikipedia definisinya adalah Karya ilmiah (bahasa Inggris: scientific paper)  laporan tertulis dan diterbitkan yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.

Saya sangat mengapresiasi seluruh karya anak bangsa apalagi hasil buah pikiran dari Bang Igor Amtenar yang membahagiakan banyak orang terutama masyarakat Lombok, yang pada saat itu sedang resah akan musibah gempa, tulisannya dapat menjadi trauma healing bagi kami semua, apalagi mengangkat kelokalan. Begitupula dengan saya, semoga dapat meniru konsistensinya dalam menuangkan pikiran.

Nnamun saya lebih menyukai berbagi opini dalam bentuk tulisan artikel di situs resmi seperti kampung media ini, selain karena ini merupakan platform lokal yang sudah sangat banyak menginspirasi banyak orang untuk dapat berbagi kabar di seluruh pelosok NTB bahkan menginspirasi Indonesia (Rudiantara: Indonesia Butuh Kampung Media - Ganjar Pranowo: Ini Ide Brilian... Kampung Media Sudah Menjadi Prestasi NTB Bahkan Indonesia), sehingga saya tidak menuliskan penjelasan ini di facebook atau di social media lainnya karena kampung media lebih bertanggung jawab dalam memilah dan mengupload informasi yang disajikan.

Saya dan seluruh anggota kampung media pastinya akan sangat senang para pembuat karya diuar sana, yang masih menggunakan social media yang tidak bisa kita konfirmasi keabsahan informasinya, mari berbagi inspirasi dan karya disini. Dan ini platform yang satu- satunya produk lokal anak Lombok.

Dengan hastag #LombokBangkit saya mengajak kita semua untuk bangkit dari musibah gempa yang merusak fisik dan bangunan, bangkit dari terpuruknya berita hoax yang merusak mental dan fikiran. Bangkit dari mudahnya saling menyalahkan dan mencaci. Bangkit dari perdebatan yang tidak menambah skill kita. Sehingga dengan penjelasan singkat ini, semoga kita tidak mudah membuat opini menghakimi atas sesuatu yang kita belum tau kebenarannya. Salam dari kampung []



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan